
"Wahhh ternyata indah juga ya pemandangan di sekitar sini, pantas saja mereka berdua tidak mau bulan madu jauh-jauh, disini saja sudah bagus begini" Gide yang baru pertama kali datang ke daerah sekitar villa berdecak kagum.
"Tentu saja indah, memang kakak belum pernah ke sini ya sebelumnya?" tanya Rachel penasaran.
"Belum, kan waktu proyek villa ini dibangun beberapa tahun lalu aku masih di luar negeri, jadi aku tidak ikut melakukan proyeknya" Gide menjelaskan kepada Rachel.
"Ohhhhh" Rachel hanya ber oh ria saja sambil bergerak-gerak merapikan pakaiannya yang dirasa tidak nyaman dikenakan.
"Kau kenapa Rach?" Gide menoleh ke arah Rachel yang sejak tadi duduk dengan tidak nyaman.
"Baju ini sangat sempit, aku jadi merasa tidak nyaman memakainya, rambutku juga, apalagi make up diwajahku ini, rasanya aku ingin melepas semuanya dan bertelanjang saja deh!" Rachel menggerutu sambil terus menarik dress yang terasa begitu ketat di bagian dadanya.
"Tapi kau terlihat sangat cantik loh dengan dandanan seperti itu" kata Gide sambil mengelus kepala Rachel dengan lembut.
"Aku tau, tapi tetap saja ini membuat ruang gerakku menjadi sangat terbatas" Rachel ingin sekali melepas semuanya.
__ADS_1
"Aku heran kenapa wanita suka sekali berdandan begini, padahal sangat tidak nyaman" Rachel yang selalu memakai baju longgar keheranan.
"Karena mereka ingin tampil cantik" jawab Gide klise.
"Ck, cantik itu bukan berarti harus menyiksa diri kan, kita bisa saja pakai pakaian cantik tapi tetap nyaman" Rachel tetap merasa semua wanita itu aneh.
"Kalau nanti kau punya kekasih dan dia memintamu berdandan seperti ini setiap hari, apa kau akan melakukannya?" Gide bertanya.
"Tidak, aku tidak akan pernah mau menerima pria yang tidak menerimaku apa adanya. Kalau dia mencintaiku, maka paket yang harus dia terima adalah sekaligus dengan segala kekuranganku, salah satunya adalah aku tidak suka berdandan!" Rachel berkata dengan tegas.
"Hemmmm begitu ya?" Gide manggut-manggut.
"Apa selama ini sudah ada pria yang mendekatimu?" Pria itu kembali menoleh kearah Rachel sesaat sebelum akhirnya kembali fokus menyetir mobilnya.
"Ada sih beberapa, tapi aku menolak mereka semua" jawabnya dengan santai.
__ADS_1
"Kenapa kau menolaknya?" tanya Gide penasaran.
"Kakak tau kan kalau aku belum berfikir tentang pria? Aku mau menikmati masa mudaku dulu, mungkin lima atau enam tahun dari sekarang baru aku akan berfikir untuk mencari calon suami hehehe" kata Rachel sambil terkekeh geli membayangkan dirinya menikah.
"Lama juga ya, kalau aku yang harus menunggumu selama itu sepertinya akan jadi bujang lapuk sungguhan hahahaha" Gide berseloroh.
"Ya iyalah, kan aku dan kakak jaraknya lumayan jauh, sekarang aku masih belum genap delapan belas tahun, sementara kakak sudah tiga puluh satu tahun" Rachel menghitung jarak usianya dan juga Gide.
"Hemmm, jadi menurutmu aku sudah sangat tua ya?" Gide memajukan bibirnya.
"Tidak tua-tua amat sih sebenarnya, tapi kakak itu sudah matang, sudah cukup untuk berumah tangga!" Rachel meluruskan persepsi Gide.
"Jadi menurutmu seharusnya aku sudah harus segera menikah?" Gide bertanya lagi.
"Tentu saja, aku kan juga ingin segera punya kakak ipar dan keponakan" gadis itu mengangguk dengan mantab.
__ADS_1
"Hemmmmmm" Gide hanya mencebikkan bibirnya tanpa merespon lebih lanjut lagi.
Mereka kemudian melanjutkan perjalanan dalam diam sambil menikmati pemandangan indah tepi pantai yang tersuguh indah di sepanjang jalan.