
"Selamat siang nyonya" sapa beberapa sekertaris direksi saat Rachel sudah tiba di lantai khusus jajaran para direktur.
"Selamat siang, apa SUAMIKU ada?" Rachel bertanya dengan menekankan kata 'suamiku' sambil menatap Putri dengan tatapan tidak bersahabat.
"Ada nyonya, Tuan Gide sedang berada di ruangannya" jawab salah satu dari mereka. Posisi meja para sekertaris direksi memang berada tepat di depan lift, sehingga jika ada tamu khusus yang ingin bertemu para direktur, mereka bisa langsung menyambut dan mengarahkannya.
"Biar saya antar nyonya" Putri berdiri hendak mengantarkan Rachel.
"Tidak perlu, aku bisa sendiri" kini tatapan permusuhan jelas terukir di wajah Rachel. Ia sama sekali tidak bisa menyembunyikan rasa kesalnya kepada Putri yang dianggapnya sudah mengganggu rumah tangganya.
"Baik" Putri mengangguk dengan sopan. Ia tau sikap dingin Rachel terhadapnya pasti karena jebakan yang dilkukan para cucu dan cucu menantu Anderson sudah berhasil. Meskipun ia harus menjadi tumbal, namun demi melihat keduanya bahagia Putri tidak masalah.
"Kalau begitu aku kedalam dulu ya" Rachel menatap yang lain dengan senyum ramah.
"Silahkan nyonya" jawab mereka bersama-sama.
Dengan elegan Rachel pun kemudian berjalan menuju ruang kerja sang suami sambil menenteng kotak makan siang untuk mereka berdua. Seperti yang sudah diajarkan oleh Gaby dan Sera, hari ini Rachel berdandan sangat feminim. Ia mengenakan dress diatas lutut berwarna baby pink dengan sepatu wedges berwarna senada. Rambut yang biasanya ia kuncir kuda dengan asal atau ditutupi dengan slayer sebagai pengikat kepala, kini diurai indah dengan sedikit model curly menjuntai dibagian bawahnya. Bibir yang biasanya hanya ber lipgloss pun kini lebih menawan dengan pulasan warna nude, terlihat begitu penuh dan membuatnya tampak lebih dewasa.
Tok Tok Tok,,
"Masuk" suara Gide terdengar.
"Kak" Rachel membuka pintunya.
"Sayang kau?" Gide tampak tidak percaya ketika melihat istrinya berdiri diambang pintu dengan tampilan yang begitu cantik.
"Apa aku mengganggumu?" Rachel bertanya.
"Tentu saja tidak, ayo masuk" Gide langsung berdiri dari kursinya dan menghampiri sang istri.
"Kau sedang sibuk ya?" tanya Rachel yang sedang berjalan ke arah sofa dengan bimbingan suaminya.
"Tidak biasa saja" Gide menarik sang istri untuk duduk di sofa, bersebelahan dengannya.
"Syukurlah kalau begitu" Rachel senang.
"Memangnya ada apa?" Gide yang masih belum percaya dengan kehadiran sang istri bertanya-tanya dalam hati.
"Tidak, aku hanya ingin kau mencicipi ini, tadi aku dari rumah bunda dan belajar masak ini sama mama" Rachel membuka kotak makan siangnya.
"Wahhhh kau memasak ini untukku?" Gide berbinar-binar.
"Sebenarnya sih ini hasil karya mama, aku hanya membantunya saja hehehehe" Rachel berkata jujur, karena memang kenyataannya ia hanya membantu dan belajar resepnya saja.
"Tidak masalah, yang penting ada jerih payahmu juga disini" Gide langsung membantu Rachel membukanya.
"Apa kakak sudah waktunya makan siang?" meskipun perusahaan ini adalah milik keluarga besarnya, namun Rachel yang selalu diajari tata krama sejak kecil oleh kedua orang tuanya tetap menghargai peraturan kantor yang berlaku, tanpa terkecuali untuk suaminya sendiri.
"Hampir, tidak masalah kok, selama pekerjaanku beres, aku bisa istirahat lebih awal" kata Gide.
"Baiklah kalau begitu ayo kita makan" Rachel kemudian menyuapkan sesendok nasi dan potongan daging sapi.
Tanpa banyak bicara, Gide yang begitu bahagia sangat menikmati pelayanan yang diberikan oleh sang istri.
__ADS_1
"Pelan-pelan saja, kau ini seperti anak kecil saja" Rachel sangat gemas melihat betapa Gide sangat menikmati makan siangnya.
"Habis paket menunya sangat komplit sih, sudah makanannya enak, makannya disuapin pula sama istri tercinta, bagaimana tidak lahap coba?" kata Gide dengan mulut penuh.
"Jangan bicara, nanti tersedak" Rachel mengelap sisa makanan di bibir sang suami.
"Terima kasih ya sayang, aku bahagia sekali" Tidak perlu waktu yang lama untuk Gide menghabiskan semua makanan yang dibawa oleh sang istri.
"Sama-sama kak" jawab Rachel sambil membereskan kotak makannya yang sudah kosong.
"Ngomong-ngomong hari ini kau sangat cantik sayang, membuatku jadi tidak tahan" tangan Gide mulai bergerilya ke tubuh sang istri.
"Kak ini kan kantor, kondisikan tanganmu" Rachel menurunkan tangan Gide yang sudah meremas gemas dibagian terkenyalnya.
"Tapi aku kangen" Gide merajuk.
"Nanti saja, sekarang kan kau harus lanjut bekerja" Rachel takut kebablasan.
"Waktu istirahatku masih satu jam lagi, plisss temani aku yaaaa" dengan memasang wajah memelas.
"Ck dasar suami manja" Rachel memukul dada bidang suaminya.
"Sini" dengan sekali tarikan, Gide meraih Rachel dalam pangkuannya.
"Kak nanti dilihat orang" Rachel terpekik.
"Tidak akan, ini kan ruangan tertutup" kini tangannya menelusup dengan mudahnya ke bagian paha mulus sang istri karena Rachel hanya memakai dress.
"Emmmhhhh kakkkkk" Rachel bergelinjang kegelian karena Gide mengecupi lehernya dan meninggalkan beberapa jejak cinta.
"Kakkkk geliii" Rachel menggelinjang dipangkuan sang suami, membuat bagian bawah Gide menjadi mode siap tempur.
"Apa kau merasakan milikku?" Gide menuntun tangan Rachel ke arah bawah.
"Kak jangan di sini, nanti ada yang lihat" sesungguhnya jika ini di rumah sudah pasti Rachel akan sangat pasrah.
"Pegang saja, plissss" Gide melepaskan sabuknya agar tangan Rachel bisa dengan leluasa menerobos masuk.
"Dasar kau ini" Rachel mencubit gemas adik kecil Gide.
"Awwww sayanggg" bukannya kesakitan Gide yang dicubit malah merasa semakin naik.
Cukup lama mereka saling mengeksplor satu sama lain. Meskipun tetap dengan pakaian yang tertutup, namun dengan mudah keduanya bisa saling menyusupkan tangan masing-masing di balik baju pasangannya. Bibir mereka pun selalu saling berpagut dan melilit dibagian dalamnya, membuktikan betapa membaranya mereka siang itu.
"Ahhhhh kakkkk cukup, aku tidak tahan lagi" Rachel bergelinjang ketika jari Gide yang bermain dengan lincah di bagian paling sensitif mulai mempercepat ritmenya.
"Ayo sayang kita bersama-sama" Gide pun memberi kode agar sang istri mempercepat ritme gerak tangannya yang berada di balik celana. Dengan penuh semangat keduanya bekerja keras hingga kemudian mereka mencapai puncak cinta dengan cara yang berbeda dari biasanya.
"Terima kasih sayang, aku sangat mencintaimu" Gide meraih pinggang sang istri dan menghadiahinya dengan kecupan bertubi-tubi.
"Apa kakak suka?" Rachel ingin tau perasaan suaminya setelah ia melayani semua kebutuhannya siang ini.
"Sangat, aku sangat puas dan bahagia" sambil mempererat pelukan di pinggang Rachel.
__ADS_1
"Benarkah?" Rachel kemudian mengalungkan tangannya ke leher sang suami.
"Tentu saja, kau sudah seperti candu bagiku" mereka kemudian kembali berpagut dengan panasnya.
"Bro kita jadi makan siang tidak? upssssss" Dimas yang awalnya ingin mengajak Gide makan siang langsung menghentikan langkahnya.
"Kenapa berhenti?" Gamal menatap ke dalam ruangan.
"Kak Dimas, Kak Gamal" Rachel hendak berdiri dari pangkuan Gide namun ditahan oleh pria itu.
"Aku sudah makan siang, istriku yang memasaknya, kalian berdua saja gih makan di kantin" Gide menunjukkan kotak nasi sisa bekal makannya yang berada di atas meja.
"Hemmm sudah punya istri ya ternyata?" Dimas menggoda.
"Kak Dimas" Rachel mengerucutkan bibirnya kepada sang kakak ipar.
"Lihat itu rokmu berantakan dan basah semua" Gamal pun ikut menggoda, membuat Rachel langsung panik menatap roknya.
"Apa sih, orang masih rapih dan bersih begini" Rachel menggerutu dengan sebal karena kedua kakak iparnya sangat jahil.
"Jangan dengarkan mereka sayang, mereka itu hanya iri sama kita" Gide mengecup pipi sang istri.
"Ck dasar pasangan bucin" Gamal pura-pura berdecak kesal.
"Sudahlah, ayo Gamal kita makan berdua saja" Dimas pun menggiring sahabatnya keluar ruangan Gide.
"Jangan lupa kunci pintunya kalau kalian ingin enak-enak di dalam" kata Dimas sebelum akhirnya menutup pintu.
"Hahahahahah" Gamal terbahak-bahak.
"Kakkkk aku malu" Rachel tersipu saat kedua kakak iparnya sudah menghilang.
"Kenapa mesti malu?" Gide mengelus bibir manis Rachel.
"Mereka memergoki kita" Rachel benar-benar tidak enak.
"Kita ini pasangan resmi, lagi pula mereka yang menerobos masuk ke dalam, toh kita juga hanya sedang berciuman dengan pakaian yang lengkap dan tertutup, ya walau agak berantakan sedikit heheheheh" Gide menjawab dengan santainya.
"Ihhhh kau ini tidak tau malu sama sekali sih" Rachel merasa suaminya sangat cuek.
"Sudah biarkan saja, mereka juga pernah kok terpergok beberapa kali bersama istrinya begitu di kantor, Gamal malah pernah sama Niken dulu" Gide memberi tahu Rachel.
"Hemmmm begitu ya?" Rachel memang pernah dengar perihal ini sebelumnya.
"Iya, jadi jangan diambil pusing ya" pria itu kemudian melanjutkan aksinya dengan semangat. Sementara Rachel hanya bisa pasrah menerima semua perlakuan romantis dari sang suami yang selalu membuatnya lemas.
.................
Halo semua, terima kasih sudah setia menunggu update dari Rosi. Maaf yang belakangan ini sering skip karena suami Rosi masih terus bolak balik masuk RS.
Untuk terus memberi Rosi semangat menulis, silahkan like, komen, vote, hadiah, favorit dan juga share ya.. Karena semua itu sungguh-sunggu bisa membuat Rosi semakin rajin loh Hehehehehhe..
Happy reading all..
__ADS_1
Luv Luv...