Cinta Karena Jebakan

Cinta Karena Jebakan
Terungkap


__ADS_3

"Ayo sayang" setelah menyelesaikan pertempuran di atas meja dan membersihkan diri, Gide mengajak sang istri untuk bersiap-siap pulang.


"Memangnya pekerjaanmu sudah selesai?" Rachel yang merasa bahwa kehadirannya membuat Gide tidak produktif hari ini menjadi khawatir.


"Kan sudah aku bilang dari tadi kalau aku sudah selesai" Gide menarik sang istri dalam pelukannya lagi, sehingga kini mereka berhadap-hadapan tanpa jarak.


"Ohhhh, jadi tadi saat kakak bilang sudah selesai itu benar sudah selesai ya?" Rachel mengira tadi Gide hanya pura-pura saja.


"Tentu saja, lagi pula ini kan sudah lewat waktunya jam pulang kantor, jadi buat apa berlama-lama di sini? kita kan bisa lanjut di rumah lagi ronde berikutnya" Gide mengerlingkan matanya.


"Kakkkk kau itu mesumnya kenapa tidak habis-habis sih?" Rachel memukul dada bidang suaminya dengan gemas.


"Aku bukan mesum, hanya bucin saja" kemudian mengecup bibir Rachel dengan penuh semangat.


"Ayo pulang" sebelum ada yang on fire kembali, Rachel pun memilih mengajak Gide pulang agar tidak terjadi lagi pertempuran sengit diantara mereka.


"Oke, yuk" Gide meraih jari-jari sang istri dan menautkannya di jari-jarinya. Mereka berjalan beriringan menuju lift khusus dewan direksi.


"Selamat sore tuan Gide, nyonya Rachel" Putri yang masih menyelesaikan beberapa pekerjaannya, menjadi sekertaris yang pulang paling akhir hari ini, sementara rekan-rekan sekertarisnya yang lain sudah pada pulang sesaat setelah para direktur mereka pulang, kecuali Gide yang masih sibuk bertempur dengan sang istri.


"Selamat sore, kau masih belum pulang?" Gide menatap jam yang sudah menunjukkan pukul enam sore.


"Sebentar lagi tuan" jawab Putri dengan senyum yang terkembang.


"Apa masih banyak pekerjaan yang belum selesai?" Gide paham bahwa belakangan ini Putri memang lebih sering lembur karena proyek baru keluarga Anderson menuntutnya untuk bekerja lebih keras.


"Ah tidak tuan, jangan khawatir, hanya perlu mengecek beberapa berkas saja sebelum kita meeting besok saat jam makan siang" Putri merasa tidak enak saat melihat ekspresi Rachel yang sudah cemberut karena Gide menaruh perhatian padanya.


"Begitu ya?" Gide manggut-manggut.


"Iya tuan, silahkan anda pulang duluan saja" Putri menatap keduanya secara bergantian.


"Baiklah, kalau begitu kami duluan ya" Gide mengangguk.


"Hati-hati di jalan tuan dan nyonya" Putri menundukkan kepalanya tanda hormat.


"Iya, terima kasih Putri" angguk Gide lagi.


"Ayo sayang" kemudian Gide mengajak Rachel masuk ke dalam lift yang sudah terbuka.


..........

__ADS_1


"Sayang kau kenapa? kok dari tadi diam saja?" Gide menengok ke arah sang istri yang sejak dari lift tadi berubah menjadi pendiam.


"Hey cantik, ada apa?" mengelus pipi Rachel dengan tangan kiri, sementara tangan kanannya sibuk mengendalikan mobil.


"Ck" Rachel menepis tangan Gide.


"Kok begitu sih?" Gide sepertinya mulai paham dengan perubahan sikap sang istri.


Sepanjang jalan Rachel terus saja diam seribu bahasa, sementara Gide berusaha terus membujuknya agar mau bicara, namun tetap gagal.


"Sayang heyyy" Gide berteriak saat Rachel berlari menuju ke dalam rumah, meninggalkan Gide di belakangnya dengan senyum yang terkembang. Bagi Gide sikap diam Rachel adalah kebahagiaan tersendiri untuknya, karena secara tidak sadar Rachel mengakui bahwa dirinya sudah mengklaim Gide adalah miliknya dan cemburu saat ada wanita lain yang mencoba mendekatinya.


"Cinta kenapa sih kau diam begini? apa kau marah padaku?" Gide memeluk Rachel dari belakang saat wanita hamil itu sedang mencari baju ganti di lemari pakaiannya.


"Ck, lepaskan, jangan peluk-peluk!" ketus Rachel.


"Tapi kenapa? aku kan sangat merindukanmu!" Gide merajuk.


"Minta peluk saja sana sama sekertaris kakak!" Rachel memberontak.


"Jadi kau cemburu pada Putri?" Gide tersenyum puas.


"Memangnya kenapa kalau iya?" Rachel berkacak pinggang.


"Jangan geer ya, aku hanya kesal karena kakak terang-terangan berselingkuh di depan aku!" Rachel sudah tidak bisa menyembunyikan lagi rasa cemburunya yang selama ini dia tahan-tahan.


"Sayang, aku mau berkata jujur padamu, kau mau dengar tidak?" Gide memaksa Rachel untuk mendekat.


"Apa? pasti kau mau bilang kalau selama ini memang ada sesuatu diantara kalian kan?" Rachel masih bernada tinggi.


"Iya maaf ya, memang selama ini ada sesuatu yang aku dan Putri sembunyikan darimu" Gide meminta maaf.


"Sudahlah, lepaskan aku" Rachel yang mengetahui dirinya dibohongi oleh sang suami dan Putri benar-benar geram.


"Hey, dengar dulu, ayo sini duduk" Gide kemudian menggiring Rachel duduk di sofa kamar mereka.


"Ck" Rachel hanya berdecak saat melihat Gide melakukan panggilan telpon ke nomor Putri1.


"Halo kak Gide ada apa, kenapa baru menghubungi aku sekarang? menyebalkan sekali!" Suara loudspeaker di sebrang telpon bernama Putri1 sangat familiar di telinga Rachel.


"Kak Raf!?" Rachel memanggil kakak sepupunya sambil menatap sang suami.

__ADS_1


"Rach? kau kah itu?" Raf berbicara dari sebrang, namun sesaat kemudian Gide langsung mematikan ponselnya dan mengubah panggilan menjadi Putri2.


"Halo kakak ipar?" kini suara yang sama familiarnya terdengar dari Putri2.


"Rich!?" Rachel melongo mendengar suara sang saudara kembar.


"Rach?" Rich pun tidak kalah terkejutnya. Namun lagi-lagi sebelum keduanya berbicara lebih lanjut, Gide kembali mematikan panggilannya dan memanggil nomor Putri yang asli.


"Selamat malam tuan?" dengan sopan Putri menjawab panggilannya, namun sejurus kemudian Gide mematikannya.


"Ini apa?" Rachel masih bingung.


"Lihatlah, ini adalah nomor-nomor tadi, Putri1 adalah Raf, Putri2 adalah Rich, Putri yang asli adalah Putri. Jadi sesungguhnya yang selama ini selalu menerorku sepanjang hari adalah Raf dan Rich!" Gide menjelaskan.


"Tapi kenapa?" Rachel meminta penjelasan. Membuat Gide mau tidak mau menceritakan semua rencananya bersama duo R untuk membuatnya cemburu serta membuat hubungan keduanya semakin membaik.


"Jahat, kalian kenapa jahat sekali sih!" Rachel memukul sang suami karena merasa dibohongi oleh semua orang.


"Sayang maafkan aku, aku tau ini salah, tapi aku tidak punya cara lain untuk dapat merebut perhatianmu dan mendapatkan cintamu sayang" Gide memeluk Rachel.


"Tapi kenapa aku selalu dijebak? apa sih salahku? hiks hiks" Rachel mulai menangis, hormon kehamilannya memang membuat Rachel menjadi jauh lebih cengeng.


"Maaf, ini semua aku lakukan hanya demi mendapatkan cintamu" Gide menghapus air mata Rachel.


"Aku terlihat seperti orang bodoh yang mudah dipermainkan" Rachel sesenggukan.


"Maafkan aku sayang, aku tidak bermaksud seperti itu, sungguh!" Gide menunjukkan wajah bersalahnya.


"Jadi sebenarnya kak Putri tidak terlibat sama sekali?" Rachel masih mencerna.


"Dia tau namanya dipakai, tapi dia tidak pernah terlibat secara langsung" jawabnya.


"Apa semua keluarga tau?" Rachel benar-benar merasa bodoh.


"Dimas, Gamal, Gaby dan Sera tau, entah kalau yang lainnya" jawab Gide dengan jujur.


"Tuh kan, jadi ternyata kak Gaby dan Sera sebenarnya tau? pantas saja mereka selalu mengompori aku!" Rachel kesal dengan keduanya.


"Mereka semua tidak salah sayang, akulah penyebab mereka berbuat seperti ini, jadi salahkan aku saja ya, ayo hukumlah aku" Gide menarik tangan Rachel dan memukulkannya ke pipinya sendiri.


"Lepaskan!" Rachel yang merasakan panas ditelapak tangannya akibat memukul Gide langsung menariknya. Meskipun ia marah kepada sang suami, namun ia tetap saja tidak tega bila melihat Gide terluka.

__ADS_1


"Hukum aku, plisss" Gide memohon.


"Tau ah, aku kesal!" Rachel yang kesal lalu meninggalkan sang suami begitu saja, membuat Gide hanya bisa menghela nafasnya dengan berat.


__ADS_2