
Hari-hari berjalan begitu cepat, tidak terasa kejadian antara Rachel dan Gide sudah berjalan hampir tiga minggu. Meskipun Gide dan Rachel jarang bertemu karena kesibukan masing-masing, namun pada kenyataannya Gide selalu memantau keadaan Rachel melalui Gaby dan juga Sera.
"Apa kau jadi fieldtrip ke peternakan di kota sebelah?" Ron bertanya kepada Rachel.
"Iya Dad" Rachel memakan rotinya dengan lahap. Entah mengapa beberapa hari belakangan ini dirinya merasa lebih mudah lapar dari pada biasanya.
"Apa jaket anti air dan payungnya sudah dibawa?" Ayu mengingatkan putrinya.
"Sudah Mom" jawab Rachel sambil mengangguk.
"Jaga kesehatan ya, jangan sampai sakit karena sedang musim hujan begini" kata Ron.
"Siap bosku" Rachel memberi hormat.
"Baiklah, aku berangkat dulu ya, takut nanti terlambat" kata Rachel kepada kedua orang tuanya.
"Hati-hati di jalan ya sayang" Ayu mengecup pipi Rachel.
"Oke Mom" Rachel membalas kecupannya sebelum kemudian ia meninggalkan rumah.
..........
"Heyyy" Anjali melambaikan tangannya kepada Rachel.
"Wah kau sepertinya benar-benar sudah siap ya?" Rachel menatap Anjali yang menenteng kopernya.
"Tentu saja, kalau aku tidak siap nanti bahaya kalau disana terjadi sesuatu" Anjali memang selalu repot jika akan pergi menginap ke luar kota.
"Kau hanya bawa itu?" Anjali menatap ransel Rachel.
"Iya, kan kita hanya tiga hari dua malam, memangnya mau bawa seberapa banyak?" Rachel menjawab dengan santai.
__ADS_1
"Memang cukup?" Anjali tidak habis pikir.
"Tentu saja, bagiku ini lebih dari cukup" jawabnya mengangguk.
"Aneh sekali kau ini, moso mau menginap seperti tidak ada persiapan" Anjali menatap temannya dengan tatapan heran.
"Justru kaulah yang aneh, masa menginap hanya sebentar saja seperti mau pindahan rumah" Rachel menggoda Anjali.
"Aku bukan aneh, tapi hanya ingin memastikan semuanya baik-baik saja!" jawab Anjali.
"Ck, baiklah terserah dirimu saja" akhirnya Rachel menyerah, karena jika dibandingkan dengan dirinya yang hanya membawa tas ransel kecil, barang bawaan Anjali terlihat begitu merepotkan.
..........
"Oke, karena fieldtrip ini adalah kegiatan observasi atau pengamatan lapangan, maka saya dan beberapa dosen akan membagi tiap kelompok kerjanya berdasarkan tingkat atau level kelas kalian, masing-masing kelompok akan berisi mahasiswa dari tingkat pertama hingga tingkat atas secara acak" seorang dosen pembimbing memberi arahan.
"Sekarang silahkan masuk ke dalam bus, karena kita akan berangkat sebentar lagi" kata dosen pembimbing yang lain.
"Maaf, apa ini kosong?" Jonathan bertanya kepada Rachel.
"Iya kak, kosong" Rachel mengangguk.
"Aku duduk sini boleh?" tanya Jonathan lagi.
"Silahkan" jawab Rachel.
"Terima kasih" Jonathan tersenyum manis.
"Sama-sama" Rachel membalas senyumannya dengan sopan.
Rachel dan Anjali duduk di deretan kursi bus yang tersusun untuk tiga orang. Karena Anjali ingin melihat pemandangan luar, maka Anjali duduk di bagian pinggir dekat jendela, sementara Rachel mengalah duduk di bangku tengah karena baginya duduk dimana saja itu sama, dan ketika Jonathan datang, pria itu pun kemudian duduk di bagian pinggir yang dekat dengan gang.
__ADS_1
"Mau?" Jonathan mencoba membuka obrolan dengan Rachel menggunakan camilan.
"Terima kasih kak, saya sudah kenyang" Rachel menolak dengan sopan.
"Ngomong-ngomong kau kenapa memilih jurusan kedokteran hewan?" Jonathan akhirnya memulai percakapan.
"Emmmm kenapa ya? sebenarnya sih awalnya aku tidak mau jadi dokter hewan, tapi kakakku mengarahkan aku untuk kuliah disini" Rachel berkata apa adanya.
"Memang kau mau kuliah apa sebelumnya?" tanya Jonathan.
"Seni tari" jawab Rachel singkat.
"Kau suka menari?" Jonathan mulai punya bahan obrolan.
"He em, aku suka hip hop" angguk gadis itu.
"Wah keren sekali, berarti kau suka ikut kompetisi dong?" Jonathan mulai sok akrab.
"Lumayan, waktu SMA aku dan beberapa temanku suka ikut ajang bakat" Rachel bersemangat bercerita tentang hobinya.
"Lalu kenapa kau tidak ambil seni tari seperti yang kau mau?" pria muda itu menyelidik.
"Momku tidak mengijinkannya, bagi Mom menjadi penari tidak bisa menjanjikan apa-apa untuk masa depan" Rachel kecewa.
"Jangan sedih, kan meskipun kau tidak kuliah seni tari, tapi jika kau tetap tekun, bakatmu akan tetap tersalurkan" Jonathan membesar kan hati Rachel.
"Iya kak, saudara-saudaraku yang laian juga bilang begitu, makanya aku akhirnya kuliah kedokteran hewan saja" jawab Rachel polos.
"Kau itu sangat mengagumkan ya, sangat jujur pula, apa adanya hehehehe" Jonathan benar-benar memuji dari hati.
"Ah kakak bisa saja, bikin aku jadi besar kepala hihihi" Rachel terkikik mendengar pujian itu.
__ADS_1
Sepanjang perjalanan mereka berdua kemudian asik mengobrol hal-hal ringan seputar kehidup sehari-hari masing-masing. Sementara Anjali lelap tertidur di bagian ujung dekat jendela.