Cinta Karena Jebakan

Cinta Karena Jebakan
Menuju Mall


__ADS_3

"Kita mau makan di mana?" Gide bertanya saat ia dan Rachel sudah ada di dalam mobil.


"Terserah kakak saja yang pilih tempatnya" Rachel mengangkat bahunya dengan cuek.


"Apa kau yakin?" Gide manaik turunkan alisnya.


"Tentu saja, memangnya kenapa?" Rachel bukan termasuk gadis yang pemilih.


"Kalau aku pilihnya tempat yang paling mahal bagaimana?" Gide tersenyum jahil.


"Berarti kakak termasuk golongan orang yang tidak tau diri!" Rachel menjawab spontan tanpa dipikir.


"Loh kok?" Gide memicingkan matanya.


"Iya, sudah tau adikmu ini masih sekolah dan belum berpenghasilan, eh malah disuruh traktir kakaknya yang sudah bekerja dengan gaji yang sangat besar ditempat yang mahal. Bukankah itu namanya kakak tidak tau diri?" Rachel berbicara to the point.


"Hahahahah kau itu, kenapa perkataanmu nyelekit sekali sih?" Gide mengacak-acak rambut Rachel.


"Kakkkk, kau ini kenapa sih suka sekali merusak rambutku?" Rachel protes.


"Karena kau sangat lucu kalau sedang marah hahahahaha" Gide tergelak.


"Isshhhh menyebalkan!" Rachel memajukan bibirnya.


"Nah lihatlah di kaca, wajahmu itu sangat jelek, sudah seperti anak TK yang lagi ngambek karena tidak dibelikan mainan oleh mamanya" Gide menunjuk pipi Rachel.


"Itu karena aku memang imut-imut seperti anak kecil!" Rachel tidak peduli dengan ejekan Gide.


"Ck, narsis sekali!" Gide geleng-geleng melihat tingkah ajaib Rachel yang sama sekali tidak peduli dengan komentar orang lain tentang penampilannya.


Kringggggg,,,

__ADS_1


Ponsel Rachel berbunyi dan menunjukkan nama Sera di layarnya.


"Halo, ada apa Sera?" Rachel mengangkat telponnya.


"Kau sedang dimana Rach?" tanya Sera.


"Aku sedang bersama kak Gide mau ke mall untuk membayar hutangku padanya, memangnya kenapa?" Rachel berkata apa adanya.


"Nah kebetulan, aku ingin titip belikan koper yang ukurannya paling besar untuk baju-bajuku nanti saat berangkat ke luar negeri" kata Sera.


"Koper? tapi nanti kalau salah beli bagaimana?" Rachel tidak yakin.


"Aku tidak masalah kok, yang penting ukurannya paling besar dan kuat, karena aku akan membawa cukup banyak barang" Sera meyakinkan.


"Hemmmm baiklah" Rachel akhirnya menyetujui.


"Oke, nanti uangnya aku transfer ya ke rekeningmu" kata Sera.


"Baiklah" Rachel mengangguk.


"Ck, kalau ada maunya saja kau baru memujiku cantik, dasar!" Rachel berdecak.


"Hahahahah, baiklah, sudah ya, bye!" Sera pun tergelak.


"Oke, bye" Rachel menutup ponselnya.


"Sera ya?" Gide penasaran.


"Iya" jawab Rachel singkat.


"Mau apa dia?" tanya Gide sambil menengok ke arah Rachel secara sekilas.

__ADS_1


"Titip beli koper yang ukurannya paling besar untuk dipakai mengemas barangnya" Rachel menjelaskan.


"Apa dia benar-benar ingin kuliah di luar negeri?" Gide khawatir keputusan yang diambil Sera hanya karena emosi sesaat saja.


"Entahlah, tapi aku rasa itu keputusan yang baik, selain memang karena Sera sangat berambisi menjadi seorang designer profesional, ia juga butuh untuk menenangkan dirinya, kalau dia terus ada di sini aku yakin dia akan semakin tersiksa dengan hubungan kak Gamal dan kak Niken!" kata Rachel yang prihatin dengan nasib percintaan Sera.


"Iya juga sih, memang benar apa katamu, lagi pula Gamal itu memang harus diberi pelajaran, biar dia tau rasa kalau nanti Sera pergi jauh, pasti dia akan kelimpungan!" Gide tersenyum puas membayangkan reaksi kakaknya kelak saat Sera sudah pergi.


"Itu dia, akupun berfikir begitu. Apa kakak tau, beberapa waktu lalu saat kak Gamal sudah berjanji ingin memperjuangkan cinta Sera dari Luke, eh kak Gamal malah kembali goyah karena kehadiran kak Niken lagi. Bahkan waktu itu katanya kak Dimas memergoki mereka berciuman mesra di kantor. Aku dan Sera juga pernah melihat mereka makan siang bersama di sebuah restoran. Gila benar kak Gamal itu, tega-teganya dia mengobrak-abrik hati Sera!" Rachel merasa emosi.


"Tentu saja aku tau, kan waktu itu aku dan Dimas yang melihat langsung mereka berciuman. Kakakku itu memang pria bodoh!" Gide sangat muak.


"Benarkah kakak melihat mereka berciuman? jahat sekali sih kak Gamal itu!" Rachel benar-benar berempati kepada Sera.


"Makanya besok kalau kau mau punya pacar harus diseleksi dengan baik ya, jangan asal terima saja, supaya tidak sakit hati!" Gide mengelus rambut Rachel dengan lembut.


"Aku belum mau pacaran kak, aku masih ingin menikmati masa mudaku bersama teman-teman dan keluarga" Rachel masih merasa belum cukup umur.


"Apa kau sama sekali tidak punya seseorang yang kau sukai?" Gide tidak habis pikir dengan sikap Rachel yang super cuek. Padahal jika dilihat dari usianya pasti saat ini harusnya Rachel sedang berada difase galau-galaunya jatuh cinta layaknya remaja pada umumnya.


"Nope!" menggeleng dengan yakin.


"Kau ini memang gadis yang aneh ya!" Gide mengejek Rachel.


"Kalau aku aneh, lalu kakak sendiri apa? sudah tua tapi masih saja jomblo, pacaran saja belum pernah!" Rachel membalas ejekannya.


"Tapi kalau aku kan memang jelas karena fokus berkerja!" Gide menjawab.


"Ya sama saja denganku, aku juga karena fokus mau kuliah dulu!" Rachel tidak mau kalah.


"Ck, dasar!" Gide selalu senang mengacak-acak Rambut Rachel.

__ADS_1


"Kak Gideeeee!" Rachel berkacak pinggang ketika rambutnya benar-benar berantakan, membuat Gide tergelak dengan keras.


Mereka terus saja berdebat hal-hal receh sepanjang perjalanan menuju Mall.


__ADS_2