Cinta Karena Jebakan

Cinta Karena Jebakan
Pingsan


__ADS_3

"Rach kau sudah sehat?" Anjali menyapa Rachel saat dirinya baru tiba di dalam kelas.


"Iya, aku sudah sehat" Rachel berbohong, sesungguhnya ia merasa sangat lemah.


"Tapi kau masih terlihat sangat pucat Rach" Anjali menatap Rachel dengan seksama, ia menduga penyakit Rachel cukup parah karena hampir satu minggu gadis itu ijin tidak masuk kuliah.


"Aku sudah tidak apa-apa kok" Rachel tersenyum untuk menutupi rasa tidak enak yang ia rasakan.


Meskipun tidak percaya seratus persen, tapi Anjali memilih untuk diam dan percaya. Mereka pun melakukan kegiatan perkuliahan seperti biasanya hingga jam istirahat makan siang tiba.


"Kau mau makan apa?" Anjali bertanya kepada Rachel yang sedang merapikan laptopnya.


"Aku mau beli bubur saja" beberapa hari belakangan ini Rachel memang hanya bisa makan bubur tawar saja tanpa campuran apapun.


"Ya sudah ayo kita ke kantin" Anjali kemudian merangkul lengan Rachel agar gadis itu bisa berjalan.


"Terima kasih ya" gadis itu tersenyum karena merasa temannya begitu perhatian.


"Pak bubur ayamnya dua ya" Anjali memesan menu yang sama dengan Rachel demi rasa solidaritas terhadap temannya yang sedang sakit.


"Silahkan" tidak perlu menunggu lama penjual bubur pun sudah langsung menyodorkan pesanan mereka di meja kantin.


"Huekkkkk" Rachel spontan mual karena mencium aroma bumbu dari bubur ayam yang disajikan.


"Rach, kau kenapa?" Anjali panik.


"Ah tidak apa-apa, aku hanya sedikit tidak nyaman dengan aroma bumbunya, tadi aku lupa bilang padamu untuk pesan buburnya saja tanpa isi yang lain" Rachel baru sadar.


"Yah maaf aku tidak tau" Anjali jadi merasa tidak enak hati.


"Eh itu bukan salahmu, kan memang aku yang lupa" Rachel tidak ingin Anjali merasa bersalah.


"Ya sudah aku pesankan lagi saja ya" Anjali hendak beranjak dari kursi.


"Tidak usah, aku makan ini saja tidak apa-apa kok" Rachel ingin mencoba.


"Jangan, nanti kau makin sakit" Anjali menolaknya.


"Tapi ini kan sayang kalau tidak ada yang makan" meskipun Rachel anak orang kaya, namun ia sangat menghargai makanan.


"Biar aku saja yang makan, kau pesan yang baru saja" tiba-tiba seseorang ikut berbicara.


"Kak Jonathan!?" Rachel dan Anjali menyebut nama pria itu secara bersamaan.


"Kau masih sakit ya? wajahmu pucat sekali!" Jonathan menatap intens wajah Rachel.


"Tidak kok kak, aku sudah baikan" Rachel berbohong, ia tidak mau kalau Jonathan terlalu menaruh perhatian padanya.


"Oya, aku pesan buburnya lagi ya" Anjali memotong pembicaraan keduanya.


"Terima kasih Anjali" kata Rachel.

__ADS_1


Dengan segala rasa tidak nyaman, Rachel terpaksa menghabiskan buburnya. Aroma makanan di kantin yang campur aduk membuat gejolak untuk memuntahkan makanannya kembali tersulut.


"Huekkk" Rachel kembali hendak memuntahkan isi perutnya.


"Rach apa kau baik-baik saja?" Anjali benar-benar cemas.


"Aku ke toilet dulu ya" Rachel kemudian berdiri.


BRUKKK...


Rachel terjatuh tidak sadarkan diri, membuat semua orang yanh sedang berada di kantin menatapnya.


"Rach, astaga" Anjali berteriak, sementara Jonathan dengan sigap mengangkat Rachel.


"Bawa ke klinik kampus saja" Salah seorang dosen yang kebetulan sedang makan di kantin pun membantu mereka.


Dengan dibantu oleh sang dosen, Rachel akhirnya dibawa ke klinik kampus.


"Bagaimana keadaannya?" tanya sang dosen kepada perawat yang bertugas di klinik.


"Tubuhnya sangat lemah, ia harus di bawa ke rumah sakit untuk perawatan lebih intensif" kata sang perawat.


"Apa kalian bisa menghubungi keluarganya?" dosen iti bertanya kepada Anjali dan Jonathan.


"Apa kau bisa melihat kontak di ponselnya?" Jonathan meminta Anjali membuka ponsel Rachel.


"Dikunci" Anjali tidak berhasil membuka ponsel Rachel yang dipasangi password.


Hampir bertepatan dengan Anjali yang sedang berusaha membuka ponsel Rachel, ternyata ada panggilan masuk dengan nama 'My Brother Gide'


"Ada telpon, namanya 'my brother Gide'" kata Anjali.


"Angkat saja, mungkin itu kakaknya" Jonathan meminta Anjali mengangkat.


"Bu dosen?" Anjali meminta persetujuan dari sang dosen.


"Tidak apa-apa, angkat saja" dosen itu menyetujuinya.


"Halo" Anjali mengangkat dengan mode loudspeaker.


"Rach, kau pulang jam berapa? nanti aku jemput ya? kita mampir ke rumah Gaby dan Dimas, aku sudah minta ijin sama Dad Ron untuk pulang agak terlambat" Gide yang tidak tau kalau yang mengangkat telponnya adalah Anjali langsung saja berbicara panjang lebar tanpa jeda.


"Halo kak, maaf ini saya Anjali temannya Rachel" Anjali kemudian memberitahu.


"Loh Rachelnya kemana ya?" Gide merasa kaget.


"Ini, baru saja Rachel pingsan di kampus, sekarang sedang di rawat di klinik kampus" Anjali kembali memberi informasi.


"Apa keadaanya parah?" Gide sangat cemas.


"Kata perawat kondisinya sangat lemah dan harus dirawat intensif di rumah sakit" kata Anjali lagi.

__ADS_1


"Oh God" jantung Gide hampis saja mencelos.


"Kalau begitu bisakah diantar ke rumah sakit yang terdekat dari kampus untuk segara ditangani? aku akan segera menyusul!" Gide berkata.


"Baik, kalau begitu kami antar segera" Anjali langsung menutup telponnya.


Anjali dan Jonathan pun kemudian mengantarkan Rachel ke rumah sakit dengan mobil milik Jonathan. Sementara sang dosen yang harus mengajar kembali dengan sangat menyesal tidak bisa mendampinginya dan terpaksa menitipkan Rachel kepada dua mahasiswanya itu.


..........


"Bagaimana keadaannya dok?" Jonathan yang merasa cemas dengan gadis yang beberapa waktu belakangan ini mencuri hatinya bertanya kepada sang dokter.


"Apa anda suaminya pasien Rachel?" sang dokter menatap Jonathan.


"Saya suaminya Rachel dok" Gide yang baru tiba dengan lantang langsung menjawab tanpa ragu.


"Oh, anda suami pasien ya? kondisi istri anda saat ini memang sangat lemah, hal ini terjadi karena efek dari usia kehamilannya yang masih sangat muda" kata sang dokter menjelaskan.


"Tapi Rachel dan anak kami baik-baik saja kan dok?" Gide yang sangat cemas sudah tidak bisa lagi berbasa-basi.


"Selama sang ibu baik-baik saja, mudah-mudahan bayinya juga tidak apa-apa" sang dokter menjelaskan lagi.


"Apa saya bisa menemui Rachel?" Gide bertanya lagi.


"Bisa, silahkan kalian masuk saja, pasien sudah siuman kok" dokter tersebut kemudian berpamitan.


"Rach" Gide berjalan mendekat ke arah brankar dan langsung memeluk Rachel yang sedang duduk dan terlihat begitu terguncang.


"Hiks hiks hiks" Rachel hanya bisa terisak di pelukan Gide tanpa berbicara sepatah katapun.


"Tenanglah, semua akan baik-baik saja" Gide mengecup kening Rachel.


"Aku takut" kata Rachel pada akhirnya dengan isak tangis.


"Ada aku di sini, jangan takut ya!" Gide berusaha menenangkan Rachel.


Mereka pun berpelukan layaknya suami istri sungguhan dalam waktu yang cukup lama hingga Rachel benar-benar tenang. Tidak ada percakapan apapun diantara keduanya, karena baik Gide maupun Rachel merasa percuma berbicara jika tidak bisa merubah keadaan sama sekali, sehingga orang yang melihat bisa dengan yakin dan percaya bahwa mereka memang suami istri sungguhan. Terutama Jonathan, ia terlihat begitu patah hati melihat gadis yang dia sukai berpelukan dengan pria yang mengaku sebagai suami Rachel itu.


Sementara Anjali yang melihat adegan tersebut dari sudut ruang rawat hanya bisa ternganga-nganga, karena ia sebelumnya memang sama sekali tidak mengetahui kalau Rachel ternyata sudah menikah, dengan mudahnya ia percaya begitu saja dengan pengakuan Gide. Ia menganggap bahwa tangisan Rachel adalah karena ia takut kehilangan buah hatinya, bukan karena yang sesungguhnya hamil di luar nikah.


"Rach, kami pulang dulu ya, kan sudah ada suamimu yang menjaga" Anjali akhirnya berbicara setelah melihat Rachel lebih tenang.


"Terima kasih ya Anjali dan kak Jonathan" Rachel menatap keduanya secara bergantian, ia hanya bisa pasrah dan tidak punya banyak tenaga untuk membantah status 'suami-istri' yang sudah dikarang oleh Gide baru saja dihadapan sang dokter.


"Sama-sama, kau istirahat ya, jaga kondisimu dan juga bayimu" Jonathan memaksakan tersenyum ditengah rasa patah hati yang baru saja ia alami.


"Iya kak" Rachel mengangguk.


Akhirnya Anjali dan Jonathan pun beranjak dari kamar tempat Rachel di rawat, meninggalkan Rachel dan Gide berdua saja.


"Kau istirahatlah, jangan pikirkan yang aneh-aneh. Aku akan mengurus semuanya hingga beres!" Gide mengelus pipi Rachel dan membaringkannya di brankar. Sementara gadis itu hanya mengangguk pasrah. Baginya kini hidupnya sudah benar-benar hancur lebur. Ia sudah tidak punya daya lagi untuk melawan semua yang terjadi disekitarnya.

__ADS_1


"Toh ini memang sudah aku prediksi sebelumnya" batin Rachel.


__ADS_2