Cinta Karena Jebakan

Cinta Karena Jebakan
Rencana Tempat Tinggal


__ADS_3

"Jadi kalian akan tinggal di mana setelah ini?" tanya grandma Merlyn kepada Rachel dan Gide saat mereka sekeluarga besar makan malam di rumah utama.


Sejak acara pernikahan kemarin siang, Gide dan Rachel memang belum memutuskan untuk tinggal di mana. Setelah pulang dari menginap di hotel selama satu malam, mereka langsung ke rumah utama karena semua keluarga memang sudah sepakat menginap disana selama beberapa hari untuk melepas lelah setelah persiapan pernikahan mendadak yang cukup menguras energi.


"Aku akan ikut kemana pun Rachel tinggal grandma. Asalkan ia dan anak kami merasa nyaman, maka bagiku itu sama saja" Gide berkata dengan jujur.


"Lalu bagaimana denganmu sendiri?" tanya grandma Merlyn kepada Rachel.


"Entahlah, aku belum tau" Rachel yang masih terlihat murung belum berfikir sejauh itu. Ia tidak punya rencana apapun tentang masa depannya bersama Gide dan anak mereka.


"Aku sudah menyiapkan rumah tinggal untuk mereka berdua sebagai hadiah pernikahan. Letaknya hanya dua rumah dari rumah Sera dan Gamal" jawab Ron yang memang sangat mendukung pernikahan putrinya dengan pria yang sudah ia anggap seperti anak sendiri sejak masih kecil.


"Mereka memang harus belajar untuk hidup mandiri seperti Gaby dan Dimas serta Sera dan Gamal, karena mereka sekarang sudah menikah dan membangun rumah tangga sendiri. Meskipun jarak rumahnya tidak jauh dari kita sebagai orang tua" Mike yang juga memberikan hadiah pernikahan sebuah rumah mewah kepada dua putrinya mendukung tindakan Ron tersebut.


"Meskipun belum ada cinta diantara kalian berdua, tapi grandma yakin bahwa kalian akan bisa hidup dengan bahagia kelak, apa lagi saat ini ada cicitku yang akan membuat kalian berdua menjadi semakin terikat satu sama lain" kata grandma Ruth.


"Iya grandma, kami akan berusaha hidup sebahagia mungkin" Gide mengangguk sambil tersenyum. Meskipun ia merasa bahwa hal itu mungkin akan sangat sulit mengingat belum ada cinta yang tumbuh diantara mereka berdua, namun ia percaya bahwa semua akan baik-baik saja.


Mereka pun kemudian makan malam diselingi dengan obrolan santai seputar kehidupan berumah tangga yang biasanya akan dialami oleh banyak pasangan muda diawal pernikahan mereka. Meskipun Rachel merasa tidak nyaman dengan topik pembicaraan itu, namun Rachel berusaha sebisa mungkin bersikap biasa saja demi menghargai keluarga besarnya.

__ADS_1


..........


"Kau belum tidur?" Gide masuk ke dalam kamar saat Rachel sedang membalas setiap ucapan pernikahan melalui pesan singkat dari teman-temannya yang tidak bisa hadir di hari pernikahannya kemarin.


"Belum" jawab Rachel tanpa menoleh ke arah sang suami.


"Apa mau aku buatkan susu?" Gide yang tidak ingin anaknya kekurangan nutrisi menawarkan diri.


"Tidak usah kak, aku masih kenyang" Rachel menatap Gide sekilas.


"Apa kau butuh sesuatu?" Gide memastikan bahwa Rachel tidak kekurangan satu apapun.


"Tidak kak, terima kasih, kakak tidur saja, aku akan segera tidur jika sudah selesai" Rachel mengangkat ponselnya sebagai kode.


"Aku baru membalasi setiao ucapan selamat dari teman-temanku yang kemarin tidak bisa hadir" jawab Rachel.


"Ohhhhh" Gide hanya manggut-manggut.


"Kakak kenapa tidak tidur?" Rachel yang penasaran karen Gide malah duduk diam disampingnya menoleh ke arah suaminya itu.

__ADS_1


"Aku akan menunggumu hingga selesai" Gide memang tidak mau tidur sebelum Rachel tidur.


"Aku tidak apa-apa kok kak, kakak tidur duluan saja" Rachel jadi merasa tidak enak hati.


"Tidak apa-apa, toh aku memang biasa tidur malam kok" kata Gide jujur.


"Ya sudah terserah" Rachel akhirnya menyerah.


"Oya, kakak memangnya tidak dapat ucapan selamat dari pesan singkat seperti aku?" Rachel yang memiliki banyak teman merasa kewalahan membalas semuanya.


"Ada beberapa, tapi sudah aku balasi semuanya sejak tadi pagi" Gide yang memang tidak memiliki aktivitas apapun sejak hari pernikahannya kemarin memang memiliki waktu luang yang cukup banyak untuk membalas langsung setiap pesan yang masuk. Sementara Rachel yang sejak kemarin hati dan perasaanya masih kacau, baru sempat membalas semuanya sekarang saat moodnya sudah agak lebih baik.


"Oya, masalah pertanyaan grandma tadi, jadinya kau mau tinggal dimana nanti setelah kita tidak tinggal di sini lagi? tanya Gide saat Rachel sudah meletakkan ponselnya di nakas setelah semuanya selesai.


"Kita pulang ke rumah yang diberikan Dad saja" jawab Rachel sambil merebahkan dirinya.


"Apa kau yakin?" tanya Gide.


"Iya" Rachel mengangguk.

__ADS_1


"Baiklah, kalau begitu terserah kau saja" Gide kemudian merapikan selimut Rachel hingga menutupi dadanya.


Meskipun merasa berat meninggalkan rumah orang tuanya, namun bagi Rachel saat ini hidup berdua dengan Gide memang lebih baik. Selain ia bisa menghindari rasa sakit hati kepada sang saudara kembar yang telah membuat hidupnya berantakan seperti saat ini, ia pun bisa menghindari intervensi kedua orang tuanya atas sikapnya sebagai seorang istri yang mungkin saja nanti tidak sesuai dengan sikap dan tanggung jawab para istri kebanyakan kepada suaminya di luar sana.


__ADS_2