
"Selamat pagi" Gide menyapa seluruh keluarga Anderson yang sedang sarapan di meja makan super besar di rumah utama itu.
"Selamat pagi" jawab Ron, George dan Mike yang sudah ada di meja makan terlebih dahulu dengan serempak.
"Duduk sayang, kau mau sarapan apa pagi ini?" Maya dengan cekatan menarik kursi kosong yang tepat berada di sebelahnya berdiri agar dapat diduduki oleh menantunya saat ia sedang menata meja makan.
"Roti saja ma" Rachel menjawab dengan senyuman.
"Biar mama ambilkan ya" Maya sudah bersiap namun tangan Rachel mencegahnya.
"Biar aku sendiri saja" ia tidak mau merepotkan Maya.
"Baiklah, kalau begitu makan yang banyak ya" kata Maya sambil mengelus kepala menantunya.
"Iya ma" angguk Rachel.
"Sayang kau sudah bangun? bagaimana kondisimu?" Ayu yang sedang membawa nasi goreng dari arah dapur menyapa putrinya.
"Aku baik mom" Rachel mengembangkan senyumnya.
"Syukurlah" Ayu mengecup pucuk kepala Rachel saat ia sudah meletakkan nasi gorengnya di atas meja makan. Meskipun Rachel sudah menikah dan menjadi istri orang, bahkan sudah hampir menjadi seorang ibu, namun Ayu tetap menganggapnya seperti bayi kecilnya yang menggemaskan.
"Selamat pagi" Dimas muncul sambil menuntun Divo dan menggendong Diva yang sedang merajuk karena mencari mamanya yang sedang sibuk memasak sarapan di dapur bersama para grandma.
"Selamat pagi" jawab semua yang sudah mulai berkumpul.
"Kakak duduk di sini ya?" Dimas menarik sebuah kursi untuk Divo.
"Iya pa" Divo langsung melesat duduk manis menuruti instruksi sang papa.
"Diva kenapa?" Rachel menatap keponakannya yang berlinang air mata.
"Biasalah, anak mama" jawab Dimas sambil mencari posisi duduk yang nyaman dan memangku putri bungsunya itu.
"Mau sama aunty?" Rachel mengulurkan tangan.
__ADS_1
"Mau mama saja" jawabnya sambil merajuk.
"Oh, ya sudah" Rachel kemudian melanjutkan makannya.
"Aku mau sama mama paaaa" sementara Diva terus merajuk ke arah Dimas.
"Sebentar lagi ya, mama kan sedang memasak" Dimas mencoba membujuk.
"Hiks hiks" tangis Diva terus saja pecah.
"Ada apa?" Gaby yang baru muncul dari dapur langsung mendekat ke arah sang suami yang memangku putri mereka dan duduk disebelahnya.
"Tuh mama sudah datang" Dimas menunjuk istrinya.
"Kenapa hemmm? mimpi buruk lagi?" Gaby yang sudah paham kondisi putrinya langsung meraih tubuh Diva dalam pelukannya. Diva memang selalu merajuk dipagi hari jika ia habis mengalami mimpi buruk, dan baru akan tenang jika Gaby sudah memeluknya.
"Mau sama grandma?" Ananda yang berdiri di belakang Gaby membujuk sang cucu.
"Mau sama mama saja hiks hiks" Diva bergelayut manja.
Tanpa terasa air mata Rachel lolos begitu saja melihat adegan keluarga kecil sang kakak yang begitu harmonis. Ia membayangkan jika itu adalah dirinya, Gide dan anak-anak mereka.
"Sayang" Gide mengelus punggung Rachel dengan lembut untuk mengembalikan kesadarannya. Ia tau jika sang istri pasti sedang membayangkan anak mereka.
"Ya?" Rachel langsung menghapus air matanya.
"Ayo lanjutkan" Gide menyuapi Rachel sepotong roti.
"Iya" Rachel pun berusaha tersenyum meskipun hatinya sangat sedih mengingat anaknya yang telah pergi.
Sementara anggota keluarga yang lain hanya bisa menatap Rachel dengan iba sepanjang acara sarapan bersama berlangsung dan berdoa agar wanita itu bisa tabah menghadapi cobaan yang sedang dialaminya tersebut.
"Ngomong-ngomong, kemana Sera dan Gamal?" tanya Mike memecah kecanggungan.
"Paling juga lagi wik wik" seloroh Raf dengan santai.
__ADS_1
"Wik wik?" George memicingkan mata karena tidak paham.
"Iya wik wik" Raf mengangguk sambil mengunyah nasi goreng dari piringnya.
"Apa itu wik wik?" George kembali bicara.
"Nganu om" jawab Rich sambil menyatukan telunjuknya.
"Ohhhhh" George ber oh ria saat paham maksudnya.
"Getol sekali mereka, sepertinya seru kalau diganggu" Ron menyunggingkan senyum jahilnya.
"Hey jaga otakmu!" Mike yang sudah membaca jalan pikiran sang adik langsung menyambar.
"Cih, seperti kau tidak pernah mengganggu orang saja, apa kau lupa dulu sering mengerjai aku?" Ron ingat masa-masa dulu saat Ayu mengandung sikembar, Mike kerap mengetuk pintu kamarnya tengah malam, membuat aktivitas menjenguk sikembar jadi gagal total.
"Loh kalau aku kan memang tidak sengaja, mana aku tau kalau kau dan Ayu sedang wik wik" Mike meniru bahasa anak muda jaman sekarang sambil menautkan dua telunjuknya.
"Alah alasan saja kau ini" Ron tidak terima dengan jawaban sang kakak.
"Hey kalian tidak lihat ada Diva dan Divo? bicara melantur!" George menegur dua besannya yang selalu layaknya anjing dan kucing.
"Upssss" Mike yang sadar bahwa kedua cucunya mendengar perdebatan tidak berfaedah itu pun sontak menutup mulutnya rapat-rapat.
"Dasar Anderson!" Grandma Merlyn berseloroh.
"Benar-benar keturunan Anderson!" Grandma Ruth pun menimpali.
Sementara semua anggota keluarga yang lain hanya geleng-geleng kepala saja melihat ulah kedua pria paruh baya itu.
Suasana perdebatan unfaedah yang ramai itu pun seketika bisa mengalihkan perasaan Rachel yang awalnya buruk menjadi kembali baik. Senyum dan tawa kembali menghiasi wajahnya saat melihat sang Daddy dan Ayah beradu argumen tidak jelas. Ia sangat bersyukur berada di tengah-tengah keluarga yang harmonis dan saling menyayangi, meskipun kadang dengan cara yang unik seperti Dad dan Ayahnya barusan.
"Semoga kau selalu bahagia nak" batin Grandma Ruth sambil menatap cucunya dengan sendu.
"Semua pasti akan baik-baik saja" sementara Grandma Merlyn yang seolah paham isi hati sang adik mengelus tangannya untuk memberikan kekuatan.
__ADS_1