
Saat jam makan siang di kantor pusat Anderson,
"Kau ini kenapa senyum-senyum terus dari tadi? kesambet ya?" Gamal menatap adiknya dengan tatapan aneh dan mengejek.
"Menurutmu?" tanya Gide balik dengan santai tanpa menggubris ejekan sang kakak.
"Sepertinya kau sedang senang ya?" Dimas yang melihat sang sahabat terus menunjukkan wajah sumringah sepanjang hari tergelitik untuk bertanya.
"Iya" Gide hanya menjawab dengan anggukan sambil sibuk menatap layar ponselnya dan tersenyum sendiri.
"Ngomong-ngomong kemarin kau ijin tidak masuk kerja karena apa?" Dimas bertanya lebih lanjut.
"Aku sibuk berduaan di kamar bersama Rachel" jawabnya sambil tetap berkutat pada ponselnya.
"Sibuk berduaan di kamar dengan Rachel?" Dimas dan Gamal bertanya serentak dengan suara yang cukup keras saking kagetnya, membuat semua mata yang ada di kantin karyawan menatap ke arah mereka bertiga.
"Hussss kalian ini kenapa berisik sekali sih? bikin aku malu saja!" Gide akhirnya tersadar kalau mereka berdua sedang mengintrogasinya di depan umum.
"Tunggu! ceritakan pada kami apa yang kalian lakukan sepanjang hari berduaan di dalam kamar?" Gamal tidak peduli dengan wajah adiknya yang merah padam karena semua orang yang ada di kantin sudah mendengar kalau Gide dan sang istri kemarin menghabiskan waktu seharian di dalam kamar.
__ADS_1
"Memangnya menurutmu ngapain lagi kalau suami istri seharian di dalam kamar kalau tidak melakukan itu?" Gide menjawab dengan polos.
"What?" lagi-lagi kedua pria itu tercengang mendengar pernyataan Gide.
"Jadi maksudnya kalian berdua sudah itu?" Dimas terbelalak tidak percaya.
"He em" Gide tersipu malu.
"Bagaimana bisa terjadi?" kali ini Gamal yang tidak percaya.
"Rahasia!" Gide menjawab sekenanya.
"Hehehehe, iya iya aku ceritakan!" Gide terkekeh melihat sang kakak yang sangat kesal.
"Jadi setelah kejadian makan siang di restoran itu, malamnya Rach mendiamkan aku, dia bilang kalau dia kesal karena aku berselingkuh di depan umum, terlebih lagi Gaby dan Sera memergokinya. Lalu aku jelaskan bahwa aku dan Putri hanya sebatas bekerja saja. Awalnya dia tidak yakin, namun ketika aku mulai menyatakan isi hatiku, ia pun mulai terbuka. Malam itu akhirnya Rachel pun mulai luluh, tapi sayangnya saat kami sedang setengah jalan, gangguan datang dan membuat kami gagal melakukannya!" Gide menjeda ceritanya mengingat bagaimana ia kesal dengan ulah Raf dan Rich yang menelponnya pada waktu yang tidak tepat.
"Gangguan?" Gamal dan Dimas bertanya serentak.
"Iya, saat aku hendak membobol gawang Rachel, tiba-tiba saja Raf dan Rich menelpon, alhasil Rachel ngambek karena ia menyangka yang menelponku adalah Putri!" Gide bercerita dengan polosnya, membuat kedua pria itu terbahak-bahak membayangkan betapa pusingnya Gide menahan hasrat yang sudah memuncak.
__ADS_1
"Bwahahahahahaha" Gide pun hanya bisa pasrag ketika keduanya mentertawakan nasib sialnya.
"Lalu bagaimana selanjutnya?" Dimas yang penasaran lanjut bertanya.
"Karena aku merasa kepalang tanggung, maka aku bertekad kalau keesokan harinya aku harus bisa menaklukkan Rachel sepenuhnya! Lalu aku meminta Ijin kepada Ayah, Dad dan juga Papa agar bisa bolos kerja selama sehari untuk menuntaskan misi muliaku itu!" Gide bercerita dengan semangat.
"Lalu?" Gamal sangat kepo.
"Lalu pagi harinya aku mulai merayunya lagi. Aku bilang bahwa aku sangat menginginkannya, merindukannya, menyayanginya dan juga mencintainya. Awalnya dia ragu karena masih teringat akan kedekatanku dengan Putri, tapi setelah aku jelaskan kembali, akhirnya ia pun luluh. Lalu terjadilah hal yang seharusnya memang terjadi diantara kami" Gide kini sudah merasa menjadi laki-laki sejati.
"Berapa kali kalian bermain hah?" Gamal benar-benar dibuat penasaran.
"Entahlah, aku tidak menghitungnya saking lamanya hehehe" Gide kembali membayangkan hari-hari panasnya kemarin bersama sang istri.
"Jadi ini artinya kau dan Rachel sudah benar-benar menjadi pasangan suami istri yang sesungguhnya kan?" Dimas merasa senang dengan pencapaian Gide.
"Entahlah, mungkin secara hubungan fisik sih kami memang sudah benar-benar tidak diragukan lagi, karena dia selalu merespon positif semua yang aku lakukan terhadap dirinya. Tapi sepertinya Rachel masih belum yakin seratus persen akan hatinya, kemarin dia sempat bertanya apa aku bersedia menunggunya sampai cinta di hatinya tumbuh untukku. Mungkin dia masih butuh waktu untuk meyakinkan dirinya bahwa kami memang ditakdirkan untuk bersama sampai maut memisahkan!" Gide menghela nafasnya.
"Sabar bro, Rachel itu masih labil, aku rasa dengan kejadian ini saja kau sudah menang banyak, kau hanya butuh sedikit waktu dan banyak-banyak bersabar. Aku yakin lambat laun dia akan luluh dan benar-benar jatuh cinta padamu!" Dimas membesarkan hati Gide.
__ADS_1
"Semoga saja ya hufffff" Gide sangat berharap.