
"Kau sudah bangun?" Gide tersenyum saat Rachel membuka matanya di pagi hari berikutnya. Sepanjang malam pria tampan itu terus saja berjaga untuk memastikan bahwa Rachel dan bayi mereka baik-baik saja. Ia bahkan sudah mengambil cuti beberapa hari kedepan agar bisa fokus merawat Rachel selama di rumah sakit.
"Apa tidurmu nyenyak?" tanya Gide untuk mencairkan suasana.
"He em" Rachel hanya mengangguk pelan.
"Ini sarapanmu sudah datang, kau makan dulu ya" Gide menunjuk tray makanan pasien yang berada diatas nakas.
"Apa aku belum boleh pulang?" Rachel yang tidak betah berlama-lama menginap di rumah sakit bertanya pada Gide.
"Sabar ya, kita harus menunggu ijin dari dokter dulu" Gide tau jika gadis itu masih dalam suasana hati yang tidak baik.
"Tapi sampai kapan?" Rachel menatap Gide dengan wajah frustasi.
"Sampai kau benar-benar pulih" Gide berusaha menghibur, meskipun ia tau kalau semua itu tidak berarti apapun bagi Rachel.
"Ayo sekarang lebih baik kau makan saja ya, biar aku yang suapin" Gide kemudian menyodorkan sendok ke depan mulut Rachel.
"Aku tidak lapar" Rachel menolak.
"Aku tau kau tidak lapar, tapi kau butuh tenaga untuk cepat sembuh, anak kita juga butuh asupan nutrisi, dia masih terlalu kecil untuk bertahan tanpa bantuan ibunya" Gide menjelaskan.
"Hiks hiks hiks" Rachel kembali menangis ketika mengingat bahwa dirinya sedang hamil.
"Rach" Gide dengan sigap menaruh tray makanan di nakas dan langsung memeluk Rachel yang sedang menangis.
"Kenapa harus aku yang mengalami semua ini?" Rachel meratapi nasibnya.
__ADS_1
"Maafkan aku Rach" Gide begitu merasa bersalah karena telah membuat gadis ini hamil.
"Aku sungguh tidak siap menjadi seorang ibu, ini terlalu cepat bagiku kak" sesungguhnya Rachel sama sekali tidak menyalahkan Gide, karena ia tau kalau mereka berdua sama-sama korban. Ia hanya merasa sedih karena dengan kejadian itu ia kemudian hamil dan harus kehilangan masa mudanya karena terpaksa menikah untuk menutupi aib keluarganya.
"Jangan khawatir, aku janji kalau semuanya akan baik-baik saja. Kau akan tetap bisa menikmati masa mudamu tanpa terganggu oleh kehadiran anak ini, aku yang akan menjaganya menggantikanmu jika kau memang tidak sanggup" Gide memeluk Rachel lebih erat lagi untuk menyalurkan energi positif hingga akhirnya gadis itu benar-benar tenang.
"Ayo, sekarang kau makan ya, katanya mau segera keluar dari rumah sakit!?" Gide membujuk Rachel seperti sedang membujuk anak kecil yang mogok makan.
"Aaaaaaaaa, ayo buka mulutnya lebar-lebar" Gide kembali menyodorkan sendok yang tadi gagal ia suapkan ke dalam mukut Rachel.
Tanpa banyak penolakan Rachel pun memakan menu sarapannya. Meskipun ia tidak berselera sama sekali, namun demi bisa keluar dari rumah sakit lebih cepat, maka ia mengikuti semua yang dinasehatkan oleh Gide.
"Ini obat dan vitaminnya, habiskan ya supaya tubuhmu bisa semakin sehat dan pulih seperti sebelumnya" Pria tampan itu menyodorkan beberapa butir kapsul dan tablet ke mulut Rachel beserta gelas berisi air.
"Terima kasih" Rachel memaksakan tersenyum kepada Gide.
"Iya, sama-sama" jawab Gide sambil membalas senyuman Rachel.
"Ya?" Gide menatap wajah cantik nan sayu itu.
"Aku mau ke toilet" Rachel berusaha menggeser tubuhnya.
"Tunggu" dengan sigap Gide menggendong Rachel.
"Kakak mau apa?" Rachel terkejut ketika Gide sudah berjalan menggendongnya ke arah toilet.
"Tentu saja membantumu, memangnya mau apa lagi?" Gide menjawab santai.
__ADS_1
"Tapi aku bisa berjalan sendiri" Rachel berusaha turun dari gendongan Gide.
"Jangan banyak bergerak" Gide yang sudah diambang pintu kemudian segera membuka knopnya dan mendudukkan Rachel di closet duduk.
"Kakak kenapa masih di situ?" Rachel menatap Gide yang sedang berdiri diambang pintu.
"Tentu saja menunggumu selesai" jawabnya dengan polos.
"Tapi aku kan mau pipis kak" Rachel protes.
"Aku tau, lalu?" Gide bingung.
"Aku mau buka celana" Rachel memegang celananya.
"Ya sudah buka saja, apa perlu aku bantu?" Gide tidak berfikir macam-macam.
"Ya kakak keluar dulu lah!" gadis itu mengusir Gide.
"Kenapa mesti keluar?" Gide masih belum paham.
"Aku kan malu!" Rachel tidak sabaran.
"Kenapa mesti malu? aku kan hanya mau menolongmu saja, lagian aku sudah melihat semuanya kok, bahkan sudah menyentuhmu sampai bagian yang paling dalam sekalipun!" Gide berseloroh santai.
"Ihhhh kakak mesum!" Rachel memekik. Sejenak ia melupakan kesedihannya karena keluguan Gide yang membuatnya naik darah.
"Loh memang fakta kan?" Gide termasuk golong pria lugu.
__ADS_1
"Kakak mau pergi atau tidak? kalau kakak tidak pergi, aku tidak jadi pipis!" Rachel mulai emosi.
"Baiklah, baiklah" meskipun Gide memang tidak berpikiran kotor sama sekali, namun demi menjaga ketenangan, ia pun akhirnya mengalah dan menunggu Rachel diluar hingga selesai.