
Malam harinya, setelah selesai makan malam, keluarga besar Anderson berkumpul di ruang keluarga seperti biasanya jika mereka sedang menginap di rumah utama.
"Bagaimana kalau kita main games?" Raf memberi usul.
"Ayo!" Rich bersemangat menjawab.
"Rach, Sera, ayo!" Raf memanggil kedua adik perempuannya untuk bergabung.
"Siapa takut!" Sera langsung mengambil posisi di lantai. Sejenak ia bertingkah layaknya seorang gadis remaja yang sedang dalam kondisi tidak hamil. Mereka semua memang bersepakat untuk menghindari segala topik yang berhubungan dengan kehamilan dan juga bayi dalam perbincangan keluarga agar Rachel tidak merasa tertekan. Sehingga meskipun perut Sera sudah mulai terlihat lebih buncit, namun dia tidak pernah sekali pun menunjukkan sisi kehamilannya di depan sang adik sepupu.
"Ayo Rach!" Sera mengajak Rachel, sementara yang diajak hanya geleng-geleng saja tanda menolak.
"Kau tidak mau bermain?" Gide mengelus pelan pipi sang istri.
"Tidak" Rachel menjawab singkat.
"Ayo Gide!" Dimas yang baru saja melantai langsung menarik Gide turun dari sofa.
"Kalau aku ikut main tidak apa-apa?" Gide khawatir Rachel merasa sendirian jika dirinya sibuk bermain.
"Mainlah" Rachel tersenyum.
"Aku akan membuatmu bangga sayang, doakan aku menang ya" Gide berbicara kepada Rachel dengan cara yang didramatisir sambil mengerlingkan matanya kepada sang istri.
"Ck, lebay sekali sih, kau ini hanya mau main games, bukan mau maju perang!" Gamal yang sedang mencari posisi duduk di lantai pura-pura berdecak.
Akhirnya setelah mempersiapkan lipstick untuk media hukuman, Raf, Rich, Sera, Gamal, Gide dan Dimas pun memulai permainan. Sementara Rachel hanya menjadi penonton bersama para orang tua, beserta Gaby, Divo, dan Diva yang heboh memberikan semangat kepada Dimas sang papa.
"Ahhhhhh kak Raf, kau curang, kenapa wajahku dicoret-coret begini banyak sih?" Sera protes seperti biasanya.
"Loh kan memang aturannya yang kalah dicoret!" Raf mengulum senyumnya.
"Tapi tidak brutal begini juga kali!" Sera bersungut-sungut.
"Kalau kalah ya kalah saja, tidak boleh protes!" Raf tidak menggubris protes sang adik.
"Tau ah, kau sangat menyebalkan kak!" Sera mundur dari permainan.
"Hey jangan curang dong, moso berhenti dipertengahan!?" Raf protes.
"Bodo amat!" Sera menjulurkan lidahnya.
__ADS_1
Suasana menjadi sangat heboh dan brutal ketika tengah malam tiba, terutama ketika Sera mendapatkan hukuman coretan dari Raf paling banyak menggunakan lipstick. Perdebatan receh terjadi terus menerus, membuat Rachel yang awalnya diam pun akhirnya ikut tertawa geli melihat wajah Sera. Sera yang menjadi 'korban' pun merasa bahagia melihat sang sepupu bisa tertawa kembali. Mereka memang bersepakat untuk membuat suasana menjadi seramai mungkin sehingga Rachel bisa mengalihkan pikiran negatifnya.
"Aku rela jadi badut demi membuatmu tertawa lagi Rach" batin Sera bahagia saat melihat tawa terkembang di wajah Rachel.
Sementara semua orang tua, khususnya Ayu dan Ron merasa lega bisa melihat putri kesayangan mereka mulai berangsur pulih dari traumanya.
..........
"Sayang, kau sedang apa?" Gide mendekat ke arah sang istri, saat wanita muda itu sedang menatap ke luar jendela kamar mereka di rumah utama setelah acara main games selesai.
Sementara yang didekati hanya menoleh dan menyunggingkan senyumnya sekilas kemudian kembali menatap ke luar jendela.
"Aku sangat merindukanmu sayang, apa kau tidak merindukan aku?" Gide merangkul pinggang Rachel dan meletakkan dagunya di bahu sang istri. Sementara Rachel yang merasakan sentuhan Gide meresponnya dengan memeluk tangan suaminya balik.
"Sudah sangat lama rasanya kita tidak seperti ini ya?" pria tampan itu mempererat pelukannya di pinggang sang istri.
"He em" Rachel mengangguk, ia masih enggan berbicara banyak. Sesungguhnya ia bukannya tidak mau bicara, namun ia takut jika banyak bicara maka ia tidak bisa menahan tangisnya.
"Apa kau belum mengantuk? ini sudah larut, ayo tidur!" bujuknya.
"Iya" Rachel mengangguk tanda setuju.
Perlahan-lahan Gide menurunkan sang istri di atas tempat tidur. Setelah memastikan Rachel terbaring sempurna, Gide pun ikut merebahkan diri di sebelahnya serta merengkuh tubuh mungil sang istri ke dalam pelukannya.
"Bagaimana perasaanmu hari ini?" Gide mempererat pelukannya sambil mengelus punggung sang istri dengan lembut.
"Maafkan aku hiks hiks" bukannya menjawab pertanyaan Gide, Rachel malam meminta maaf sambil terisak.
"Sayang, kenapa menangis?" ia meraih dagu sang istri agar mereka bisa saling bertatapan.
"Aku tidak bisa menjaga anak kita dengan baik hiks" Rachel masih merasa bersalah atas kepergian anak mereka.
"Hey, lihat aku, ini bukan salahmu, ini sudah takdir Tuhan, mungkin Tuhan mau kita melalui semua ini agar bisa lebih menikmati waktu berkualitas bersama-sama. Dulu kan kita tidak melalui masa-masa pacaran seperti Gaby dan Dimas atau Sera dan Gamal, jadi mungkin Tuhan mau memberikan kita sedikit ruang untuk melakukannya sekarang" Gide mengecup bibir istrinya dengan lembut.
"Hiks hiks" Rachel masih terus menangis.
"Sayang, aku mohon jangan berlarut-larut, kau masih sangat muda, pernikahan kita pun masih seumur jagung, jadi masih banyak waktu bagi kita untuk memiliki anak lagi. Sekarang lebih baik kita nikmati saja waktu kebersamaan kita ini dengan sangat baik" Gide menghapus air mata yang menggenangi wajah sang istri.
"Terima kasih sayang, terima kasih atas segalanya, aku sangat beruntung karena Tuhan mengirimkan suami yang begitu baik sepertimu" Rachel kini yang berinisiatif mengecup bibir suaminya.
Seketika suasana kamar menjadi sangat panas. Kecupan yang awalnya lembut kini berubah menjadi sangat menuntut. Dengan cekatan Gide menerobos masuk dan mengeksplor sang istri. Sesaat mereka kehabisan nafas dan menghentikannya hanya untuk sekedar menghirup oksigen.
__ADS_1
"Kita hanya boleh sampai disini untuk sementara" ucap Gide memutus aktivitas mereka. Hampir saja Gide lepas kendali jika ia tidak segera mengingat pesan dokter padanya untuk 'berpuasa' beberapa saat agar istrinya terhindar dari infeksi setelah melakukan kuretase.
"Ayo kita tidur, ini sudah malam" Gide kemudian mengecup pucuk kepala istrinya untuk menetralisir gejolak yang ada di dalam dirinya. Meskipun bagian bawahnya sudah sangat meronta-ronta ingin dimanjakan oleh sang istri, namun Gide berusaha menahan agar ia tidak kembali membuat sang istri sakit.
"Tidak aku tidak mau!" bukannya berangkat tidur, Rachel malah menelusupkan tangannya.
"Tapi sayang, kau kan belum boleh!" Gide masih berusaha memakai akal sehatnya untuk meredam gejolak yang sedang muncul.
"Aku hanya rindu dia" Rachel mengelus lembut, membuat Gide semakin kalang kabut.
"Tapi,," belum sempat Gide selesai berbicara, Rachel sudah mengambil inisiatif untuk memainkannya dengan lincah.
"Ahhhh sayang aku takut khilaf" Gide menggeram.
"Biarkan aku yang bekerja" Rachel tau bahwa suaminya sudah sangat menginginkannya.
"Tapi,,, ahhhhhh,,, sayangggg,,, ahhhhhhhh" Gide hanya bisa melenguh saat sang istri melayaninya dengan cara yang berbeda.
Rachel sangat lincah mempermainkan suaminya. Tidak hanya tangan yang bekerja, tapi mulutnya pun tak henti untuk menyusuri tiap inci bagian bawah Gide.
"Sayang ahhhhhhhh" Gide benar-benar tidak menyangka bahwa sang istri bisa se-ekstrim ini mempermainkannya.
"Argggghhhhhhhhhhhhh" dengan sekali hentakan kuat semua tumpah di dalam mulut Rachel, membuat wanita muda itu tersenyum puas melihat suaminya tumbang tak berdaya olehnya.
"Kau kenapa jadi nakal sekali hemm? belajar dari mana jurus seperti tadi?" Gide meraih istrinya dalam pelukannya, setelah Rachel membersihkan semuanya.
"Aku hanya ingin kau bahagia mulai saat ini, meskipun aku tidak bisa melayanimu seperti biasanya, tapi aku harap kau tetap menikmatinya.
"Tentu saja, kau bahkan membuatku semakin tergila-gila padamu" Gide mengecup seluruh bagian wajah istrinya, membuat Rachel tergelak bahagia.
"Ayo kita tidur, ini sudah sangat malam, kau kan harus banyak istirahat" Gide meletakkan tubuh mungil Rachel di dalam dekapannya.
"Iya" Rachel memeluk sang suami dengan posesif. Meskipun perasaannya masih sangat sedih akibat kehilangan buah hatinya, namun saat ini suasana hatinya sudah lebih baik. Berkumpul bersama dengan orang-orang yang mencintai dan dicintainya memang sangat efektif merubah suasana hatinya. Perlahan tapi pasti Rachel sudah mulai berangsur membaik.
"Good night, i love you" Gide berbisik.
"Good night, i love you too" balas Rachel.
"Semoga setelah ini semuanya bisa kembali normal ya Tuhan" Gide memanjatkan doanya dalam hati sebelum tidur.
Akhirnya mereka berdua pun larut dalam mimpi indah hingga pagi menjelang.
__ADS_1