Cinta Karena Jebakan

Cinta Karena Jebakan
Malam Pertama


__ADS_3

"Rach, apa kau sudah tidur?" tanya Gide saat dirinya sudah kembali masuk ke dalam kamar hotel.


Setelah memesan makan malam untuk Rachel kepada pihak hotel agar dibawa ke dalam kamar, supaya sang istri bisa menikmatinya tanpa harus bersusah payah turun ke restoran, Gide pun kemudian sengaja meninggalkan Rachel sendirian di dalam kamar agar wanita hamil itu memiliki ruang pribadi dan bisa menenangkan dirinya setelah seluruh rangkaian acara pernikahan mereka berlangsung.


"Selamat malam Rach, semoga mimpimu indah ya" Gide kemudian mengecup bagian belakang kepala istrinya dan ia pun ikut berbaring di sebelah Rachel yang tidur memunggunginya.


"Hiks hiks hiks" isak tangis terdengar sesaat setelah Gide mengecup kening Rachel.


"Rach, kau belum tidur?" Gide menatap bagian belakang tubuh Rachel.


"Maaf ya aku membuatmu menangis" Gide memang sangat sensitif jika melihat Rachel bersedih. Entah mengapa hatinya merasa sangat sakit jika Rachel meneteskan air matanya.


"Aku belum siap mom, aku mohon jangan paksa aku untuk menikah hiks hiks hiks" Rachel meracau dalam tidurnya.


"Rach" Gide mencoba merubah posisi tidur Rachel dengan menarik lembut bahunya.


"Hiks hiks hiks" Rachel kembali sesenggukan saat tubuhnya sudah ada dalam posisi terlentang.

__ADS_1


"Hey, jangan menangis lagi ya" Gide berkata dengan berbisik sambil mengusap wajah Rachel yang dipenuhi air mata.


"Sini" Gide bergeser lebih dekat dan kemudian mendekap tubuh mungil itu dalam pelukannya. Cukup lama Rachel mengigau sambil menangis hingga akhirnya ia bisa terlelap dengan tenang di pelukan pria yang kini sudah menjadi suaminya itu.


..........


"Rach?" Gide panik ketika mendapati sang istri yang tidak ada di sebelahnya.


Rachel yang begitu sedih memang menjadi susah tidur belakangan ini. Ia biasanya hanya akan terlelap sebentar, yaitu sekitar satu sampai dua jam saja di malam hari, setelah itu ia akan tersadar karena mimpi buruknya tentang masa depannya yang suram akibat hamil diusia yang sangat muda karena jebakan saudaranya sendiri.


"Kenapa kau sudah bangun? ini kan masih jam tiga pagi Rach!" Gide mendekati Rachel yang berdiri di balkon kamar hotel dan menatap kelap kelip lampu kota yang terlihat berpendar sangat kecil dari kejauhan.


"Tapi ini masih malam" Gide mensejajarkan dirinya dengan Rachel.


"Kakak tidur saja, aku tidak apa-apa kok" Rachel menoleh ke arah suaminya.


"Tapi nanti kau bisa masuk angin jika terlalu lama berada di luar begini" Gide sangat cemas dengan kondisi istrinya dan juga bayi yang sedang dikandungnya.

__ADS_1


"Aku baik-baik saja kak" Rachel menatap Gide dan berusaha tersenyum meski pun ia terlihat begitu kaku di mata sang suami.


"Kalau begitu aku temani kau di sini ya?" Gide ingin memastikan bahwa semuanya akan baik-baik saja.


"Terserah kakak saja" Rachel kembali memalingkan wajahnya dari Gide dan kembali menatap ke arah lampu kota yang berkelap kelip di kejauhan.


"Ini, duduklah di sini" Gide mengambil kursi yang berada tidak jauh darinya.


"Terima kasih" Rachel kemudian duduk di kursi itu.


"Pakai ini supaya kau tidak sakit" Gide menutupi tubuh Rachel dengan jaketnya yang dia ambil dari koper.


"Kau tidak perlu repot-repot kak" Rachel jadi merasa tidak enak hati melihat Gide bersikap begitu baik kepadanya.


"Tidak apa-apa" kata Gide dengan tulus.


"Terima kasih kak" Rachel kembali mengembangkan senyumnya meski dengan berat hati.

__ADS_1


"Sama-sama" Gide mengangguk dan membalas senyuman Rachel dengan sangat tulus.


Mereka pun akhirnya larut dalam pikiran masing-masing. Meskipun tidak ada satu kata pun yang terucap dari Gide, namun dengan setianya ia tetap menemani Rachel menghabiskan malam pertama mereka sebagai sepasang suami istri yang baru menikah dengan menatap keindahan malam dalam diam hingga fajar tiba.


__ADS_2