
"Jadi kak Gamal benar-benar menyusul Sera ke luar negeri?" Rachel yang sedang main ke rumah Gaby terbelalak saat mengetahui bahwa Gamal pada akhirnya lebih memilih Sera dibandingkan Niken.
"Iya, setelah semua bukti kebohongan Niken ditunjukkan oleh kak Gide, kak Gamal pun akhirnya bisa dengan leluasa mengejar Sera tanpa merasa berdosa kepada Niken" Gaby menjelaskan.
"Kebohongan?" Rachel semakin bingung.
"Jadi sebenarnya Niken tidak pernah sakit gagal ginjal, ia menghilang karena dipaksa menikah dengan seorang pria tua yang sudah beristri demi menebus hutang bisnis ayahnya" Gaby merasa sedih karena sahabat yang ia sayangi telah mengalami nasib yang tidak beruntung.
"Benarkah?" Rachel bingung harus berkata apa.
"Sebenaranya dia itu hanya korban, tapi memang aku akui caranya salah, seharusnya sejak awal dia sudah cerita, aku yakin kak Gamal akan mencarikan solusi dan tidak membiarkan Niken terjebak menjadi korban, lagi pula kalau aku tau, aku juga akan minta tolong sama ayah, uncle dan Om untuk membantunya menyelesai masalah ini!" Gaby menarik nafas panjang.
"Dan yang lebih parahnya lagi adalah dia berbohong kepada kita saat ingin kembali kepada kak Gamal dengan alasan sakit, padahal pada kenyataannya dia kembali karena suaminya sudah meninggal dan anaknya dia titipkan ke panti asuhan" Gaby lagi-lagi menarik nafas panjang.
"Tragis sekali sih nasib kak Niken" Rachel menyesal telah menyindirnya waktu itu.
"Tapi ngomong-ngomong dari mana kakak tau tentang kebohongan kak Niken?" Rachel seperti seorang detektif yang ingin mengorek info sampai detil.
__ADS_1
"Kak Gide merasa curiga, lalu ia meminta bantuan anak buah ayah untuk menyelidiki kehidupan Niken selama empat tahun belakangan ini, dan ternyata semua kecurigaannya benar!" Jelas Gaby.
"Wahhhh kak Gide hebat sekali" Rachel kagum dengan pria tampan yang selama ini sudah ia anggap seperti kakak kandungnya sendiri.
"Ehem, sepertinya ada yang sedang memuji aku nih" tiba-tiba Gide dan Dimas masuk ke ruang keluarga.
"Kak, kau panjang umur sekali, kami sedang membahas tentang kebohongan kak Niken, aku sangat salut padamu" Rachel memberikan jempolnya kepada Gide, membuat yang dipuji tersenyum bahagia.
"Kalian sudah pulang?" Gaby menyambut suaminya dengan pelukan dan kecupan hangat.
"Heyyy, kalian ini kenapa menunjukkan kemesaraan di depan para jomblo seperti kami sih?" Rachel menggerutu kesal.
"Lebih baik kalian berdua jadian saja gih, kan aku sudah sama Gaby, Gamal sedang mengejar Sera, nah kalian bisa lah menyusul!" Dimas berseloroh asal.
"Wahhhh ide yang bagus, jadi keluarga kita semakin erat!" Gaby membayangkan kalau itu benar-benar terjadi.
"Idihhh kakak berdua ngaco, aku sama kak Gide itu sudah seperti kakak dan adik kandung, mana mungkin kami menikah, iya kan kak?" Rachel langsung minta persetujuan Gide dengan merangkul lengan pria tampan itu.
__ADS_1
"Iya benar" Gide asal mengangguk saja tanpa mencerna lagi perkataan Rachel.
"Hemmm, begitu ya?" Dimas hanya manggut-manggut dengan senyum yang sulit diartikan.
"Tapi kalau aku lihat-lihat kalian itu memang cocok loh berdua, persis seperti Sera dan Gamal!" Gaby menatap keduanya secara bergantian.
"Apa sih, sudah deh jangan ngaco!" Rachel selalu jengah setiap membahas soal jodoh.
"Tapi benar lohhhh" Gaby semakin berbinar-binar.
"Sudah ah aku mau pulang saja!" Rachel langsung berdiri.
"Loh kok pulang?" Gaby protes.
"Habis topiknya tidak asik!" Rachel sudah beranjak.
"Ayo aku antar" Gide kemudian mengikuti langkah Rachel menjauhi Gaby dan Dimas.
__ADS_1
"Antar sekalian sampai pelaminan ya!" Dimas menggoda keduanya.
"Apa sih kak Dimas!" Rachel menggerutu sambil terus berjalan menjauh, membuat Gaby dan Dimas tergelak. Sementara Gide hanya senyum-senyum saja melihat reaksi Rachel yang menurutnya sangat menggemaskan.