
"Sudah jam satu siang, aku pulang dulu ya kak" Rachel hendak membereskan tas bekalnya.
"Loh kok pulang sih?" Gide protes kepada sang istri.
"Jam makan siangnya sudah selesai, kakak kan harus kembali bekerja" Rachel memang hanya berniat untuk mengantar makan siang saja.
"Tapi kan kau bisa tetap menemaniku di sini sampai sore nanti" Gide menahan Rachel.
"Nanti kalau kakak ditegur bagaimana?" Rachel memicingkan matanya.
"Tidak akan ada yang menegur, kau kan istriku, lagian kau hanya menungguku bekerja, bukan membuat kerusuhan atau kegaduhan" Gide bersikeras.
"Tapi kak,," Rachel ingin mencari alasan lain.
"Plisssss" namun wajah Gide sudah memelas dan berubah menjadi sangat manja.
"Baiklah, tapi kakak harus tetap bekerja yang baik ya" Rachel memberi syarat.
"Iya, siappp" senyum bahagia terpancar di wajah Gide.
"Ya sudah sana lanjutkan pekerjaannya" Rachel mendorong Gide untuk beranjak menuju kursi kerjanya.
"Cium dulu dong" pria itu memajukan bibirnya.
"Cuppp" Sebuah kecupan singkat mendarat di bibir Gide.
"Sudah sana kerja" Rachel mendorong suaminya menjauh.
"Siap nyonya Gideon" Gide kemudian menuju ke meja kerjanya dan mulai melanjutkan pekerjaan yang sempat tertunda.
"Sayang tidurlah dulu kalau kau lelah" Gide menatap sang istri yang setia menemaninya di sofa ruangan kerjanya. Hampir satu jam Rachel hanya duduk diam menunggu sang suami mengerjakan semua pekerjaannya sambil memainkan ponselnya.
"Aku belum mengantuk, ini aku sedang chat dengan Anjali dulu untuk menanyakan tugas kuliah untuk besok" jawabnya sambil menatap layar ponsel.
"Baiklah terserah kau saja kalau begitu" Gide kemudian melanjutkan pekerjaannya yang belum selesai.
Dua jam berlalu, Rachel yang sudah mati gaya akhirnya berkeliling ruangan kerja sang suami dan mengamati setiap detail benda yang ada di sekitarnya.
"Kau sudah jenuh ya?" Gide mengalihkan pandangannya dari layar laptop.
"Sedikit" Rachel tersenyum sangat manis.
__ADS_1
"Kemarilah" Gide menepuk pahanya, memberi kode kepada sang istri agar mendekat.
"Kerjakan dulu tugasmu, kalau sudah selesai baru kau bisa mengerjai aku" Rachel yang sudah paham kode dari suaminya menolak secara halus.
"Aku sudah selesai sayang, makanya lihat kesini biar kau percaya" Gide menggerakkan jari-jarinya memanggil sang istri.
"Benarkah?" Rachel yang penasaran reflek mendekat dan menatap layar laptop.
"Happp" Gide tidak membuang kesempatan emas saat sang istri mendekat, hanya dengan sekali tarikan, Rachel sudah langsung ada dipangkuannya.
"Kak kau licik sekali" Rachel menepuk dada suaminya dengan gemas.
"Licik sama istri sendiri bolehkan?" mengerlingkan mata dengan genit.
"Sudah ah, sana kerja lagi" Rachel hendak berdiri, namun gerakannya terhalang tangan Gide yang melingkar dengan sangat kokoh di pinggangnya.
"Aku sangat merindukanmu sayang" bisik pria tampan itu ditelinga sang istri, membuat yang mendengarkannya meremang.
"Kak, kan tadi sudah, nanti lagi ya?" Rachel berusaha untuk bertindak logis.
"Aku sangat tidak tahan jika berdekatan denganmu sayang" tangan Gide kembali bergerilya di daerah terkenyal.
"Sejak kapan sih kau jadi pria mesum begini?" Rachel benar-benar tidak menyangka jika suaminya kini berubah menjadi seorang pria yang tidak bisa menahan hasratnya sama sekali terhadap sentuhan wanita.
"Kak, nanti ada yang lihat" Rachel menahan.
"Sayang!?" wajah Gide sudah seperti anak kucing yang ingin menyusu pada induknya.
"Kau ini manja sekali sih" Rachel mencubit gemas pipi Gide.
"Jangan di cubit, di cium saja" Gide mengedip-ngedipkan matanya.
"Ck kau ini dasar!" Rachel kemudian mengecup bibir sang suami dengan lembut, yang langsung disambut dengan ciuman yang lebih dalam oleh Gide.
Pagutan demi pagutan berlangsung diantara keduanya. Tangan Gide yang sudah tidak bisa diam pun terus saja bergerilya dibagian tubuh sang istri yang menjadi favoritnya. Namun demikian ia tetap memastikan bahwa pakaian sang istri tetap tertutup rapat, sehingga jika ada orang yang tiba-tiba masuk ke dalam ruangan, orang itu tetap tidak bisa menyaksikan bagian tubuh sang istri yang sudah di klaim hanya menjadi miliknya seorang.
"Gide, bisakah kau mengirimkan file terbaru upssss" Ron masuk secara tiba-tiba.
"Dad" keduanya spontan melepaskan pagutan panasnya, namun demikian Gide tetap menahan sang istri dipangkuannya meskipun Rachel berusaha untuk berdiri.
"Kau ada di sini?" Ron bertanya pada Rachel.
__ADS_1
"Iya, tadi aku mengantarkan makan siang untuk kak Gide" angguk Rachel untuk menghilangkan rasa malu yang masih melandanya karena terpergok berciuman dengan Gide di kantor.
"Jadi kau sudah dari tadi?" Ron tidak percaya.
"Iya dad" angguk Rachel lagi dengan kikuk.
"Kau sudah datang dari tadi dengan membawa bekal makan siang, namun yang kau ingat hanya dia? apa kau tidak menganggap aku lagi hah?" Ron berkacak pinggang berpura-pura marah.
"Dad bukan begitu maksudku, aduhhhh aku benar-benar tidak bermaksud melupakanmu dad" Rachel terserang panik dan langsung berhamburan memeluk Ron.
"Sudah sana, peluk saja dia, tidak usah sok manis dengan dad" Ron memajukan bibirnya.
"Dad jangan marah" Rachel menghujani pipi Ron dengan kecupan sayang.
"Bibirmu itu bau jigongnya Gide, kenapa malah mencium pipiku sebanyak itu?" protes sang daddy.
"Heheheheh maaf dad" Rachel kemudian mengelap pipi daddy nya dengan jari-jarinya.
"Sudah sana kembali kepangkuan suamimu, pastikan bahwa dia tidak direbut wanita lain, layani dia dengan baik ya" Ron kemudian mengelus kepala Rachel dengan penuh kasih sayang.
"Dad tidak marah kan?" Rachel masih khawatir jika Ron benar-benar cemburu.
"Sebenarnya sih iya aku marah, tapi bohong hahahahah" Ron sangat puas bisa mengerjai sang putri. Sesungguhnya ia sudah tau sejak awal dari Ayu bahwa Rachel akan datang ke kantor menemui Gide dan membawakan bekal makan siangnya. Ia juga sudah tau tentang rencana duo R dengan para menantu mengenai Putri.
"Dadddd jahat" kini giliran Rachel yang memajukan bibirnya.
"Sudah sana kembali ke suamimu" ia mendorong sang putri untuk mendekat ke arah Gide.
"Dan kau, jangan lupa kunci pintunya, jangan biarkan orang mengganggu kalian dan melihat kalian sedang enak-enak" Ron menunjuk Gide.
"Iya dad" angguk Gide.
"Lalukan di meja kerja, sensasinya pasti sangat berbeda" Ron memberi nasehat sebelum akhirnya kembali keluar ruangan dan menutupnya dengan rapat untuk memberi ruang bagi anak dan menantunya.
"Ck, bapak macam apa sih daddy ini?" Rachel yang mendengar nasehat sang daddy untuk bermain di atas meja kerja merasa malu sendiri.
"Daddy mertuaku memang paling top" Gide kemudian mengunci pintu ruangannya dari dalam.
"Kak jangan bilang kau mau mempraktekkannya!?" Rachel geli sendiri saat membayangkan adegan tersebut.
"Tentu saja" tanpa banyak bicara Gide langsung menyingkirkan semua benda di meja kerjanya untuk memberi tempat bagi sang istri.
__ADS_1
"Kakkkkkkkk" Rachel benar-benar tidak habis pikir dengan dua pria kesayangannya itu yang berfantasi liar.
Tanpa menunggu lama, Gide pun kemudian menunaikan tugas mulianya sebagai seorang suami sesuai nasehat dari sang ayah mertua. Rachel yang dinasehati untuk melayani suaminya agar tidak direbut wanita lain pun akhirnya melayani sang suami dengan baik.