Cinta Karena Jebakan

Cinta Karena Jebakan
Keguguran


__ADS_3

"Rachellll, bangunlah" Jonathan panik melihat Rachel tidak sadarkan diri dengan bersimbah darah di kakinya.


"Sayang bangunlah" Jonathan langsung menggendongnya menuju ke arah parkiran mobil.


"Berhenti, serahkan nona pada kami!" dua orang pria berbadan kekar menghadang Jonathan.


"Siapa kalian?" Jonathan menghentikan langkahnya.


"Kami adalah bodyguard nona!" salah satu yang berbadan besar merebut Rachel dari gendongan Jonathan.


"Dia wanitaku, jadi aku yang bertanggung jawab!" Jonathan menyatakan kepemilikannya terhadap Rachel dan menolak menyerahkan wanita itu pada sang pria berbadan kekar.


"Jaga sikapmu!" yang satunya lagi menarik Jonathan menjauh dari Rachel dan memitingnya.


Mereka lalu membawa keduanya masuk ke dalam mobil.


Rachel didudukkan di kursi bagian depan mobil bersama sang penggendong yang menjadi sopir, sementara Jonathan dan pengawal yang memitingnya duduk di belakang.


"Nona bertahanlah, kita akan segera sampai di rumah sakit" wajah cemas memenuhi sang supir, sementara yang menjaga Jonathan di belakang berusaha menelpon Gide.


..........


BUGGGG, sebuah pukulan melayang tepat di wajah Jonathan saat Gide tiba di rumah sakit bersama Dimas dan melihat pria itu berdiri mematung di ruang tunggu IGD karena dipiting oleh bodyguard Ron.


"Kurang ajar, berani sekali kau menyentuh istri dan anakku!" Gide tidak bisa mengendalikan emosinya saat melihat pria yang berusaha menggoda istrinya dan mencelakai anaknya itu.


BUGG, BUGG, BUGG, lagi dan lagi Gide menghajar pria itu dengan segala emosinya yang membuncah.


"Cukup Gide, jangan kau kotori tanganmu yang bersih dengan darahnya!" Dimas menarik Gide menjauh dari Jonathan.


"Lepaskan Dim, aku akan membunuh bajingan ini!" Gide gelap mata.


"Kalau kau membunuhnya dan masuk penjara, lalu bagaimana dengan Rachel? dia lebih membutuhkanmu saat ini!" Dimas berusaha membuat akal sehat Gide kembali.


"Arghhhhh!" Gide berteriak frustasi membayangkan kondisi sang istri di dalam sana yang sedang ditangani oleh para tim medis.


"Sabarlah, kita tunggu dokter selesai menangani Rachel" Dimas merangkul sahabatnya yang juga menjadi adik iparnya itu.


"Nak bertahanlah, papa dan mama sangat menyayangimu!" Gide menatap ruang tindakan yang ditutupi tirai melalui jendela besar dengan bulir air mata di pipinya.


"Sampai terjadi sesuatu pada istri dan anakku, kupastikan kau membusuk di penjara!" tatapan mata Gide sangat horor, membuat Jonathan menciut.


..........


"Suami pasien Rachel?" dokter memanggil Gide.


"Saya dok, bagaimana keadaan istri dan anak kami?" Gide gemetaran.


"Istri anda sudah siuman, namun mohon maaf kami tidak bisa menyelamatkan bayinya" sang dokter berkata dengan sedih.


"Tidakkkkk!" Gide limbung.

__ADS_1


"Gide bertahanlah" Dimas menopang tubuh adik iparnya yang hampir terjatuh.


"Saat ini kondisi nyonya Rachel belum stabil, jadi mohon jaga emosinya agar kondisinya tidak semakin buruk" sang dokter mempersilahkan Gide masuk.


"Gide tunggu, tahan emosimu di depan Rach!" Dimas memperingatkan pria itu.


"Aku tau Dim!" Gide mengangguk dan kemudian ia melangkahkan kakinya ke dalam ruangan tempat Rachel dirawat.


"Sayang" Gide menghampiri Rachel yang sedang berbaring.


"Sayang, ada apa dengan anak kita? kenapa perutku begini?" Rachel bertanya kepada sang suami.


"Sayang tenanglah, istirahat saja ya, kau masih belum pulih" Gide mengecup kening Rachel dengan lembut.


"Tidak, aku mau penjelasan, katakan bagaimana kondisi anak kita!?" Rachel berusaha duduk.


"Sayang jangan begini, tenanglah" Gide menahan Rachel.


"Apa anakku baik-baik saja? katakan apa yang sebenarnya terjadi?" Rachel menatap sang suami yang meneteskan air mata.


"Apa dia baik-baik saja?" ulang Rachel.


"Jawabbbbbb!" Rachel memakasa.


"Maaf" hanya kata maaf yang mampu keluar dari mulut Gide. Hatinya begitu sesak melihat kondisi sang istri.


"Tidak, tidak mungkin, kau bohongkan? tidak, tidak boleh!" Rachel memberontak dan berhasil duduk.


"Sayang tenanglah" Gide memeluk sang istri yang sedang terguncang.


"Kebalikan anakku, jangan bawa anakku pergi!" Rachel terus saja meracau.


"Sayang jangan begini!" Gide hanya bisa memeluk erat sang istri.


"Anakku, aku mau anakku, cepat bawa dia kesini!" Rachel meratapi nasib bayinya.


"Istirahatlah dulu agar kondisimu pulih sayang" Gide terus berusaha menenangkan Rachel.


"Bagaimana aku bisa beristirahat kalau anakku tidak ada di sisiku!?" Rachel marah.


"Maaf, maafkan aku karena belum bisa menjadi suami dan ayah yang baik untuk kalian" Gide meneteskan air matanya.


"Kenapa ini harus terjadi padaku? disaat aku sudah sangat menyayanginya!" Rachel merasa dunia tidak adil.


"Sayang" Gide mengelus punggung Rachel.


"Ahhhhhhhhhh" Rachel memegangi perutnya yang terasa nyeri.


"Sayang ada apa?" Gide menjadi panik melihat sang istri kesakitan.


"Perutku ahhhhh" kemudian Rachel pingsan.

__ADS_1


"Sayang bangun, Rach bangunlah!" pria itu ketakutan setengah mati.


"Biar aku panggilkan dokter" Dimas yang sejak tadi menyaksikan keduanya di dalam ruangan kemudian mengambil insiatif.


Sementara Jonathan yang berdiri di ambang pintu dengan diapit oleh kedua bodyguard dan melihat interaksi pasangan suami istri yang meratapi kepergian anak mereka ini, hanya diam seribu bahasa dengan ekspresi wajah yang tidak dapat diartikan.


"Mohon anda keluar dulu, kami akan memeriksa keadaannya" kata sang dokter yang hendak memeriksa kondisi Rachel.


..........


Satu-persatu anggota keluarga Anderson mulai berdatangan. Duo grandma, Ayu, Maya, Ananda dan Gaby tidak henti-hentinya menangis meratapi nasib malang Rachel. Raf dan Rich yang menjadi dalang jebakan malam pengantin juga tidak kalah terpuruknya, karena merasa nasib malang yang dialami Rach secara bertubi-tubi adalah akibat ulah mereka. Sementara Ron, George dan Mike sibuk berdiskusi dengan Dimas untuk menangani kasus Jonathan dan menyeretnya ke ranah hukum sebagai tindakan pembunuhan.


"Grandma, kita pulang saja yuk, di sini sudah ada banyak orang yang menjaga Rachel" Gaby yang melihat kedua neneknya bersedih tidak tega.


"Benar, duo grandma pulang sama kami saja ya, nanti biar Gaby dan anak-anak yang menemani grandma di rumah utama, sementara aku akan mengurus sang pelaku ke kantor polisi" kata Dimas.


"Tapi aku mau menunggu cucuku!" kata grandma Ruth.


"Aku juga!" grandma Merlyn tidak mau kalah.


"Menunggunya dari rumah saja bersama Diva dan Divo" kata Gaby.


"Iya ma, lebih baik mama dan aunty pulang saja dulu untuk istirahat, kan sudah banyak orang yang menjaga" Ananda berkata kepada mertuanya.


"Iya benar, mom pulang saja" Ayu menambahkan.


Akhirnya dengan segala bujuk Rayu, duo grandma pun pulang ke rumah utama bersama Gaby dan keluarga kecilnya. Meninggalkan para orang tua, Raf dan Rich yang masih setia menemani Gide.


"Bagaimana keadaan Rachel?" Sera bertanya kepada semua orang yang ia temui di ruang tunggu IGD saat baru tiba bersama Gamal dari pernikahan teman kampusnya Inka.


"Bayi kami tidak selamat" Gide menjawab dengan menahan sesak di dadanya.


"Ya Tuhan" Sera langsung limbung seketika dan air matanya tak bisa terbendung.


"Sayang ayo duduk dulu" Gamal memapah Sera ke salah satu kursi kosong.


"Aku tidak bisa membayangkan kalau harus kehilangan anakku" Sera mengelus perut buncitnya.


"Sayang jangan berfikir macam-macam" Gamal memeluk istrinya yang terguncang.


"Rachel pasti sangat sedih" Sera terisak.


"Bagaimana keadaan istri saya dok?" Gide berjalan menuju salah seorang dokter yang baru selesai menangani Rachel.


"Masa kritisnya sudah lewat, tapi kondisinya masih belum stabil, pasien jangan diajak berkomunikasi dulu ya biar tenang" Dokter menginformasikan keadaannya serta memberi saran.


"Tapi saya boleh menemuinya kan dok?" Gide ingin segera berada di samping Rachel.


"Tentu saja, sebentar lagi pasien akan dipindakan ke ruang rawat biasa, jadi sudah bisa di jenguk" sang dokter mengangguk.


"Terima kasih dokter" Gide sudah sedikit bisa tersenyum ditengah rasa sedihnya.

__ADS_1


__ADS_2