Cinta Karena Jebakan

Cinta Karena Jebakan
Rencana Kedua


__ADS_3

Meskipun sudah mengetahui secara langsung dari mulut Gide bahwa suaminya itu akan lembur di kantor bersama sang sekertaris dan tidak akan pulang ke rumah hingga esok hari, namun Rachel tetap saja merasa cemas. Ia merasa gelisah luar biasa saat malam hari tiba.


"Kenapa telponku tidak diangkat ya?" ia bermonolog.


"Kak ayo dong angkat telponnya!" Rachel berjalan mondar-mandir di dalam kamar.


Ia mencoba beberapa kali melakukan panggilan keluar namun panggilannya tersebut dialihkan oleh operator.


"Ck, menyebalkan sekali!" Rachel yang kesal akhirnya melemparkan ponselnya ke atas kasur dan berjalan menuju halaman depan.


"Nyonya anda belum tidur?" seorang pelayan bertanya kepada Rachel yang sedang berjalan-jalan di taman depan untuk menghilangkan rasa kesalnya karena Gide tak kunjung mengangkat telponnya.


"Belum, aku tidak bisa tidur" jawab Rachel sambil menggelengkan kepalanya.


"Tapi di luar sini anginnya sangat kencang nyonya, anda bisa sakit jika berlama-lama di luar" kata pelayan itu lagi.


"Aku akan masuk sebentar lagi, kau jangan cemas" Rachel meyakinkan sang pelayan.


"Kalau begitu biar saya ambilkan selimut untuk anda ya?" pelayan itu terlihat sangat mencemaskan Rachel.

__ADS_1


"Tidak usah, aku sebentar lagi akan masuk kok, kau lebih baik istirahat saja" Rachel menolaknya dengan cepat.


"Baiklah, kalau begitu saya permisi" meskipun merasa tidak enak hati, namun sang pelayan tersebut hanya bisa mengikuti perintah Rachel.


..........


Sementara itu, Gide yang sedang berada di kantor pusat Anderson, khususnya di ruang kerjanya bersama Raf dan Rich, sedang melangsungkan rencana kedua mereka dengan memperhatikan gerak-gerik Rachel yang terlihat begitu gelisah melalui kamera CCTV yang terpasang di setiap sudut ruangan rumah mewah milik Gide dan Rachel tersebut.


"Apa kita tidak keterlaluan? ini sudah pukul dua dini hari dan Rachel sama sekali belum tidur, aku khawatir akan terjadi sesuatu pada Rachel dan bayi kami!" Gide menunjukkan raut cemasnya saat melihat Rachel mondar-mandir tanpa tujuan di dalam kamar mereka setelah ia kembali dari halaman depan.


"Kak tenanglah, ini hanya untuk malam ini saja kok, bukankah dengan begini kita bisa melihat bahwa Rachel sesungguhnya sangat peduli padamu, hanya saja dia belum sepenuhnya sadar akan perasaan itu!" Raf menenangkan Gide.


"Apa kakak mau menyerah sebelum berjuang?" Rich menatap kakak iparnya dengan tajam.


"Hufffffff" Gide hanya bisa mendesah karena perasaannya sangat galau melihat Rachel yang tidak kunjung tidur.


"Dia sepertinya sudah mulai mengantuk, aku rasa sebentar lagi dia pasti akan tidur" Raf memprediksi gerakan Rachel yang sudah mulai tenang dan kemudian duduk di sofa di dalam kamarnya yang dekat dengan tempat tidur.


"Maafkan aku Rach" Gide sangat sedih.

__ADS_1


"Dia sudah tertidur" Rich menatap saudara kembarnya yang tertidur di sofa dengan posisi duduk.


"Aku ingin pulang" Gide langsung berdiri dan meraih kunci mobilnya.


"Hey kak ini masih jam tiga pagi loh!" Raf berteriak saat Gide sudah hampir menutup pintu ruangannya, meninggalkan kedua adik iparnya begitu saja.


"Dia sepertinya sudah benar-benar bucin dengan Rach!" Rich tersenyum senang, baginya jalan untuk membuat saudara kembarnya bersatu dengan sang suami semakin terbuka lebar.


"Ya sudah, kalau begitu ayo kita pulang juga, aku sudah sangat ngantuk!" Raf kemudian berdiri dan mematikan lampu ruangan tanpa aba-aba, membuat Rich yang belum siap terkejut.


"Hey, gelap tau, dasar bocah tengik!" Rich memaki kakak sepupunya yang sudah melenggang jauh meninggalkannya di dalam ruangan dengan tangan yang meraba-raba dalam gelap. Sementara yang dimaki malah tergelak melihat sepupunya itu gelagapan dikegelapan.


..........


Setibanya di rumah, Gide langsung membersihkan diri di dalam kamar mandi dengan mengendap-endap. Ia tidak ingin Rachel yang baru terlelap sekitar tiga puluh menit terbangun. Ketika dirinya sudah bersih dan berganti pakaian tidur, Gide kemudian menggendong sang istri dari sofa untuk kemudian direbahkan di atas tempat tidur.


"Selamat tidur sayang, semoga mimpi indah ya, maafkan aku yang telah membuatmu menunggu" Gide ikut berbaring di sebelah Rachel dan memeluk istrinya itu dengan penuh kasih sayang.


Di dalam mimpinya Rachel seperti merasa Gide sudah pulang dari kantor dan memeluknya dengan lembut serta memanggilnya 'sayang'. Rachel yang sudah terlelap dan merasa nyaman di dalam pelukan Gide pun membalas pelukan itu dengan sangat erat. Ia juga menelusupkan kepalanya di dada sang suami yang bidang dan hangat itu tanpa sadar. Ia tersenyum dalam tidurnya karena akhirnya pria yang ia nantikan sejak sore sudah kembali pulang dengan selamat.

__ADS_1


__ADS_2