Cinta Karena Jebakan

Cinta Karena Jebakan
Gide Sangat Kacau


__ADS_3

"Ini, terima kasih" Gide mengembalikan ponsel sang kakak.


"Kau kenapa lagi dengan Rachel? bukankah kau bilang kemarin kalau kalian sudah mulai membaik?" Gamal memperhatikan wajah Gide yang terlihat sangat kusut. Terlihat kantung mata Gide begitu hitam, tanda jika semalam ia tidak tidur dengan nyenyak atau bahkan mungkin tidak tidur sama sekali.


"Tidak apa-apa" Gide berusaha menutupi situasi yang sesungguhnya terjadi antara dirinya dan sang istri.


"Kau itu tidak pandai berbohong" Gamal menatap tajam wajah sang adik.


"Sudah aku katakan tidak ada apa-apa, ya berarti memang tidak ada apa-apa!" suara Gide meninggi.


"Ck, ya sudah kalau memang tidak mau dibantu!" Gamal kemudian meninggalkan sang adik di ruangannya begitu saja. Ia yang memahami tabiat Gide jika sedang menghadapi masalah berat, sengaja memberinya waktu untuk menenangkan diri terlebih dahulu, karena jika terus dipaksa yang ada Gide malah akan semakin tertutup.


"Kenapa sih ini pekerjaan sulit sekali!" Gide menyalahkan pekerjaan yang sedang ia kerjakan, padahal kenyataannya ialah yang sedang tidak konsentrasi dalam bekerja karena masalah yang sedang ia hadapi bersama Rachel.


..........


"Sekian presentasi dari saya, jika ada yang ingin ditanyakan dipersilahkan waktu dan tempatnya" seorang manager marketing sedang mempresentasikan produk baru yang akan diluncurkan oleh perusahaan Anderson kepada Dimas, Gamal dan Gide di ruang rapat.


"Aku rasa semuanya cukup menarik, mungkin hanya perlu dipertimbangkan harga jualnya saja, pastikan jika produk tersebut bisa menjangkau semua lapisan masyarakat, sehingga semua orang bisa menikmatinya tanpa harus merogoh tabungan mereka terlalu mahal!" Gamal memberi usul.

__ADS_1


"Baik tuan" sang manager mengangguk sambil mencatat usulan yang diberikan.


"Aku setuju dengan usul Gamal, pastikan bahwa produk kita tetap berkualitas meskipun bisa menjangkau semua lapisan masyarakat! Gide, bagaimana menurut pendapatmu?" Dimas yang melihat Gide melamun sejak awal rapat bertanya.


"Eh apa?" Gide gelagapan.


"Bagaimana pendapatmu tentang produk ini?" Dimas mengulangi pertanyaannya.


"Aku ikut saja keputusan kalian berdua" Gide yang sama sekali tidak menyimak presentasi sang manager terpaksa menyerahkan semua keputusan kepada Dimas dan Gamal.


"Baiklah, kalau begitu kita uji cobakan dulu produknya, setelah itu kita bisa melihat reaksi pasar, dan kemudian kita bisa melakukan evaluasi lebih lanjut untuk memperbaiki kualitasnya jika memang masih ada yang kurang!" Dimas mengambil keputusan dan didukung anggukan oleh Gamal.


"Kalau begitu rapat ini selesai" Dimas menutup rapatnya.


"Baik tuan saya permisi dulu ya" manager tersebut pun kemudian meninggalkan ruang rapat.


"Kau kenapa?" Dimas yang melihat Gide tidak konsentrasi sepanjang rapat berlangsung menatap penasaran.


"Tidak apa-apa" Gide mencoba mengelak.

__ADS_1


"Apa ini tentang Rachel?" Dimas menerka-nerka.


"Aku baik-baik saja" Gide berusaha menutupi masalahnya.


"Kalau kau tidak bisa jujur pada kami, setidaknya jujurlah pada dirimu sendiri, kau tidak akan pernah bisa menyelesaikan semua masalahmu dengan Rachel kalau kau sendiri saja masih membohongi hati kecilmu!" Gamal berusaha membuat pikiran Gide terbuka.


"Apa maksudmu?" Gide menatap tajam ke arah sang kakak.


"Aku tau kau tau jawabannya, hanya saja kau berpura-pura tidak tau dan terus bersandiwara!" kata Dimas yang sudah cukup berpengalaman soal cinta.


"Jangan sok tau kalian!" Gide yang mulai kesal kemudian meninggalkan ruang rapat.


"Sepertinya dia masih butuh waktu" Gamal menatap punggung adiknya yang pergi meninggalkan ruang rapat begitu saja.


"Dia sangat naif, bahkan lebih naif dari dirimu dulu yang terlihat begitu bodoh saat mengejar Sera hahaha" Dimas mengingat bagaimana dulu Gamal juga sempat kacau saat kehilangan Sera.


"Sialan kau, kenapa jadi aku yang kau bully hah?" Gamal melempar pulpennya ke arah Dimas, membuat pria itu semakin tergelak ketika pulpennya tidak tepat sasaran.


Sementara Gide yang sangat kacau hanya bisa melamun sepanjang hari di ruang kerjanya tanpa menyelesaikan satu pekerjaan pun yang seharusnya ia kerjakan.

__ADS_1


__ADS_2