
"Kak Gide!?" Rachel terkejut ketika ia membuka matanya dan mendapati Gide memeluknya di atas tempat tidur. Seingat wanita hamil itu, dirinya tertidur di sofa saat menunggu sang suami pulang.
"Selamat pagi" senyum merekah di wajah Gide yang tampan.
"Kakak sudah pulang? sampai rumah jam berapa? kenapa aku tidak tau kalau kakak sudah pulang? lalu kenapa aku bisa tidur disini?" Rachel membombardir sang suami dengan pertanyaan.
"Ini masih pagi, kenapa kau sudah sangat berisik seperti burung beo yang sedang kelaparan hemmmm?" Gide tersenyum geli melihat istrinya begitu cerewet.
"Kakkkkk!" Rachel memuluk dada bidang Gide sambil mengerucutkan bibirnya, membuat Gide tergelak.
"Tadi aku pulang subuh, aku melihatmu terlelap di sofa, makanya aku tidak membangunkanmu dan langsung menggendongmu ke atas tempat tidur" jawabnya sambil merapikan anak rambut yang menutupi wajah cantik sang istri.
"Ohhhhhh" Rachel hanya ber oh ria saja saat mendengar penjelasan Gide.
"Ngomong-ngomong kenapa kau tidur di sofa?" Gide memancing.
"Aku ketiduran" Rachel menjawab dengan polos.
"Apa kau sedang menungguku pulang?" pria itu menarik pinggal Rachel lebih dalam di pelukannya dan menatap sang istri dengan intens untuk menunggu jawabannya.
__ADS_1
"Ti tidak, aku hanya kelelahan, lalu tiba-tiba terlelap di sofa" Rachel gugup.
"Ohhhhh aku kira kau menungguku, padahal aku sudah sangat berbunga-bunga saat melihatmu tertidur di sofa" Gide kecewa.
"Memangnya kakak berharap aku menunggu kakak pulang?" Rachel yang melihat ekspresi kecewa di wajah Gide jadi penasaran.
"Tentu saja aku berharap kau menungguku, kau kan istriku! masa aku harus berharap sekertarisku yang menungguku pulang ke rumahnya!?" jawabannya mulai menjurus.
"Maksud kakak kak Putri!?" Rachel mulai terpancing.
"Memangnya sekertaris yang sering bekerja denganku siapa lagi kalau bukan Putri?" permainan pagi ini dimulai.
"Kau mau kemana?" Gide tidak mau melepaskan Rachel.
"Mandi!" jawabnya ketus.
"Kok kau marah? apa kau cemburu dengan Putri?" berusaha memancing lebih dalam.
"Ishhh kakak geer sekali!" Rachel mencebikkan bibir.
__ADS_1
"Rach, apa kau benar-benar tidak menungguku pulang semalam?" bertanya dengan sendu.
"Memangnya kakak berharap aku bagaimana?" Rachel balik bertanya.
"Aku sungguh berharap kau menungguku! Teman-temanku sering bercerita kalau mereka pulang terlambat maka istri mereka akan sangat cemas dan menunggunya sambil mondar-mandir sepanjang malam di dalam rumah sambil terus menelpon suaminya" Gide mengelus pipi mulus Rachel.
"Kenapa kakak berharap aku menunggu kakak pulang?" selidik wanita hamil itu.
"Karena aku berharap hanya ada satu wanita saja yang menungguku pulang ke rumah setiap harinya selepas waktu pulang kantor, dan itu adalah kau!" kini tangan Gide bergeser ke arah bibir mungil Rachel.
"Kakkkk" Rachel tidak bisa berkata-kata saat mendengar pernyataan Gide.
Cupp, kecupan lembut mendarat di bibir Rachel. Ia hanya bisa diam mematung ketika Gide mulai mengeksplor setiap sudut bibir mungilnya. Perlahan tapi pasti Gide menikmati sensasi manisnya sang istri. Ia menggigit perlahan bibir Rachel dan memaksa menerobos masuk. Rachel yang terlena pun pada akhirnya mengikuti permainan sang suami. Mereka berpagut cukup lama hingga keduanya kehabisan nafas.
"Kakkkkk" Rachel kembali pada kesadarannya dan mendorong tubuh Gide menjauh darinya.
"Apa tidak ada harapan bagiku untuk mencoba memulainya?" Gide menatap mata Rachel untuk menunjukkan keseriusannya.
"Aku sudah terlambat kuliah, aku mau mandi kak" Rachel berdiri dan berjalan menuju kamar mandi, meninggalkan Gide di tempat tidur seorang diri.
__ADS_1
"Aku tau kau juga mulai memiliki perasaan itu Rach, aku akan bersabar sampai kau menyadarinya dengan sepenuh hatimu!" Gide berkata dalam hatinya.