Cinta Karena Jebakan

Cinta Karena Jebakan
Sudah Mulai Mencair


__ADS_3

Seminggu berlalu sejak acara pernikahan Rachel dan Gide, kini usia kandungan Rachel sudah berjalan delapan minggu.


"Apa kau yakin ingin masuk kuliah hari ini?" Gide ragu dengan keputusan Rachel yang ingin kembali beraktivitas di kampus.


"Iya kak, kan aku sudah ijin tidak masuk kuliah hampir tiga minggu, bisa-bisa nanti aku tidak lulus tepat waktu lagi" kata Rachel sambil mengerucutkan bibirnya.


"Bagaimana dengan kondisi mual dan muntahmu?" Gide ingin memastikan semuanya baik-baik saja.


"Sudah lumayan berkurang, tidak apa-apa kok" Rachel menggelengkan kepalanya.


"Baiklah, kalau kau merasa kuat, aku akan mendukungmu" Gide memang tidak ingin mengekang sang istri untuk tidak beraktivitas karena itu pasti akan membuatnya tertekan dan stres.


"Terima kasih" senyum Rachel terkembang.


"Cepat habiskan sarapannya, lalu setelah itu aku antar kau ke kampus" kata Gide sambil menunjuk makanan yang ada di piring Rachel.


"Oke" meskipun hati Rachel hingga detik ini masih belum siap memasuki jenjang pernikahan dan memiliki suami apalagi anak, namun dengan sikap Gide yang selalu mengemongnya membuat gadis itu merasa nyaman berada di dekatnya. Gide tidak pernah memaksakan kehendaknya sebagai seorang suami dan selalu menuruti semua yang Rachel inginkan.


..........


"Hati-hati ya di kampus, nanti kalau ada apa-apa kau harus langsung menghubungi aku oke?" Gide mengelus kepala Rachel ketika mereka dalam perjalanan menuju kampus.


"Iya" Rachel mengangguk.


"Oya, nanti siang jangan lupa harus tepat waktu untuk makan, kemudian minum vitaminnya juga ya" Gide menambahkan sambil tetap fokus menyetir, sementara sang istri duduk manis di sebelahnya.


"Oke" Rachel mengangguk kembali.

__ADS_1


"Apa susunya sudah kau bawa? jangan lupa minum susunya juga ya supaya nutrisimu tetap terpenuhi selama melakukan aktivitas kuliah" Gide lagi-lagi mengingatkan.


"Kaaaakkkkk, kau kenapa cerewet sekali seperti mommy sih?" Rachel protes dengan sikap suaminya yang begitu over protect.


"Maaf, aku hanya ingin memastikan kau baik-baik saja selama aku tidak di dekatmu" Gide yang sudah tidak bisa mengambil cuti lagi karena jatah cutinya sudah habis akibat menjaga Rachel di rumah sakit dan saat mereka menikah pun terpaksa merelakan istrinya berangkat kuliah sendiri.


"Aku ini hanya kuliah, bukannya mau pergi ke medan perang!" Rachel mengerucutkan bibirnya.


"Iya, maaf maaf" Gide mengacak-acak rambut Rachel.


"Kakkk,,, rambutku!" Rachel kembali protes karena tatanan rambutnya berantakan membuat Gide yang melihat wajah cemberut nan imut itu tergelak.


"Nanti siang aku jemput ya, kalau kau sudah mau selesai kuliah kabari aku oke?" Gide menghentikan mobilnya di depan gedung tempat Rachel berkuliah.


"Memangnya kakak hari ini pulang siang?" seingat Rachel jam pulang kantor di perusahaan Anderson itu sore hari.


"Lalu kenapa kau menjemputku siang hari?" Rachel menatap sang suami dengan intens.


"Ya karena aku mau menjemputmu saja" seloroh pria itu.


"Memang boleh?" Rachel memicingkan matanya.


"Boleh atau tidak, aku akan tetap menjemputmu, aku tidak peduli" Gide yang baru pertama kali menjadi calon ayah merasa sangat perlu menjaga buah hatinya itu.


"Tidak, aku tidak mau kau jemput!" Rachel menolak dengan keras.


"Kenapa?" Gide heran.

__ADS_1


"Kalau kau sering cuti dan ijin nanti bisa-bisa dipecat, kalau kau dipecat lalu aku dan dia mau makan apa hah?" Rachel membayangkan masa depannya akan semakin suram bila sang suami menjadi pengangguran.


"Hemmm iya juga ya?" Gide menggosok-gosokkan tangannya ke dagunya.


"Aku nanti pulang naik taksi online saja" Rachel yang sudah terbiasa mandiri berkata dengan tegas.


"Apa kau yakin?" Pria tampan itu ragu-ragu.


"Tentu saja, kakak tidak usah khawatir aku kan sudah biasa. Kau kan sudah banyak bolos, jadi lebih baik fokus saja bekerja" kata Rachel meyakinkan sang suami.


"Baiklah, tapi nanti kabari aku ya" Gide tetap masih ragu.


"Iya" kemudian ia membuka sabuk pengamannya.


"Eh Rach tungguuuuu" Gide menahan sang istri.


"Apa lagi?" Rachel tidak sabaran.


"Ini" sambil menunjuk pipi.


"Apa?" wanita hamil itu bingung.


"Kiss?" Gide mengerling jahil.


"Ogahhhh" spontan Rachel menutup pintu mobilnya dan berjalan menjauh dari sang suami, membuat yang berada di dalam mobil tergelak hebat.


"Rachhhhh Rachhhhh, kau itu lucu dan menggemaskan sekali sih" Gide geleng-geleng kepala setelah sukses menjahili sang istri.

__ADS_1


Setelah obrolan ringan mereka beberapa waktu yang lalu, kini hubungan keduanya sudah mulai mencair kembali. Rachel yang sudah menyadari bahwa Gide begitu baik kepada dirinya dan juga anak mereka bertekad untuk membalas semua sikap baik itu.


__ADS_2