Cinta Karena Jebakan

Cinta Karena Jebakan
Kegalauan Gide


__ADS_3

"Ayo, kau pulang denganku saja" Gaby mengelus punggung Rachel yang masih terus saja menangisi nasib sialnya.


"Biar aku saja yang mengantarnya pulang, kemarin dia kesini bersamaku, maka pulang pun aku yang harus mengantarnya!" Gide berusaha bertanggung jawab.


"Iya ma Gide benar, karena mereka kemarin berangkat bersama, maka sekarang biarkan Rachel ikut bersama Gide, kita semua mengikuti mereka dari belakang saja" Dimas berkata kepada istrinya.


"Aku setuju, kita jalan beriringan saja bersama-sama sampai nanti tiba di rumah" kata Gamal sambil mengangguk.


"Ya sudah terserah saja" Gaby tidak mau memaksa.


"Ayo Rach" Gide menggandeng tangan Rachel agar masuk ke dalam mobilnya dan kemudian mulai berjalan meninggalkan villa.


"Are you okay?" Gide menatap Rachel yang masih terisak.


"Hey, jangan menangis lagi, percayalah semua akan baik-baik saja" Gide mengelus kepala Rachel dengan lembut.


"Aku takut kak" Rachel berbicara sambil sesenggukan.


"Jangan takut, aku akan selalu ada disisimu, kita akan hadapi ini bersama-sama" pria tampan itu menghapus air mata yang menetes di pipi Rachel.


"Bagaimana kalau aku sampai hamil?" Rachel merasa hidupnya sudah hancur.


"Aku akan mempertanggung jawabkan semuanya, kau jangan khawatir" Gide kembali menghapus air mata yang terus lolos dari mata Rachel.


"Masa mudaku hancur dalam sekejap, aku ingin mati saja!" Rachel benar-benar terguncang.


"Rach, jangan berkata seperti itu, masa depanmu sangat cerah, kau cantik, cerdas dan memiliki segalanya!" Gide menghentikan laju mobilnya.


"Tapi aku sudah tidak suci lagi, mereka semua pasti menganggap aku murahan karena menyerahkan harta paling berharga dalam hidupku dengan begitu mudahnya!" Rachel histeris.


"Ini bukan salahmu Rach, kau hanya korban, aku tau kau sangat menjunjung tinggi nilai kesucian itu, jadi aku yakin semua akan baik-baik saja, percayalah padaku! hemmm?" Gide memeluk Rachel untuk menenangkannya.


"Aku harus bagaimana sekarang?" Rachel membalas pelukan pria yang sudah ia anggap kakak kandungnya itu.

__ADS_1


"Tenangkan dirimu dulu, kau tidak bisa pulang kalau masih histeris seperti ini, Mom dan Dad mu pasti akan curiga jika begini" Gide menepuk punggung Rachel perlahan untuk menyalurkan energi positif.


Sementara itu di luar mobil Gaby, Sera, Dimas dan Gamal berdiri menunggu keduanya dalam diam. Mereka bersepakat memberikan ruang dan waktu bagi keduanya untuk bisa berbicara dari hati-kehati sambil terus mengawasi dari jauh.


"Kami baik-baik saja, ayo kita lanjutkan" Gide yang sudah bisa menenangkan Rachel kemudian membuka kaca mobil dan memberi kode kepada semua anggota keluarga Anderson untuk kembali melajukan mobil mereka.


"Oke" jawab Dimas dan diikuti anggukan oleh Gamal.


Mereka pun kembali menjalankan mobilnya secara beriringan di jalur tepi pantai untuk kembali pulang ke rumah masing-masing.


"Matamu bengkak Rach" Gide menatap wajah Rachel yang sembab karena efek menangis sepanjang malam hingga pagi hari.


"Kalau begitu aku ingin mampir ke rumah kak Gaby dulu untuk mengompresnya" Rachel berkata.


"Baiklah" Gide mengangguk.


Setelah mengirimkan pesan singkat kepada sang pemilik rumah, Rachel dan Gide pun kemudian mampir ke rumah Gaby dan Dimas untuk numpang mengompres mata Rachel yang bengkak, sementara Sera dan Gamal langsung pulang menuju rumah baru mereka.


"Tidak usah kak, aku hanya ingin mengompres mataku saja" Rachel tidak berselera makan.


"Tapi kau belum makan apapun sejak tadi pagi, nanti bisa sakit!" Gaby yang sangat menyayangi adiknya ini sangat khawatir dengan kondisinya yang memprihatinkan.


"Sungguh aku tidak lapar kak" Rachel menggelengkan kepalanya sambil duduk di kursi makan.


"Kalau begitu minum susu hangat saja ya?" Gaby kemudian menyodorkan susu segar yang sudah dihangatkan terlebih dahulu.


"Terima kasih kak" Rachel menerima segelas susu hangat dari Gaby.


"Habiskan ya" Gaby mengelus kepala Rachel.


"Iya" Rachel yang tidak punya banyak energi hanya menjawab singkat dan mengangguk lemah.


Sementara Gide dan Dimas duduk di ruang tamu sambil menunggu Rachel selesai mengompres matanya.

__ADS_1


"Dim, apa tidak sebaiknya aku berkata jujur saja kepada semuanya? aku merasa jadi seorang pecundang jika diam begini tanpa bertanggung jawab!" Gide menunjukkan wajah galaunya.


"Apa kau yakin? lalu bagaimana dengan Rachel? bukankah kita sudah berjanji untuk mendukung keputusannya.


"Iya aku tau kalau Rachel tidak akan setuju jika rahasia ini dibongkar, tapi aku juga tidak bisa diam saja seperti ini, aku merasa menjadi pria pengecut yang kekanak-kanakan!" Gide menghela nafas berat.


"Baiklah, begini saja, besok pagi kita bertemu dengan Ayah Mike, kita ceritakan dulu semuanya kepada Ayah, aku yakin ayah akan cukup bijak menyikapi semua ini. Lagi pula aku bisa pastikan bahwa Ayah sesungguhnya sudah mendapat kabar tentang ini dari para bodyguardnya yang selalu mengawasi gerak-gerik kita semua!" Dimas memberi usul.


"Baiklah, begitu lebih baik, setidaknya ada salah satu orang tua kita yang mengetahui hal ini, jadi aku tidak terlalu merasa berdosa pada Rachel!" Gide kembali menarik nafasnya dengan berat.


"Ayo kak, aku sudah selesai" Rachel yang sudah lebih segar setelah mengompres matanya, kemudian mengajak Gide pulang.


"Kami pulang dulu ya, terima kasih untuk semua bantuannya" Gide berpamitan pada Gaby dan Dimas.


"Kalian istirahatlah supaya lebih segar" kata Gaby sambil tersenyum.


"Terima kasih kak" Rachel memeluk sang kakak.


"Iya sayang, kalau kau butuh sesuatu katakan padaku ya" Gaby membalas pelukan adiknya.


"He em" Rachel mengangguk.


Setelah berpamitan, Gide pun mengantarkan Rachel pulang. Karena semua rumah anggota keluarga Anderson berada pada satu komplek yang sama, maka tidak perlu waktu yang lama untuk keduanya sampai di rumah orang tua Rachel.


"Istirahat ya, jangan berfikir yang aneh-aneh, tidak akan ada yang berubah dari kita, kau masih tetap bisa mengandalkan aku seperti sebelumnya, mengerti?" Gide mengelus pipi Rachel.


"Iya kak, terima kasih" Rachel memaksakan diri untuk tersenyum.


"Masuklah" Gide memberi kode.


"He em" gadis itu keluar dari mobil dan berjalan masuk ke rumah megahnya, meninggalkan Gide sendiri di dalam mobil dengan perasaan yang tidak kalah galaunya dari perasaan Rachel.


"Andaikan saja kau mau, aku siap bertanggung jawab Rach!" Gide berbicara dengan nada yang sangat getir, sesaat sebelum ia mengendarai mobilnya menuju rumah orang tuanya yang hanya beda blok dari rumah Rachel.

__ADS_1


__ADS_2