Cinta Karena Jebakan

Cinta Karena Jebakan
Kembali Ke Habitat Masing-Masing


__ADS_3

"Sayang" Rachel bergelayut manja di lengan sang suami saat Gide sedang berdiri di balkon kamar mereka di rumah utama.


"Ada apa? apa hukuman kemarin masih kurang hemmm?" Gide langsung menarik pinggang sang istri kedalam pelukannya.


"Issshhhh apa sih, mesum sekali pikiranmu!" Rachel memukul dada sang suami dengan manja.


"Lalu apa kalau bukan itu?" Gide semakin mempererat pelukannya.


"Aku ingin pulang ke rumah kita" Rachel mengutarakan isi hatinya.


"Apa kau tidak betah di sini? bukankah di sini sangat seru dan menyenangkan?" tanya pria tampan itu sambil mengelus pipi sang istri.


"Aku tidak enak terus-terusan merepotkan yang lainnya, sudah terlalu lama aku membuat mereka tinggal di sini, pasti mereka semua sesungguhnya sangat merindukan rumah masing-masing" Rachel merasa bersalah.


"Heyyy, kenapa bilang begitu? mereka semua dengan senang hati kok tinggal di sini, toh inikan rumah mereka juga!" Gide berusaha membuat sang istri merasa tidak bersalah.


"Iya aku tau kalau ini rumah mereka juga dan mereka senang bisa tinggal bersama keluarga besar, tapi pasti terselip juga di hati mereka perasaan ingin pulang ke rumah sendiri karena sudah hampir dua minggu berada di rumah utama" Rachel memberi alasan logis.


"Baiklah, kalau begitu nanti malam kita akan bicarakan dengan yang lain ya?" Gide meraih bibir sang istri yang memakannya dengan rakus.


Pergulatan panas pun kembali terjadi disepanjang hari sabtu nan cerah itu. Sepanjang waktu mereka hanya menghabiskannya di dalam kamar tanpa mempedulikan keberadaan keluarga yang lain di rumah utama.


..........

__ADS_1


"Kalian habis ngapain saja sih? sepanjang hari kok di dalam kamar dan baru muncul saat makan malam?" Ron sengaja memancing reaksi anak dan menantunya.


"Habis wik wik ya?" Rich menyambar.


"Apa sih" Rachel menjawab dengan malu-malu.


"Dapat berapa ronde?" Raf ikut bertanya.


"Sok tau ih kalian" Rachel benar-benar malu karena seperti diinterogasi. Sementara Gide hanya mengulum senyumnya melihat sang istri yang salah tingkah.


"Oya, kebetulan semua sedang berkumpul, aku dan Rachel ingin menyampaikan sesuatu" Gide memulai pembicaraan.


"Apa?" jawab Ron, Goerge dan Mike serentak.


"Apa kau tidal betah tinggal disini?" Grandma Ruth merasa sedih.


"Bukan begitu grandma, aku sangat senang tinggal di sini bersama semua keluarga besar Anderson, tapi aku juga tidak enak jika terus menerus merepotkan yang lain, bukankah sudah hampir dua minggu kita semua tinggal di sini? pasti ada yang sudah mulai rindu pulang ke rumah masing-masing, jadi aku pikir sebaiknya kami pun pulang ke rumah kami berdua" Rachel menjelaskan kepada sang grandma.


"Benar grandma, lagi pula kan kita masih bisa tetap berkumpul di akhir pekan seperti biasa di sini, jadi meskipun kami pulang, bukan berarti kami tidak akan ke sini lagi" Gide menambahkan.


"Ck, pasti rumah ini akan kembali sepi deh" grandma Ruth berkaca-kaca.


"Ruth, mereka berdua benar, toh tujuan kita berkumpul kemarin kan demi kesembuhan Rachel, sekarang Rachel sudah sembuh, artinya tujuan kita telah tercapai, jadi ya memang sudah seharusnya mereka kembali ke kehidupan normal mereka semua" meskipun berat melepas anak, menantu, cucu dan cicitnya, namun grandma Merlyn bisa lebih logis dalam menerima kenyataan.

__ADS_1


"Huffff baiklah, tapi janji ya kalian akan sering berkunjung ke sini?" Grandma Ruth tetap masih berat.


"Iya grandma" Rachel mengangguk.


"Jadi kapan kalian mau pulang ke rumah kalian?" Mike bertanya.


"Mungkin besok siang yah" Rachel berkata.


"Baiklah, sepertinya memang sudah saatnya kita kembali ke habitat masing-masing" Ron berseloroh.


"Ck, kau pikir kami orang utan apa?" Mike berdecak.


"Loh siapa yang bilang kalian orang utan?" Ron menjawab asal.


"Kalau kau bilang kembali ke habitat, itu sama saja seperti kau berbicara dengan segerombolan hewan!" Mike melirik sang adik dengan sinis.


"Kau itu kenapa sensitif sekali sih? seperti anak perawan yang lagi datang bulan saja, padahal kau itu sudah jadi kakek-kakek!" Ron geleng-geleng.


"Kau,,," Mike ingin menjawab lagi namun keburu dipotong oleh sang istri.


"Sudah-sudah ayo makan, nanti keburu dingin" Ananda melerai keduanya. Sementara yang lain hanya bisa geleng-geleng melihat kekonyolan kedua kakek tampan itu.


"Dasar kakek-kakek Anderson, dua-duanya sama saja!" seloroh Ayu kesal.

__ADS_1


Suasana makan malam pun terasa begitu hangat. Meskipun ada saja perdebatan receh antara satu dengan yang lainnya, namun itu semua justru membuktikan bahwa mereka adalah keluarga besar yang saling menyayangi satu sama lainnya.


__ADS_2