Cinta Karena Jebakan

Cinta Karena Jebakan
Janji Gide


__ADS_3

"Hei, kau kenapa?" Gide yang baru saja pulang dari kantor melihat Rachel kembali murung seperti sebelumnya.


"Hiks hiks hiks" wanita muda itu kini menangis terisak.


"Rach?" dia bingung karena sang istri yang tadi pagi sudah bersikap ceria dan normal seperti hari-hari sebelum tragedi, sore ini kembali bersedih.


"Aku gagal kak hiks hiks" tubuhnya bergetar hebat.


"Rach" Gide yang tidak tau harus menghibur sang istri dengan cara apa lagi kemudian memilih untuk memeluknya dan mengelus kepala Rachel.


"Aku tidak bisa ikut kompetisi hip hop internasional karena hamil hiks hiks" tangisnya tak kunjung berhenti.

__ADS_1


"Kehamilanmu kan hanya sementara, beberapa bulan lagi semuanya akan kembali normal, kau bisa mengikuti semua kompetisi hip hop yang ada" Gide mencoba membesarkan hati sang istri.


"Tapi kompetisi ini berbeda, ini ajang internasional, tidak setiap saat diadakan, hanya akan ada di waktu-waktu tertentu saja!" Rachel semakin histeris ketika mengingat kegagalannya, bahkan sebelum ia memulainya sama sekali.


"Maaf, maafkan aku" Gide kini merasa sangat bersalah karena telah menghamili Rachel.


"Andai waktu itu aku tidak mengijinkanmu pergi ke villa, atau mencegahmu makan makanan itu, atau tidak mengusulkan kau beristirahat di dalam kamar, mungkin semua ini tidak akan pernah terjadi. Aku memang bodoh Rach, maafkan aku!" Gide benar-benar merasa seperti pecundang yang telah merusak hidup Rachel.


"Maafkan aku Rach" pria itu pun sudah tidak bisa menahan emosi yang selama ini ia pendam seorang diri. Ia bersimpuh di kaki Rachel untuk meminta maaf dari wanita yang sudah ia rusak hidupnya itu.


"Aku tidak tau lagi harus menebus semua kesalahanku ini dengan cara bagaimana Rach, sungguh aku sangat bersalah padamu!" Gide terisak.

__ADS_1


"Kak bangunlah" Rachel mencoba menarik Gide agar berdiri kembali namun Gide menolaknya.


"Maafkan aku Rach" hanya kata maaf yang berulang kali diucapkan oleh Gide kepada sang istri untuk mengurangi rasa bersalahnya.


Kakkkk" Rachel yang kebingungan kemudian ikut bersimpuh dan menatap wajah putus asa Gide.


Ia baru tersadar bahwa sesungguhnya selama ini Gide pun merasa hancur sama seperti dirinya, namun karena pria itu sangat pandai menutupi semua perasaan dihatinya, jadi seolah-olah Gide terlihat biasa saja dimatanya.


"Aku janji setelah bayi ini lahir, aku akan mengurus surat perceraian kita dan kau bisa meraih semua mimpimu Rach. Aku yang akan merawatnya sendiri hingga ia besar nanti, jadi kau tidak perlu khawatir. Tapi aku mohon bersabarlah beberapa bulan lagi!" akhirnya setelah beberapa waktu mempertimbangkan dengan matang, Gide pun kemudian memberanikan diri mengutarakan semua ini.


"Kak!?" Rachel terkejut dengan perkataan Gide, selama ini ia tidak pernah berfikir sejauh itu. Meskipun saat ini ia tidak siap menikah dengan Gide, namun bukan berarti ia menginginkan perceraian diantara mereka setelah semuanya terjadi.

__ADS_1


Cukup lama keduanya duduk bersimpu di lantai dalam diam dengan pikirannya masing-masing hingga matahari benar-benar tenggelam dan kamar mereka jadi temaram karena hanya ada bias cahaya lampu taman saja yang masuk melalui celah jendela kamar.


"Sekarang kau istirahatlah, aku akan meminta pelayan menyiapkan makan malam untukmu" Gide yang sudah kembali ke kesadarab penuh setelah lamunan panjangnya, kemudian berdiri dan keluar dari kamar meninggalkan Rachel yang masih terguncang dengan ucapan sang suami akan rencana perceraian mereka setelah kelahiran sang bayi.


__ADS_2