Cinta Karena Jebakan

Cinta Karena Jebakan
Benar-Benar Nakal


__ADS_3

Pagi hari berikutnya Gide bangun lebih awal, namun demikian ia seolah enggan beranjak dari tempat tidurnya dan lebih memilih berlama-lama menatap wajah imut sang istri yang masih terlelap dibalik selimut. Berkat ulah Rachel yang membuatnya sama sekali tidak bisa berkutik semalam, tentu saja pagi ini Gide menjadi merasa lebih memiliki ekstra kekuatan. Setelah hampir dua minggu di rumah sakit dirinya berjibaku melawan segala kondisi buruk yang menguras hati, tenaga dan pikirannya akhirnya kini kondisi sudah mulai bisa dikendalikan kembali. Ia bahkan tidak menyangka jika sang istri bisa berubah drastis seperti semalam.


"Selamat pagi sayang" sapa Gide dengan senyum sejuta watt saat melihat Rachel mengerjap dan membuka matanya.


"Selamat pagi" Rachel menjawab dengan suara parau khas orang bangun tidur, yang sangat terdengar seksi ditelinga sang suami.


"Apa tidurmu nyenyak?" Gide merapikan anak rambut yang menutupi wajah Rachel.


"He em" angguknya dengan cepat sambil tersenyum.


"Ayo bangun, kita siap-siap untuk sarapan" Gide mengajak sang istri beranjak dari kasur.

__ADS_1


"Gendong" Rachel tiba-tiba merajuk.


"Hemm?" Gide terkejut dengan sikap manjanya.


"Ayo mandi bersama" Rachel berinisiatif.


"Tapi sayang, nanti kalau kita mandi bareng dan aku khilaf bagaimana?" Gide takut jika ia tidak bisa menahan hasratnya untuk menyentuh sang istri.


"Ck, kau ini benar-benar nakal ya" meskipun berdecak, namun dengan cekatan Gide langsung menggendong sang istri menuju kamar mandi.


"Ahhhhhh" lenguhan lolos dari bibir Gide ketika Rachel mulai melucuti semua atribut dari tubuh mereka berdua dan tangannya bergrilya di dada bidang sang suami.

__ADS_1


"Sayang ahhhhhhhh" lagi-lagi Gide tidak bisa mengontrol dirinya saat tangan itu mulai turun ke bagian bawah yang sangat sensitif.


Dengan sangat cekatan Rachel berjongkok dan mulai sibuk dengan milik suaminya yang siap tempur. Suara gemericik air dari shower serta decakan mulut Rachel karena aktivitasnya dibawah sana, dan ditambah dengan lenguhan-lenguhan Gide, membuat suasana di kamar mandi menjadi terasa begitu panas.


"Sayang ahhhhhh aku ahhhhhhhh keluarrrrrrr" Gide bergetar hebat setelah sentakan terakhir yang sangat keras menghantam tangan sang istri. Lagi-lagi Rachel membuat Gide tumbang tanpa perlawanan sama sekali.


"Kau sangat nakal" Gide menarik Rachel agar berdiri menghadap dirinya. Dengan sekali tarik sang istri langsung masuk ke dalam pelukannya. Kecupan lembut pun mendarat di bibir Rachel.


"Terima kasih sayang, aku sangat mencintaimu" Gide benar-benar bahagia karena sang istri kini sudah tidak menunjukkan perasaan sedihnya sama sekali seperti saat di rumah sakit kemarin. Bahkan tanpa di duga Rachel malah bersikap sangat agresif, padahal sebelum tragedi tersebut, biasanya Rachel hanya bisa pasrah dan membiarkan sang suami yang bekerja keras diatas tubuhnya disaat mereka sedang berhubungan.


"Aku juga sangat mencintaimu" Rachel tersenyum manis. Meskipun ia hanya memuaskan sang suami tanpa dipuaskan karena anjuran dokter untuk tidak berhubungan beberapa waktu kedepan, namun rasa bahagia dan puas tetap sangat ia rasakan dengan melihat senyum yang merekah di wajah sang suami. Ia yang merasa bersalah karena terus menerus membuat suaminya bersedih ingin menebusnya dengan bersikap layaknya istri yang baik dan berbakti.

__ADS_1


Setelah aktivitas satu arah itu selesai, mereka pun kemudian segera membersihkan diri dan bersiap-siap sarapan bersama keluarga besar Anderson.


__ADS_2