
Setelah hasil pemeriksaan Gaby dan Sera menunjukkan bahwa mereka berdua positif hamil, Gide pun mulai merasa harap-harap cemas dengan kondisi sang istri yang tidak menunjukkan gejala hamil sama sekali. Selain ia merasa iri karena kedua kakaknya sudah terbukti perkasa sampai bisa menghamili istri masing-masing, ia juga tidak mau merugi 2M karena kalah taruhan.
"Ck, sial sekali sih aku!" gerutu Gide dalam hati ketika semua orang sedang sibuk membicarakan kehamilan Gaby dan Sera yang bisa sangat kebetulan dalam waktu yang bersamaan, tanpa mereka ketahui bahwa sesungguhnya memang kehamilan keduanya sudah direncanakan oleh para suami.
"Papa kenapa wajahnya cemberut?" Rachel bertanya kepada sang suami.
"Tidak apa-apa kok ma" jawab Gide.
"Benarkah?" sang istri tidak percaya begitu saja.
"Iya ma" Gide memaksakan senyumnya.
"Ya sudah kalau begitu, mama ke kamar dulu ya nemenin Cilla bobok" Rachel kemudian meninggalkan sang suami sambil menggendong putri kecil mereka.
"Iya" angguknya.
"Awwww" tiba-tiba Rachel memekik ketika berada di tengah tangga hendak menuju ke kamarnya di lantai dua.
"Rach, kau kenapa?" Ananda yang duduk di sofa dekat tangga langsung bertanya.
__ADS_1
"Perutku seperti ditusuk-tusuk bun" Rachel berusaha bertahan agar tidak jatuh dan melepaskan gendongan Cilla.
"Sini berikan Cilla padaku, Gide cepat bantu istrimu!" Maya langsung berdiri untuk meraih bayi mungil itu dari tangan Rachel.
"Sayang!" Gide reflek berlari ke arah sang istri dan menggendongnya.
"Perutku sangat sakit" Rachel meringis kesakitan.
"Astaga sayang!" Ayu berteriak sambil menunjuk bagian belakang dress Rachel yang penuh flek darah.
"Cepat bawa dia ke rumah sakit!" Ron berkata.
..........
"Bagaimana keadaan istri saya dokter?" tanya Gide setelah serangkaian pemeriksaan dilakukan dan Rachel sudah dipindakan ke ruang rawat paling mewah milik keluarga Anderson. Sementara anggota keluarga yang lain menatap keduanya dengan intens.
"Kondisi kandungan nyonya sangat lemah tuan, mungkin karena usia nyonya yang masih muda dan juga baru melahirkan beberapa bulan lalu, jadi saat mengalami kehamilan berikutnya menjadi lebih lemah" dokter menjelaskan panjang lebar.
"Apa, istri saya hamil dok?" Gide terkejut mendengarnya.
__ADS_1
"Iya tuan, istri anda hamil dan sekarang sudah berjalan empat minggu" angguk sang dokter lagi.
"Astaga" Gide meneteskan air mata antara senang dan sedih. Disatu sisi ia merasa bahagia karena harapannya untuk memiliki anak kedua berhasil tercapai, namun disisi lain ia sedih karena merasa bersalah telah membuat sang istri menderita karena memaksanya hamil setelah baru tiga bulan lalu melahirkan anak pertama mereka.
"Oya, apakah belakangan ini nyonya sempat melakukan aktivitas berat yang membuatnya mengalami flek tuan?" tanya dokter kepada pria tampan itu.
"Sepertinya tidak" Gide menggelengkan kepalanya.
"Kemarin saat aku pingsan Rach menggendong Syeba dan Cilla secara bersamaan sepanjang hari, mungkin itu yang membuatnya jadi mengeluarkan flek" Sera yang merasa bersalah langsung menyeletuk.
"Oh begitu ya nyonya?" sang dokter manggut-manggut.
"Iya" angguk Sera.
"Kalau begitu saya sarankan untuk sementara waktu nyonya Rachel beristirahat total di tempat tidur dan tidak melakukan banyak aktivitas fisik dulu ya sampai kandungannya bisa lebih kuat lagi" saran sang dokter untuk Rachel.
"Baik dok, kalau begitu terima kasih" Gide pun merasa senang.
"Mari, saya permisi" dokter tersebut kemudian berpamitan meninggalkan ruang rawat.
__ADS_1
"Rach, selamat ya sayang" semua anggota keluarga memberikan ucapan selamat kepada Rachel atas kehamilannya. Suasana ruang rawat inap yang dipenuhi oleh seluruh anggota keluarga Anderson menjadi heboh dan ramai seketika itu juga. Mereka sangat bersuka cita dengan kehamilan ketiga cucu perempuan Anderson yang terjadi secara bersamaan.