
Pagi hari berikutnya,
"Terima kasih sayang" kecupan lembut mendarat di bibir mungil Rachel setelah ia merapikan dasi suaminya sebelum Gide berangkat ke kantor.
"Apa kakak hari ini akan sibuk di kantor?" Rachel menepuk-nepuk bahu suaminya, untuk memastikan bahwa jas dan kemeja yang dikenakan pria itu sudah terlihat sempurna.
"Tidak terlalu, biasa saja" jawabnya sambil meraih pinggang sang istri dengan posesif.
"Apa kakak sudah punya janji makan siang dengan yang lain?" Rachel menatap wajah suaminya dengan intens untuk mendengarkan jawabannya.
"Tidak, mungkin nanti aku akan makan bersama Gamal dan Dimas seperti biasanya" nalurinya untuk melahap sang istri mulai kembali naik.
"Ohhhhhh" Rachel ber oh ria, ia merasa cukup tenang karena Gide ternyata tidak akan makan siang lagi bersama sang sekertaris.
"Apa kau ingin mengajakku makan siang?" Gide mengerlingkan matanya.
"Idih kakak geer sekali, aku hanya bertanya saja, lagi pula nanti siang aku sudah ada janji dengan Sera untuk mencari kelas kehamilan" Rachel memajukan bibirnya dengan sangat gemas.
__ADS_1
"Yahhhh aku kira kau mau mengajakku makan siang" raut kecewa muncul di wajah tampan Gide.
"Lalu nanti kakak pulang jam berapa?" Rachel meraih lengan Gide dan bergelayut manja sambil membimbing pria itu berjalan menuju meja makan.
"Seperti biasa, memangnya kenapa?" tanya Gide penasaran.
"Tidak apa-apa, hanya tanya saja" jawabnya sambil menggelengkan kepala.
"Apa kau takut merindukanku kalau aku pulang larut malam lagi?" godanya kepada sang istri.
"Ishhhh apa sihhh geer deh!" Rachel memukul manja dada suaminya, membuat yang dipukul tergelak hebat.
"Aku berangkat ya sayang" setelah sarapan selesai Gide langsung bersiap-siap berangkat ke kantor.
"Hati-hati di jalan ya kak" Rachel mengantarkan suaminya ke halaman depan.
"Anak papa jangan nakal ya, harus nurut sama mama oke?" Gide mengelus perut sang istri yang masih rata dan mengecupnya dengan penuh kasih sayang.
__ADS_1
"Iya papa" jawab Rachel dengan menirukan suara anak kecil.
"Mamanya juga jaga diri baik-baik ya, jangan sampai ada lecet sedikit pun" kemudian Gide mencium sang istri dengan penuh semangat.
"Kakkk sudah siang, nanti kau terlambat" Rachel yang sudah melihat sinyal-sinyal bahwa suaminya mulai kembali on, langsung mengingatkan Gide agar segera berangkat kerja.
"Tapi aku masih sangat merindukanmu sayang" Gide tidak mau melepaskan pelukannya yang sangat erat.
"Ishhh kau ini seperti ABG, nanti malam kan bisa!" Rachel sesungguhnya juga sangat mendambakan sentuhan Gide, namun dirinya cukup bisa mengendalikan diri.
"Janji ya nanti malam?" Gide berbisik ditelinga istrinya, membuat Rachel meremang.
"Sudah ah sana berangkat, nanti Ayah, Dad dan Papa menegurmu loh karena telat!" Rachel mendorong suaminya agar menjauh darinya dan mendekat ke arah mobilnya.
"Tunggu aku nanti malam ya sayang" Gide kemudian mengecup sekali lagi bibir sang istri sebelum akhirnya ia berjalan menuju mobilnya.
"Yang semangat ya kak kerjanya!" Rachel melambaikan tangan saat mobil Gide mulai menderu dan berjalan menjauh keluar pagar, meninggalkannya seorang diri di teras rumah mewah mereka.
__ADS_1
Sementara Gide yang sudah di dalam mobil dan berjalan menuju kantor merasa sangat bahagia karena kini Rachel jauh lebih perhatian padanya. Meskipun belum ada kata cinta yang keluar dari mulut Rachel, namun dengan sikap manja dan perhatian sang istri, membuktikan bahwa hubungan mereka semakin meningkat ke arah yang lebih intim.