
Dua minggu telah berlalu, meskipun kondisi psikis Rachel belum menunjukkan banyak perubahan yang signifikan, namun kini ia lebih komunikatif dengan mulai mau berbicara seperlunya. Secara fisik pun tubuhnya sudah pulih dan diperbolehkan pulang ke rumah oleh dokter. Dengan berbekal saran dari Psikiater agar Rachel selalu ditemani oleh orang-orang terdekat yang ia sayangi, akhirnya keluarga besar pun memutuskan untuk membawa Rachel tinggal di rumah utama. Mereka bersepakat untuk tinggal bersama di sana sementara waktu dan akan membuat kegaduhan yang bertujuan memecah lamunan Rachel tentang masalah yang sedang ia hadapi hingga kondisinya benar-benar pulih.
"Ayo sayang" Gide merangkul bahu Rachel dan menggandengnya berjalan menuju rumah utama.
"Cucu grandma sudah pulang" Grandma Merlyn begitu antusias melihat Rachel tiba.
"Ya Tuhan, lihatlah tuan putriku telah kembali" Grandma Ruth pun tidak kalah antusiasnya.
"Ayo masuk, yang lain sudah menunggu kalian dari tadi" duo grandma menggandeng lengan Rachel di bagian kiri dan kanannya, meninggalkan Gide yang tersenyum bahagia melihat sang istri akhirnya bisa pulang dan berkumpul dengan keluarganya kembali.
"Aunty Rach" Diva yang sedang menonton kartun di ruang keluarga langsung berhamburan memeluk Rachel.
Tanpa banyak berbicara dan hanya dengan menyunggingkan senyum tulus, Rachel membalas pelukan sang keponakan.
"Aku kangen banget sama aunty" Diva bergelayut manja di pinggang wanita cantik itu.
"Sudah-sudah, aunty baru pulang mau istirahat, Diva jangan ganggu dulu ya, yuk sama mama" Gaby langsung menarik Diva.
"Tapi aku mau sama aunty Rach" Diva merengek.
"Gapapa kak, Diva biar sama aku saja" kalimat yang cukup panjang terucap dari mulut Rachel, membuat semua keluarga yang menyaksikannya tercengang. Setelah hampir dua minggu ia hanya mengucapkan kata iya, tidak, maaf dan terima kasih kepada orang-orang yang merawatnya di rumah sakit, akhirnya Rachel mau kembali berbicara panjang saat menginjakkan kaki di rumah.
"Tuh kan boleh" Diva sangat bahagia.
__ADS_1
"Ayo Diva ke kamar aunty" Rachel tersenyum sambil meraih tangan keponakannya dan menuntunnya menuju lantai dua. Sementara yang lain hanya menatap kepergian keduanya dengan takjub, bahkan Gide sampai meneteskan air mata bahagia.
"Sepertinya kehadiran anak kecil membuat Rachel sedikit terhibur" grandma Ruth menatap sendu.
"Aku akan menyusul mereka" Gide tidak ingin sesuatu terjadi pada sang istri jika ditinggal terlalu lama sendiri.
"Jangan, biarkan saja mereka berdua dulu, Rachel sepertinya membutuhkan suasana baru, beri dia ruang untuk melakukan apa yang ingin dia lakukan bersama Diva" grandma Merlyn mencegah. Akhirnya dengan berat hati Gide membiarkan sang istri berdua saja dengan keponakan mereka.
"Ayo" Dimas yang melihat Gide resah mencoba mengalihkan perhatiannya dengan mengajak sang adik ipar berjalan menuju taman belakang.
"Bagaimana dengan kasusnya?" Gide bertanya kepada Dimas.
"Kau jangan khawatir, pria itu sudah mendapatkan hukuman yang setimpal, aku dan Gamal sudah mengatur semuanya sampai tuntas" jawab Dimas dengan senyum terkembang.
"Oya lalu bagaimana dengan proyek baru kita? sepertinya aku tertinggal banyak" Gide yang sudah ijin bekerja beberapa waktu untuk merawat sang istri juga bertanya tentang pekerjaannya yang ia tinggalkan di kantor pusat Anderson.
"Apa kau lupa kalau kakakmu ini seorang yang baik hati dan suka menolong?" Gamal yang baru turun dari lantai dua setelah menemani sang istri yang sedang hamil beristirahat di kamar pun bergabung bersama mereka.
"Ck, kalau orang baik hati itu tidak boleh pamrih" Gide berdecak namun senyum tanda terima kasih sangat jelas terulas diwajahnya.
"Jadi kau mau mentraktir kami apaan setelah kami bersusah payah melakukan semuanya hemm?" sang kakak merangkul Gide.
"Apapun yang kalian mau" Gide membalas rangkulannya.
__ADS_1
"Kalau begitu traktir kami jalan-jalan keliling Eropa ya" Gamal berseloroh.
"Hey kau itu tidak tau diri atau apa hah?" Gide meninju bahu sang kakak.
"Kan katamu apapun!" Gamal menjawab dengan cuek.
"Baiklah, kalau begitu besok aku belikan peta dunia, kau bisa berkeliling Eropa bahkan berkeliling dunia dalam sekali pijakan" Gide tidak mau kalah.
"Cih!" Gamal berdecih, namun sepersekian detik kemudian ketiganya tertawa karena percakapan mereka yang sangat tidak berfaedah itu.
Suasana hangat dan ceria tampak mulai kembali muncul di setiap sudut rumah utama setelah beberapa waktu lalu semua orang merasa tegang akibat kondisi Rachel yang masih trauma.
"Semoga Keluarga besar kita selalu dilimpahi kebahagiaan" ucap Grandma Merlyn saat melihat cucu-cucunya berkumpul.
"Amin" jawab Grandma Ruth mengamini doa sang kakak dengan mata yang berkaca-kaca.
....................
Halo semua, maaf ya Rosi baru bisa update lagi setelah hiatus seminggu lebih karena kemarin sempat di rawat di rumah sakit beberapa hari akibat kelelahan merawat suami yang lagi sakit juga... Tapi mudah-mudahan teman-teman semua tetap setia dan memaafkan Rosi yang slow update ini ya hehehehe... Jangan lupa untuk dukung terus karya Rosi melalui like, komen, vote, favorit, hadiah dan juga share supaya Rosi lebih semangat lagi..
Last but not least, happy reading all..
Luv Luv..
__ADS_1