
Tok Tok Tok,,
"Rach, apa aku boleh masuk?" Sera bertanya kepada Rachel.
"Masuklah!" Rachel menjawab segera.
"Kau kenapa?" tanya Sera yang terlihat lesu.
"Entahlah, aku agak sedikit tidak enak badan dua hari belakangan ini" Rachel merebahkan kembali tubuhnya di tempat tidur.
"Apa kau sudah ke dokter?" Sera khawatir.
"Belum, semoga saja besok sudah tidak apa-apa!" Rachel adalah termasuk orang yang anti dengan dokter dan rumah sakit, sebisa mungkin jika memang tidak terlalu parah ia lebih memilih untuk beristirahat di rumah.
"Semoga saja ya" Sera merasa kasihan melihat adik sepupunya sangat tidak bersemangat.
"Oya, aku dengar dari temanku kau menjadi panitia inagurasi ya?" Rachel penasaran dengan info yang ia dapatkan.
"Hufffff iya, aku diminta oleh pak Arnold, dosen yang menjadi pendamping panitia, padahal sesungguhnya aku malas!" Sera kemudian menghempaskan diri di sebelah Rachel.
"Loh memang tidak ada orang lain selain dirimu?" Rachel merasa aneh.
"Nah itu dia, kalau kata teman-temanku pak Arnold itu suka sama aku dan sedang berusaha melakukan pendekatan" Sera akhirnya melakukan sesi curhat dengan sepupunya.
"Pendekatan? maksudnya dia naksir?" Rachel terbelalak.
__ADS_1
"He em, kata mereka sih dia begitu!" Sera mengangguk.
"Memangnya kau tidak bilang pada dosenmu itu kalau kau sudah menikah dan punya suami?" tingkat rasa ingin tau Rachel meningkat tinggi, bahkan seketika rasa lemasnya hilang.
"Sudah, aku sudah bilang kalau aku sudah menikah dan punya suami, tapi dia tidak percaya, bahkan tadi saat mama Maya menelpon dan aku bilang bahwa mama Maya adalah mertuaku dia malah tertawa terbahak-bahak, dia bilang masa gadis kecil sepertiku sudah menikah? kan aneh dia bikin kesal saja!" Sera mengadu tentang rasa kesalnya kepada Arnold yang tidak percaya kalau dirinya sudah menikah.
"Hemmmmm, dia tidak salah seratus persen sih, soalnya memang benar, usiamu itu masih terlalu kecil untuk ukuran wanita yang sudah siap menikah, kau saja yang sudah terlalu ngebet dan doyan hahahah" Rachel malah memanfaatkan kekesalan Sera untuk dijadikan bahan ejekan.
"Ihhh kau ini jahat sekali sih? aku lagi curhat dan kesal kau malah mengejek, menyebalkan, sudah ah aku pergi saja!" Sera kemudian bersiap untuk berdiri.
"Ehhhh mau kemana, masa begitu saja ngambek, iya maaf, maaf, hahahaha" Rachel memang selalu senang melihat sepupunya kesal.
"Tau ah!" Sera memasang wajah pura-pura cemberut.
Tok Tok Tok,,,
"Oke mom" jawab Sera.
"Cepat yaaa" Ayu kemudian kembali turun ke bawah.
"Ayo!" Sera kemudian menuntun Rachel yang masih terlihat lemas.
"Rach, bagaimana kondisimu sayang?" Ananda memegang kening keponakannya saat Rachel dan Sera sudah berada di ruang makan.
"Aku sudah lebih baik bun" Rachel berusaha sebaik mungkin untuk tidak membuat orang lain cemas.
__ADS_1
"Tante buatkan bubur ya?" Maya yang sudah menganggap Rachel putrinya sendiri pun sama cemasnya.
"Tidak usah tante, aku tidak apa-apa kok, mungkin hanya kecapekan saja, kan kemarin pas lagi fieldtrip cuacanya sangat tidak bagus" Rachel berusaha berpositif thinking meskipun sesungguhnya hatinya berkata bahwa mungkin ini gejala hamil.
"Rach bantu aku sama Sera yuk" Gaby menarik Rachel ke dapur diikuti oleh Sera yang berjalan dibelakangnya.
"Apa kau baik-baik saja?" Gaby menatap lekat wajah sang adik yang terlihat pucat.
"Iya kak, aku baik-baik saja" Rachel paham maksud Gaby dan Sera yang sengaja menariknya ke dapur.
"Apa kau sudah datang bulan?" Gaby bertanya lagi.
"Belum kak, kan periodenya masih beberapa hari lagi" Rachel mulai panik.
"Rach, apa tidak sebaiknya kita periksa saja? aku dan Sera akan mengantarmu" Gaby menggenggam tangan Rachel agar gadis itu tetap tenang, sementara Sera hanya diam tanpa berkata apapun karena ia takut jika Rachel semakin merasa tersudut bila semua berbicara padanya.
"Tidak kak nanti saja, aku akan periksa sendiri jika memang sudah terlambat" Rachel menolak.
"Apa kau yakin?" Gaby merasa kasihan.
"Iya kak aku yakin, nanti jika terjadi sesuatu aku pasti akan bilang sama kakak kok" meskipun hatinya sangat takut, tapi Rachel yang sudah lebih siap kini bisa lebih mengontrol emosinya.
"Baiklah kalau begitu, kalau ada sesuatu kau tidak boleh sungkan ya" Gaby mengelus kepala Rachel.
"Iya kak, tenang saja" Rachel memaksa senyumnya.
__ADS_1
"Ya sudah ayo kita kembali ke depan, ini bawakan piring-piring ini agar mereka tidak curiga" Gaby memberikan piring berisi camilan kepada Rachel dan juga Sera untuk dibawa ke ruang makan sebagai alasan kepada Ayu, Ananda dan Maya kalau mereka habis menyusunnya di dapur.
Mereka pun kemudian menghabiskan malam bersama-sama di rumah Ayu dan Ron dengan anggota keluarga Anderson yang lain untuk membahas acara untuk grandma Ruth. Para suami dan anak laki-laki serta menantu juga menyusul setelah pulang kantor dan kuliah.