
"Ayo" Gide menggandeng tangan Rachel setelah mereka keluar dari mobil dan berjalan menuju pintu masuk mall.
"Kita jadinya mau kemana?" Rachel yang menyerahkan pilihannya pada Gide bertanya.
"Nonton dulu" Gide mengarahkan langkah mereka ke lantai atas dimana theater berada.
"Oke" meskipun tidak suka dengan pilihan genre yang ingin ditonton oleh Gide, namun Rachel tetap berusaha menerimanya.
"Kenapa judulnya aneh sekali sih?" Rachel menatap film yang ingin ditonton oleh Gide.
"Namanya juga film, kan semakin aneh semakin bikin penasaran" kata Gide dengan asal.
"Hemmmm begitukah?" Rachel mencebikkan bibirnya.
"Tentu saja" Gide mengangguk untuk meyakinkan Rachel, padahal sesungguhnya dia tidak begitu berminat dengan filmnya, ia hanya ingin melihat reaksi Rachel saat nanti gadis itu menyaksikan adegan-adegan horornya di film tersebut.
"Ayo" Gide kemudian menarik lembut tangan Rachel yang digenggamnya itu menuju pintu theater.
"Ahhhhhh" belum lima menit film diputar, Rachel sudah mulai histeris melihat seorang wanita dengan tampilan menyeramkan.
"Kak, aku takut" Rachel menarik tangan Gide untuk menutupi wajahnya.
"Ck, kau ini katanya sudah besar, tapi nonton beginian saja teriak-teriak tidak jelas" Gide tersenyum geli melihat ekspresi Rachel.
"Bukannya tidak jelas, tapi itu memang sangat menakutkan" Rachel kesal dengan celetukan Gide.
"Itu kan hanya bohongan" Gide Masih menyunggingkan senyumnya.
"Sudah ah aku mau tidur saja, kakak nonton sendiri ya, nanti kalau sudah selesai tolong bangunkan aku" kata Rachel yang memang tidak minat sama sekali.
"Ya sudah sini" Gide menarik kepala Rachel untuk mendarat di bahunya lalu merangkulnya.
Tanpa menunggu lama, Rachel pun langsung tertidur dengan lelap di bahu Gide.
"Dasar, nempel langsung molor" Gide mengelus dengan lembut rambut Rachel yang tergerai indah.
..........
__ADS_1
"Rach, ayo bangun, filmnya sudah habis" Gide membangunkan Rachel yang tertidur dengan pulas di bahunya.
"Emmmmmhhhhh" Rachel menggeliat untuk meregangkan badannya.
"Ayo kita makan" Gide mengelus kepala Rachel.
"He em" Rachel yang masih mengantuk hanya mengangguk saja.
"Lewat sini" Gide menuntun Rachel menuju restoran yang dia pilih.
"Pelan-pelan kak jalannya" Rachel masih belum sadar seratus persen.
"Ayo kesini" Gide menunjuk pintu masuk restoran dengan tangannya yang tidak menggandeng Rachel.
"Kau mau pesan apa?" Gide bertanya kepada Rachel.
"Apa saja" Gadis itu masih merasa lemas karena habis bangun tidur.
"Ini dua porsi ya" Gide memesan menu yang berbentuk paket sudah lengkap dengan minumnya.
"Silahkan ditunggu sebentar" kata sang pelayan.
"Apa tadi filmnya seru?" Rachel kemudian bertanya kepada Gide karena penasaran dengan jalan ceritanya.
"Lumayan" Gide berbohong, karena tadi dia sesungguhnya lebih sibuk mengamati Rachel yang tertidur dengan pose yang menurutnya sangat lucu dan menggemaskan.
"Memangnya kakak tidak takut dengan adegan seramnya?" Rachel menatap Gide yang duduk di depannya.
"Tidak" Gide sok cool.
"Masa?" Rachel seperti tidak yakin.
"Apa tadi kau mendengar aku berteriak? atau bergerak spontan karena terkejut?" tanya Gide.
"Tidak sih" Rachel menggeleng.
"Nah, berarti aku biasa saja kan?" Gide berusaha meyakinkan Rachel.
__ADS_1
"Iya juga sih" akhirnya Rachel manggut-manggut.
"Permisi, ini makanannya" sang pelayan menata makanannya di atas meja.
"Apa ada lagi yang bisa saya bantu?" tanya sang pelayan setelah semuanya tersaji.
"Tidak terima kasih" Gide tersenyum.
"Kalau begitu selamat menikmati" kata sang pelayan.
"Terima kasih" Rachel kembali bersikap ramah.
"Ayo makan" Gide kemudian menyendok makanannya.
"Iya" Rachel mulai menyuap.
"Kau mau mencicipi punyaku yang ini tidak?" Gide menyodorkan makanannya yang sudah diberi banyak sambal.
"Tidak ah, pasti pedas sekali" Rachel yang sangat tidak suka pedas menggelengkan kepala ya.
"Coba sedikit saja, ini enak loh, ayo buka mulutnya aaaaaaaaa" Gide menyodorkan sendoknya ke arah Rachel.
"Ahhhh pedasssss!" Rachel langsung mencari air minum.
"Masa sih?" Gide merasa tidak pedas sama sekali.
"Itu kan menurut kakak!" wajah Rachel langsung merah padam.
"Ini minum punyaku" kata Gide ketika Rachel sudah menghabiskan minumnya.
"Wahhhhhh benar-benar kakak mau menyiksaku ya?" Rachel geleng-geleng kepala saking pedasnya.
"Maaf, maaf, aku tidak sengaja" Gide tidak menyangka kalau Rachel ternyata sangat sensitif terhadap rasa pedas.
"Huhhhhh aku jadi kembung" Rachel menggerutu dan memajukan bibirnya.
"Maaf ya, aku sungguh tidak menyangka" Gide mengelus kepala Rachel dengan sangat lembut karena benar-benar merasa bersalah.
__ADS_1
"Tidak apa-apa, aku masih kuat makan kok, lambungku kan ada dua" Rachel kemudian melanjutkan makannya.
"Hahahahaha, dasar kau ini, aku sudah merasa sangat bersalah tapi kau ternyata malah masih bisa melanjutkan makan" Gide kembali dibuat terkejut oleh kelakuan Rachel yang tidak seperti gadis pada umumnya.