
"Jadi senin besok kau sudah mulai kuliah Rach?" tanya Ron kepada putrinya saat mereka sedang makan malam berempat di rumah.
"Iya Dad, akan ada orientasi untuk mahasiswa baru dulu selama beberapa waktu ke depan, jadi mungkin kuliahnya baru benar-benar akan aktif bulan depan" jawab Rachel disela-sela kegiatan makannya.
"Ngomong-ngomong kenapa tiba-tiba kau ingin jadi dokter hewan? kan itu jauh sekali dari cita-cita awalmu?" tanya Ron yang pura-pura tidak tau, padahal sesungguhnya Ron sudah mendengar dari sang istri bahwa Gide lah yang sudah berjasa membantu putrinya mencari tau tentang minat dan bakatnya itu.
"Kak Gide yang membantuku, katanya karena aku suka memelihara binatang, jadi aku bisa menjadi dokter hewan" jawab Rachel dengan santai.
"Hemmmm begitu toh" Ron manggut-manggut.
"Apa kau sudah berterima kasih pada Gide?" Ayu bertanya.
"Sudah, aku juga sudah mentraktir kak Gide makan dan nonton karena sudah menjadi mentor yang baik bagiku" gadis itu mengangguk.
"Bagus, sudah seharusnya kau mengucapkan terima kasih padanya karena dia sudah membantumu" bagi Ayu ucapan terima kasih saat kita ditolong oleh seseorang adalah hal yang wajib dilakukan.
"Kau memang harus belajar banyak padanya, dia itu anak yang cerdas, sama seperti kakaknya Gamal" Ron memuji Gide.
"Iya yah" Rachel kembali mengangguk.
Pada dasarnya Rachel adalah anak yang penurut, ia jarang sekali membantah perkataan kedua orang tuanya. Biasanya ia hanya akan mempertahankan argumennya jika ia memang merasa bahwa itu benar atau ia merasa itu sesuai dengan jati dirinya, seperti saat kemarin ia memilih untuk menjadi seorang dancer, namun setelah Sera dan Gide menasehatinya, ia pun akhirnya bisa menerimanya.
..........
__ADS_1
"Rachel!" seseorang berteriak saat melihat Rachel berjalan menuju ruang pendaftaran ulang mahasiswa baru.
"Anjali?" Rachel melihat teman SMP nya berdiri di dalam barisan.
"Kau kuliah di sini juga?" gadis keturunan India itu bertanya kepada Rachel.
"Iya, aku ambil jurusan kedokteran hewan" kata Rachel.
"Wah kita satu jurusan dong kalau begitu!" Anjali merasa bahagia.
"Wahhh akhirnya aku kenal dengan seseorang disini!" kata Rachel yang memang sama sekali tidak mengenal siapapun di kampus barunya itu.
"Ayo sini baris denganku" Anjali menarik Rachel berdiri di belakangnya yang masih kosong.
"Akhirnya selesai juga ini pendaftarannya" kata Rachel.
"Iya, penuh sekali seperti antri sembako saja huffff" Anjali menghela nafasnya.
"Ayo kita masuk kelas" Rachel menggandeng tangan Anjali dan berjalan menuju kelas.
"Kau mau duduk dimana?" tanya Rachel pada Anjali.
"Disitu saja yuk" Anjali mengajak Rachel duduk dibarisan tengah.
__ADS_1
"Oke" Rachel langsung duduk di sebelah kursi yang di duduki oleh Anjali.
Tidak perlu menunggu lama kelaspun sudah langsung penuh oleh mahasiswa baru.
"Selamat pagi semuanya, perkenalkan saya adalah Jonathan, saya mahasiswa tingkat tiga yang akan membantu kalian selama masa orientasi ini, jadi bila ada pertanyaan silahkan cari saya di ruang mahasiswa ya" seorang pria muda dan tampan memperkenalkan dirinya kepada seluruh mahasiswa baru.
"Untuk jadwal orientasi hari ini adalah kata sambutan dari Rektor dan juga Dekan. Setelah itu akan ada juga pengenalan badan eksekutif mahasiswa serta beberapa kegiatan ekstra kurikulernya" imbuh Jonathan.
"Rach, kakak kelas kita itu tampan ya" Anjali yang memang terkenal genit dari jaman SMP itu berkata kepada Rachel.
"Ih kau ini dasar, belum berubah ya sejak dulu" Rachel hanya terkekeh geli melihat Anjali yang tidak pernah bisa diam bila melihat pria tampan nganggur.
"Kalian berdua, apa ada yang ingin ditanyakan?" Jonathan yang mendengar keduanya mengobrol bertanya untuk menegur secara halus.
"Dia mau tanya kak" Rachel langsung menunjuk Anjali, membuat yang ditunjuk gelagapan.
"Ya ada apa?" Jonathan menatap Anjali.
"Eh enggak kak, gak jadi sudah terjawab kok sama dia" Anjali salah tingkah sementara Rachel tersenyum jahil.
"Awas kau ya Rach!" Anjali mengancam dengan bibirnya yang berbicara tanpa suara membuat Rachel terkikik geli.
Sementara Jonathan yang melihat interaksi keduanya menjadi tertarik dengan sikap Rachel yang begitu spontan dan tidak ada takutnya sama sekali.
__ADS_1