
Hari-hari berjalan begitu cepat. Kini usia kandungan Rachel sudah genap sembilan bulan.
"Pa, sepertinya mama mulai kontraksi deh" Rachel memberitahukan suaminya ketika mereka sedang makan malam berdua di rumah mewahnya.
"Kalau begitu ayo kita ke rumah sakit" Gide langsung spontan berdiri dan melupakan makanan yang ada di depannya.
"Jangan dulu pa, ini masih kontraksi awal saja kok, kita makan dulu saja ya, nanti kalau sudah lebih sering mama kasih tau papa lagi, biar kita bisa langsung ke rumah sakit" Rachel yang melihat raut panik di wajah sang suami langsung berusaha menenangkannya.
"Kenapa mesti nunggu nanti, sekarang saja, papa gak mau mama dan dedek kenapa-kenapa" Gide memang sangat over protect terhadap istri dan anaknya.
"Tapi pa,," Rachel masih merasa belum perlu ke rumah sakit.
"Tidak ada tapi-tapian, kita ke rumah sakit sekarang juga!" Gide langsung menggendong sang istri menuju mobil.
Setibanya di rumah sakit Gide langsung meminta tim medis membawakan brankar agar Rachel tidak perlu berjalan.
"Pa, mama kan masih bisa jalan" Rachel merasa diperlakukan layaknya seperti orang sakit yang sangat lemah.
"Pokoknya mama gak boleh banyak gerak" Gide tidak bisa terbantahkan.
"Berlebihan sekali sih" Rachel protes.
"Papa bukannya berlebihan ma, tapi ini demi kebaikan mama" Gide bersikeras.
"Ck" Wanita hamil itu hanya bisa berdecak melihat sikap suaminya.
Sementara tim medis yang melayani Rachel hanya senyum-senyum melihat begitu besarnya perhatian Gide kepada sang istri.
..........
"Bagaimana dok kondisi istri dan anak saya?" Gide bertanya setelah sang dokter memeriksa kondisi kandungan Rachel.
"Kontraksinya masih sangat awal tuan, mungkin baru akan lahir beberapa waktu kedepan jika intensitas kontraksinya sudah mulai konsisten dan durasinya lebih sering" jawab sang dokter.
"Tuh kan apa mama bilang, orang masih belum sering kok, papa aja yang keburu panik" Rachel berkata kepada sang suami.
"Ya papa kan cuma takut mama kenapa-kenapa" Gide membela diri.
"Oya dok, apa tidak masalah kalau istri saya mengalami kontraksi dalam jangka panjang seperti ini?" Gide benar-benar tidak ingin melihat istrinya kesakitan.
"Itu memang biasa terjadi pada ibu yang akan melahirkan, semuanya tidak masalah tuan" sang dokter menenangkan Gide.
__ADS_1
"Apa tidak ada cara agar istri saya bisa lebih cepat melahirkan dok?" tanya Gide lagi.
"Emmm, sebenarnya ada tuan, bahkan sangat alami" dokter menganggukkan kepalanya.
"Bagaimana caranya?" Gide bersemangat.
"Berhubungan" jawab sang dokter sambil tersenyum penuh arti.
"Hah? maksudnya?" Pria itu tidak paham dengan perkataan sang dokter.
"Iya, jadi tuan dan nyonya melakukan hubungan" jelasnya sambil menyatukan kedua jari telunjuknya sebagai kode.
"What, berhubungan suami istri? yang benar saja! bukannya malah bahaya dok?" Gide merasa ngeri.
"Tidak tuan, kalau dilakukan secara hati-hati justru akan membantu membuka jalan lahirnya bayi. Kalau tuan dan nyonya ingin mencobanya mungkin nanti bisa dilakukan saat nyonya sudah dipindah ke kamar rawat" sang dokter memberi usul.
"Membayangkannya saja sudah tidak berminat, apa lagi melakukannya" Gide bergidik.
"Tumben papa gak minat, biasanya paling getol" Rachel masih bisa menggoda suaminya disela-sela rasa sakitnya akibat kontraksi.
"Kan waktunya gak tepat ma, segetol-getolnya papa juga tetap tau situasilah" Gide menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Kalau begitu saya pamit dulu, nanti setelah ini perawat akan mengantarkan nyonya ke kamar agar bisa beristirahat sampai waktu persalinan tiba" sang dokter yang menonton keduanya seperti obat nyamuk memilih untuk pamit undur diri.
"Terima kasih dokter" Rachel dan Gide berkata serentak.
"Sama-sama" jawab sang dokter.
..........
"Sayang bagaimana kondisimu?" Ayu sangat cemas mendengar kabar bahwa putri kesayangannya sudah mau melahirkan.
"Aku baik-baik saja mom" Rachel mengembangkan senyumnya meskipun rasa sakit melandanya.
"Apakah belum ada tanda-tanda bukaannya?" Ayu penasaran.
"Belum, sebenarnya kontraksinya masih awal sekali, tapi karena kak Gide panik duluan makanya langsung dibawa kesini" Rachel menjelaskan kepada sang mommy.
"Ohhhhh" Ayu ber oh ria.
"Lalu apa yang kau rasakan sekarang sayang?" Maya juga tidak kalah penasarannya.
__ADS_1
"Tidak ada ma, hanya rasa kontraksi biasa kok" Rachel tidak ingin membuat orang di sekitarnya cemas.
"Grandma gak sabar pengen cepet-cepet ketemu kamu sayang" Grandma Merlyn mengelus perut Rachel.
"Nanti kalau sudah lahir kita main bareng ya?" kini giliran Grandma Ruth yang bicara.
"Terima kasih ya Grandma" Rachel begitu terharu melihat kedua grandmanya yang sangat antusias menunggu bayinya lahir.
"Cucu grandma yang manis, bantu mama cari jalan keluar ya nak" Ananda pun mengelus perut Rachel dengan penuh kasih sayang.
"Iya grandma, siap" Rachel menjawab dengan suara anak kecil, membuat semua yang ada di ruang rawat tergelak.
"Kau harus tenang ya, jangan panik" Gaby menggenggam tangan adik sepupunya itu.
"Aku sih tenang kak, justru yang panik malah kak Gide" Rachel menunjukkan senyum meledek kepada suaminya, membuat Gide memajukan bibirnya.
"Aunty sudah mau lahiran ya? babynya dari mana sih keluarnya?" Diva bertanya dengan polosnya.
"Ehhh? emmmm dari mana ya?" Rachel gelagepan saat ditanya oleh Diva.
"Sayang, auntynya sedang kesakitan, Diva jangan tanya-tanya dulu ya nak biar aunty bisa istirahat" Gaby yang mendengar pertanyaan kritis dari sang putri langsung mengalihkannya. Ia tau kalau Rachel gelagepan karena takut salah menjawab, sehingga Gaby memutuskan untuk menunda menjawabnya sampai ia tau cara menyampaikan yang tepat kepada Diva nanti saat sudah tiba di rumah.
"Iya ma" Diva mengangguk dan disambut dengan pelukan hangat oleh Gaby.
"Syeba, dedeknya mama Rach sudah mau main sama Syeba tuh, panggil yuk" Sera yang paham pun mengalihkan perhatian semua orang dengan mengajak bicara sang putri yang usianya sudah berjalan sepuluh bulan.
"Yuk yuk" jawab Syeba sambil mengangguk-anggukan kepalanya dan menunjuk perut Rachel yang buncit.
Dedek main yuk" Sera mengajari Syeba berbicara.
"Dedededek yuk" Syeba langsung berceloteh mengikuti ucapan sang mama.
"Uhhhhh kakak Syeba pintar ya" Rachel sangat gemas dengan ulah keponakannya.
"Ya ya ya" Syeba kembali mengangguk-anggukan kepalanya membuat yang melihatnya gemas.
"Sini Syeba gendong sama papa" Gamal mengulurkan tangannya untuk mengambil alih sang putri dari istrinya.
"Papapapa" Syeba langsung menyambutnya.
Kehadiran seluruh keluarga memang cukup menjadi hiburan dan mengalihkan Rachel dari rasa sakit akibat kontraksinya yang masih jarang-jarang itu.
__ADS_1