
"Mama pasti capek ya? sini papa pijitin" Gide yang sudah mempunyai rencana menghamili sang istri untuk yang kedua kalinya langsung berusaha merayu dengan memijat tubuh sang istri agar relax sebelum melancarkan aslinya.
"Papa tau aja sih kalau mama kurang tidur" kata Rachel sambil keenakan karena pijatan sang suami memang tepat sasaran dibagian yang sakit.
"Iya dong kan papa suami siaga, jadi papa pasti tau apa yang mama rasakan heheheh" Gide sok polos.
"Ihhhhh papa, bagian itu gak sakit, kenapa ikut dipijat juga?" Rachel protes saat tangan sang suani dengab cekatan memijat bagian terkenyal miliknya.
"Ini bonus dari papa buat mama" kata Gide dengan seringai jahilnya.
"Ck, dasar papa modus, udah ah selesai aja pijitnya" Rachel langsung mencoba menggeser tubuhnya menjauh dari suami.
"Ehhhh mama mau kemana? jangan pergi dong!" Gide menahan sang istri.
"Mama mau lihat Cilla dulu" Rachel berusaha melepaskan diri dari sang suami.
"Cilla masih bobok maaa" Gide tetap tidak membiarkan sang istri lolos.
"Ya udah kalau begitu kita juga bobok aja yuk" kata wanita muda itu.
__ADS_1
"Ya udah sini mama bobokan, biar papa yang pijitin mama seluruh tubuh, nanti pasti lama-lama mama juga bobok kok" Gide kemudian merebahkan sang istri.
"Ishhhhh paaaaaa geliiiii" Rachel bergelinjang saat sang suami mulai melancarkan aksinya.
"Mama diam saja ya, biar papa yang kerja keras buat kita" pria tampan itu kemudian mulai melucuti pakaian mereka berdua hingga polos.
"Ahhhhhh paaaaa mama mauuuuuu ahhhhhhh" letupan dibagian sensitif Rachel membuatnya bergetar hebat.
"Sudah paaaa mama sudah tidak tahan lagiiiiiii" Rachel menghimpit kepala sang suami dengan pahanya saat ledakan hebat kembali terjadi.
Setelah melihat sang istri sudah tak berdaya lagi karena permaianannya yang sangat liar, akhirnya Gide mulai menghujam sang istri dengan sekali hentakan.
"Emmmpppphhhh paaaaaaa" pompaan demi pompaan yang dilakukan Gide sangat berhasil membuat sang istri tak berdaya dan hanya tergolek pasrah dibawah himpitan tubuh kekar itu.
"Ayo ma kita bersama-sama" Gide semakin bersemangat menggerakkan tubuhnya dengan irama yang teratur.
"Ahhhhhhhh papaaaaaa mama sudahhhhh emmmmmpppphhhhh" lagi-lagi semburan dasyat dibagian bawah sana membuat Rachel kehabisan tenaga.
"Arrrggggghhhhh maaaaa papa juga keluaarrrrrrr" tidak lama setelah sang istri berada di puncak, Gide pun kemudian meledak. Ia menghentakkan dirinya masuk lebih dalam saat tembakan terjadi hingga menyentuh dinding rahim sang istri.
__ADS_1
"Pa kok belum dilepas?" Rachel yang sudah kembali pada kondisi normalnya bertanya pada sang suami yang masih menghimpitnya tanpa mengubah posisinya sama sekali.
"Sebentar lagi ma, papa masih kangen" alasan pria itu agar bibit unggulnya tidak keluar dari tempat yang seharusnya sehingga berhasil membuahi sang istri.
"Kalau papa gak copot-copot, nanti bisa-bisa mama hamil lagi pa" Rachel masih membayangkan rasa sakitnya saat melahirkan protes.
"Ya bagus dong kalau mama hamil lagi" Gide kemudian mengecup bibir sang istri dengan lembut.
"Ih papa, Cilla itu masih kecil banget, kasihan lah kalau cepat-cepat punya adik, nanti dia bisa kehilangan momen disayang sama kita" Rachel tidak mau tergesa-gesa memberi Cilla adik.
"Ya enggak lah ma, buktinya dulu papa sama Gamal beda satu tahun persis juga tetap sama-sama disayang dengan adil kok, kami malah jadi seperti anak kembar, persis seperti mama dan Richard, jadi kasih sayangnya pun terasa kembar ma" kilah Gide.
"Ck, papa sih enak ngomong doang, tugasnya cuma bikin mama hamil, habis itu sisanya mama yang ngerasain. Lahiran itu sakit tau pa, rasa sakit ngelahirin Cilla aja masih membekas sampai sekarang" Rachel menggerutu.
"Iya ma, papa tau, makanya mendingan mama sekalian hamil aja pas masih muda begini, jadi habis itu mama tinggal menikmati hasilnya pas masa tua" kerlingan mata Gide terlihat begitu genit.
"Ck, terserah papa deh, tapi awas aja ya nanti kalau mama beneran hamil dan melahirkan lagi trus papa sampai gak bantuin mama merawat anak-anak kita, mama sunat nanti papa sampai habis!" Rachel mengancam.
"Pasti dong ma, papa janji deh kalau nanti Cilla punya adik lagi, kita bagi tugas merawat mereka" angguk pria itu dengan penuh keyakinan.
__ADS_1
Akhirnya setelah negosiasi yang alot, Gide pun merasa senang karena sang istri memberinya lampu hijau untuk memperoleh anak kedua mereka meskipun Cilla baru berusia dua bulan.
"Taruhan ini rupanya sungguh menyenangkan, sudah bisa enak-enak dengan istri, dapet anak baru, plus dapet bonus juga kalau ada yang kalah hehehe" batin Gide dalam hati dengan seringai liciknya.