Cinta Karena Jebakan

Cinta Karena Jebakan
Ulat Sagu


__ADS_3

"Syeba sayang, uhhhh cantiknya anak mama Rach" Rachel yang gemas melihat pipi bakpau Syeba langsung menguyel-uyel bayi mungil itu.


"Bagaimana kondisimu sekarang?" tanya Sera sambil menyerahkan anaknya ke pangkuan Rachel.


"Baik, tidak ada masalah" jawab Rachel masih sambil dengan kesibukannya menggigit gemas pipi Syeba.


"Tidak ada morning sickness?" Gaby juga bertanya.


"Tidak, aman kak" jawabnya sambil menggeleng.


"Aunty Rach sebentar lagi punya baby juga ya?" Diva yang duduk di sebelahnya sambil memegang jari-jari Syeba ikutan bertanya.


"Iya sayang, sebentar lagi Diva punya adik baru lagi, doakan ya supaya adiknya bisa lahir dengan selamat" Rach menjawab dengan penuh harap. Melihat dua keponakan perempuannya yang sangat cantik dan imut membuat Rachel tidak sabar ingin segera melahirkan bayinya.


"Amin" jawab Sera dan Gaby secara serentak.


"Ngomong-ngomong kau tidak ada ngidam ya?" tanya Gaby kembali.


"Sebenarnya sih aku sekarang sedang ingin sekali mencicipi sesuatu kak, tapi aku malas bicara dengan kak Gide, entah kenapa sejak hamil aku jadi sangat sebal dengannya, kalau dia dekat-dekat rasanya bawaanku emosi terus, makanya lebih baik aku tahan saja ngidamnya dari pada harus berbicara dengan dia" Rachel menjelaskan.


"Kasihan kak Gide, pasti dia sangat menderita karena selalu serba salah dimatamu hahahah" Sera antara iba dan juga geli membayangkan kondisi Gide.


"Kenapa kau tidak minta tolong sama yang lain saja? Raf atau Rich misalnya?" Gaby memberi usul.


"Memangnya kau lagi ngidam apa sih?" Sera penasaran.


"Tumis ulat sagu" jawab Rachel dengan santai.


"Wow mantab" Gaby yang seorang chef takjub dengan ngidamnya Rachel yang di luar kebiasaan.


"Memang ada ya makanan seperti itu?" Sera yang baru mendengar merasa aneh.


"Ada, kemarin kakak kelasku habis pulang dari praktek di pedalaman Papua, dia bilang di sana disuguhi menu tumis ulat sagu dengan papeda oleh kepala sukunya, katanya rasanya enak dan gurih, jadi aku sangat penasaran" dengan entengnya Rachel bercerita.


"Kalau begitu ayo kita eksekusi, kau suruh saja Raf dan Rich yang membeli ulatnya, nanti biar aku yang bantu menumisnya" Gaby bersemangat.


"Kakak mau membantuku?" Rachel sangat senang karena ngidamnya bisa tercapai.


"Tentu saja" jawab Gaby dengan tulus.


..........


"What? beli ulat sagu? dimana?" Raf terkejut ketika Rachel memintanya membelikan ulat sagu.


"Kakak tidak mau?" Rachel hampir menangis.

__ADS_1


"Bukan begitu, hanya saja aku geli dengan ulat" Raf berkata jujur.


"Kalau kau?" kini Rachel menatap saudara kembarnya.


"Aku juga sama gelinya" Rich bergidik geli.


"Hiks, hiks, kalian kenapa jahat sih sama anakku!" Rachel yang kecewa akhirnya memutuskan masuk ke dalam kamar.


"Kalian ini bagaimana sih?" Gaby memukul lengan kedua adik laki-lakinya.


"Kak tapi itu sangat geli!" Raf berkilah.


"Aku tidak mau tau, pokoknya kalian harus dapatkan ulatnya, atau kalian tidak usah pulang!" Gaby mengancam.


"Tapi kak?" Rich ingin menolak, namun Gaby keburu pergi menyusul Rachel.


"Awas ya kalau sampai gagal!" Sera menunjukkan tinjunya kepada dua pria tampan itu.


"Ck, kenapa sih ngidamnya aneh-aneh saja!" Rich berdecak kesal.


"Yang menanam saham siapa, yang repot siapa!" Raf mengeluh.


Namun demikian mereka berdua tetap melakukan sesuai dengan apa yang diminta oleh Rachel.


..........


"Apa ini?" Mike menunjuk menu unik itu sambil bergidik.


"Ini adalah tumis ulat sagu, resep mantab dari Papua" Gaby menjelaskan.


"Kenapa bentuknya bikin geli sih?" Ron merinding.


"Aku mau coba kak" Rachel dengan semangat memakannya.


"Apa rasanya?" George yang melihat sang menantu memakannya dengan lahap jadi mual sendiri.


"Enak, papa mau coba?" Rachel menyodorkan seekor ulat sagu dengan menggunakan sendok.


"Tidak terima kasih" George menelan salivanya dengan susah payah.


"Papa menolaknya?" Rachel sedih karena ditolak.


"Eh bukan begitu, tapi papa sudah kenyang" George salah tingkah, membuat Ron dan Mike mengulum senyum.


"Ini kan hanya sesuap, tidak akan bikin kenyang" jawab Rachel sedikit memaksa.

__ADS_1


"Sudah pa, makan saja" Maya melotot, tanda intimidasi.


"Iya, sudah makan saja" Ron ikut-ikutan.


"Baiklah" dengan menahan rasa mual, George akhirnya memakan makhluk kecil itu.


"Bagaimana rasanya pa?" tanya Rachel.


"Enak" George berbohong.


"Kalau begitu ini lagi" Rachel menyodorkan suapan berikutnya.


"Eh!?" George tidak bisa menolak.


"Daddy dan Ayah coba juga ya, ini enak loh!" Rachel bersiap memberikan kepada kedua grandpa yang lain.


"Ayah masih kenyang" Mike menjawab dengan cepat.


"Daddy juga, tadi makannya nambah soalnya" kata Ron berbohong.


"Tidak akan bikin kenyang kok, kan hanya dua suapan, aku saja memakannya meskipun masih kenyang" kini giliran George yang mengulum senyum melihat Ron dan Mike yang kelabakan.


"Ayah satu suapan saja ya?" Mike bernegosiasi.


"Tidak bisa, harus dua" jawab Rachel sambil menggelengkan kepalanya.


"Kenapa memangnya?" Mike masih belum bisa menerima kenyataan.


"Biar adil semua makan dua suap" Rachel berkata dengan bijaksana.


"Sudah yah, jangan banyak bicara, langsung makan saja!" Ananda mengambil sendok dari tangan Rachel dan menyuapi suaminya.


"Nah sekarang giliran Daddy" kini giliran Ayu yang semangat.


"Mommy kok senang banget sih nyiksa Daddy!?" Ron protes.


"Ini demi cucu kita Dad! apa kau tidak menyayangi anak dan cucumu?" Ayu berkacak pinggang.


"Tentu sayang!" Ron menjawab.


"Kalau begitu makanlah dan jangan banyak protes!" Ayu menyuapi suaminya. Tanpa banyak perlawanan Ron pun memakannya.


"Wahhhh ketiga grandpa memang hebat, terima kasih ya" Rachel tersenyum puas.


Sementara ketiga Grandpa terpaksa menahan rasa mualnya karena tidak terbiasa memakan ulat sagu yang unik itu.

__ADS_1


__ADS_2