Cinta Karena Jebakan

Cinta Karena Jebakan
Sera Melahirkan


__ADS_3

Hari-hari begitu cepat berlalu, sudah hampir lima bulan berjalan sejak tragedi Rachel terjatuh dari tangga kampus akibat ulah Jonathan. Setelah pria itu dijatuhi hukuman yang setimpal, kini Gide dan Rachel hidup sangat bahagia layaknya pasangan suami istri pada umumnya. Meskipun belum ada tanda-tanda kehamilan Rachel, namun keduanya tetap menjalani hari-hari mereka dengan penuh rasa syukur dan cinta.


"Sayang, kau dimana sekarang?" Gide menelpon sang istri.


"Aku di kampus bersama Anjali" jawab Rachel.


"Bisakah kau ke rumah sakit sekarang?" tanya pria itu.


"Ada apa? siapa yang sakit?" Rachel langsung panik.


"Sera mau melahirkan, baru saja Gamal bilang Sera sedang dibawa ke rumah sakit oleh teman-teman kampusnya" Gide menjelaskan.


"Benarkah? baiklah aku akan segera ke rumah sakit sekarang juga" Rachel yang mendengar kabar tentang Sera langsung bergegas merapikan barang-barangnya.


"Kalau begitu kita ketemu di rumah sakit ya sayang, hati-hati di jalan" kata Gide sebelum menutup telponnya.


"Iya, kau juga hati-hati di jalan ya" Rachel kemudian menutup telponnya.


"Ada apa?" Anjali yang melihat Rachel beres-beres langsung bertanya.


"Kakak sepupuku ingin melahirkan, aku harus segera ke rumah sakit sekarang juga" Rachel menjelaskan.


"Oh begitu, ya sudah kalau begitu hati-hati dijalan ya" Anjali berpesan.


"Iya, aku titip absen ya, tolong sampaikan kepada pak dosen kalau aku harus ke rumah sakit" Rachel meminta tolong.


"Siap, nanti aku sampaikan" Anjali mengangguk.


Setelah membereskan semuanya Rachel pun segera melesat menuju rumah sakit untuk menjenguk sepupu kesayangannya itu.

__ADS_1


..........


"Cicit grandma, Batsyeba cantik sekali!" grandma Merlyn langsung heboh melihat cicit ketiganya yang masih merah itu.


"Syeba juga cicitku!" grandma Ruth tidak kalah hebohnya.


"Ma, aku mau menggendong Syeba juga!" Ananda tidak mau kalah.


"Dia juga cucuku, aku mau menggendongnya juga!" Maya pun tidak sabar.


"Aku juga grandmanya, jadi aku juga mau gendong!" Ayu tidak ketinggalan.


"Hati-hati nanti Syeba kelelahan digendong sana sini" kata Gaby yang sudah sangat paham dengan sifat kelima orang tua itu jika melihat cucunya yang baru lahir. Dulu saat Divo dan Diva lahir pun selalu jadi bahan rebutan bak piala bergilir. Mereka tidak akan berhenti sampai sang bayi menangis dengan keras karena lelah.


"Sera, selamat ya, bayimu sangat cantik" Rachel memeluk Sera.


"Terima kasih ya Rach" Sera tau bahwa adik sepupunya itu sesungguhnya merasa sedih karena teringat akan bayinya yang telah meninggal di dalam kandungan beberapa bulan lalu.


"Tentu saja, kau kan mamanya juga" Sera berusaha membesarkan hati Rachel.


"Dia sangat mirip denganmu" Rachel tersenyum saat menggedong bayi Syeba.


"Dia juga cantik seperti dirimu!" Sera tidak mau Rachel bersedih.


"Andaikan anakku masih hidup, pasti sekarang sudah seperti dia" Rachel meneteskan air matanya.


"Sayang, kita masih punya banyak waktu, kau masih sangat muda dan kita bisa membuat satu lusin anak cantik seperti ini kalau kau mau" Gide merangkul pinggang istrinya dari belakang dan mengecup pipi Rachel dengan lembut.


"Aku akan melakukan tugasku setiap malam agar kau cepat hamil lagi" bisik Gide ditelinga Rachel.

__ADS_1


"Ihhhh apa sihhh" Rachel merona.


"Ciyeeee getol banget sih, kalian itu mau bikin anak atau memang doyan hah?" Gamal menggoda kedua adiknya.


"Apa sih kak Gamal!" Rachel malu-malu.


"Apa perlu kita pulang sekarang juga?" Gide mengerlingkan matanya.


"Sayanggggg ihhhh malu" Rachel benar-benar tersipu, membuat semua keluarga tergelak.


"Owekkk Owekkk" bayi Syeba menangis.


"Tuh kan, Syeba jadi menangis, kalian sih berisik!" Rachel kemudian memberikan Syeba kepada Sera agar bisa menyusu.


"Uhhhh sayang anak mama, sini sini" Sera menerima Syeba dari tangan Rachel dengan hati-hati.


"Anak papa haus ya?" Gamal yang sedang duduk di sebelah Sera di atas brankar pun menyapa putrinya dengan penuh kasih sayang.


"Ayo kita pulang" Gide tiba-tiba meraih tangan Rachel yang sudah tidak mengendong Syeba lagi.


"Kenapa harus pulang?" Rachel protes.


"Kita buat teman untuk Syeba" Gide menaik turunkan alisnya.


"Kau ini!" Rachel memukul lengan Gide dengan manja.


"Ciye-ciye yang bucin tingkat dewa" Sera menggoda keduanya.


"Ciye-ciye" semua keluarga pun ikut menggoda mereka hingga membuat Rachel benar-benar salah tingkah.

__ADS_1


Meskipun terselip rasa sedih di hati Rachel karena mengingat akan anaknya yang sudah meninggal beberapa bulan lalu, namun ia tetap optimis bahwa ia akan segera hamil kembali. Ia pun tidak merasa iri sama sekali dengan Sera. Baginya bisa menjalani hidup berdua dengan Gide seperti saat ini adalah sebuah kebahagiaan tersendiri.


"Mungkin Tuhan ingin kami menikmati masa pacaran dulu sebelum direpotkan dengan mengurus anak" begitu batinnya.


__ADS_2