
Setelah siuman, Rachel sama sekali tidak mau bicara, ia hanya menangis sepanjang waktu, bahkan ketika semua keluarganya menemuinya secara bergantian di ruang rawat, tatapannya hanya kosong.
"Sayang ayo makan dulu, sudah waktunya, habis itu baru minum obat ya" dengan telaten Gide menyuapi sang istri. Meskipun awalnya menolak makan, namun dengan segala bujuk rayu sang suami, Rachel pun kemudian mau makan.
"Apa kau mau makan sesuatu yang lain habis ini? biar aku suruh pengawal membelikannya untukmu" Gide mengelus pipi sang istri, sementara yang ditanya hanya diam seribu bahasa.
"Sayang, apa yang kau rasakan? ayo ceritakan padaku, kita ini suami istri, bebanmu adalah bebanku juga!" Gide yang belum mendengar suara Rachel sejak siuman pun mulai merasa frustasi.
"Hiks hiks hiks" hanya isak tangis yang keluar dari mulut Rachel.
"Ini semua adalah proses pendewasaan hubungan rumah tangga kita sayang, kita sedang diuji, apakah dengan kejadian ini kita tetap bersatu atau tidak. Sudah ya, jangan berlarut-larut lagi, masa depan kita masih sangat panjang, aku yakin setelah semua ini berlalu, kita pasti akan diberikan keturunan yang bisa melengkapi kehidupan pernikahan kita" Gide mengecup kening istrinya.
..........
"Dokter, bagaimana kondisi istri saya? kenapa dia belum bicara sedikit pun sejak siuman?" Gide bertanya kepada sang dokter yang sedang menangani Rachel.
"Tuan, sepertinya kita harus menghubungi psikiater, karena saya menduga kondisi psikis nyonya Rachel sedang terguncang" jawab sang dokter.
"Maksudnya?" Gide mengernyitkan dahi.
__ADS_1
"Saya tidak berani memberikan diganosa, karena ini bukan bidang saya sebagai ahlinya, saya ini hanya bisa membantu untuk sesuatu hal yang berhubungan dengan kandungan saja, jadi saran saya kita serahkan kepada dokter yang kompeten ya tuan" dokter tersebut mengarahkan Gide untuk berkonsultasi dengan dokter ahli kejiwaan.
"Apakah ini berdampak buruk?" Gide hampir pingsan saat mendengar kata psikiater.
"Bila ditangani dengan cepat dan tepat, mudah-mudahan nyonya akan segera pulih" dokter kandungan itu memberi semangat kepada Gide.
"Saya mohon dokter, lakukan yang terbaik untuk istri saya" Mohonnya dengan putus asa.
"Pasti tuan, kami pasti akan melakukan yang terbaik untuk nyonya, mungkin beberapa saat lagi psikiaternya akan datang" setelah mengecek kondisi Rachel setelah siuman, sang dokter kandungan memang langsung berkordinasi dengan dokter ahli kejiwaan yang paling senior di rumah sakit itu.
"Nah ini dia psikiaternya datang, silahkan dokter, ini Tuan Gideon dan ini Nyonya Rachel istrinya" kata dokter kandungan memperkenalkan Gide kepada sang psikiater.
"Ini dok hasil observasinya dari kemarin setelah siuman" sambil menyerahkan beberapa lembar kertas observasi.
"Baiklah, kalau begitu nanti setelah nyonya terbangun saya akan memeriksa secara keseluruhan. Oya, apakah kita bisa mengobrol sebentar Tuan?" sang psikiater memberi kode agar mereka bercakap-cakap di luar ruangan agar tidak terdengar oleh Rachel.
"Baik dok" Gide mengangguk dan mereka bertiga pun kemudian berjalan ke luar, tepatnya di ruang tunggu depan kamar rawat.
"Kalau begitu saya pamit undur diri ya, karena dokter sudah datang" dokter kandungan menundukkan kepala.
__ADS_1
"Terima kasih dokter" ucap Gide mengantar kepergian sang dokter kandungan.
"Maaf sebelumnya tuan, apakah saya bisa bertanya tentang hal yang sedikit pribadi antara anda dan istri?" Psikiater memulai percakapan antara mereka berdua setelah dokter kandungan belalu.
"Boleh dok, silahkan, apapun asal itu bisa membuat istri saya kembali seperti semula" Gide mengangguk dengan cepat.
"Apakah sebelum kejadian ini nyonya pernah memiliki pengalaman buruk tentang kehamilan atau yang berhubungan dengan pernikahan kalian?" dokter bertanya dengan ramah.
Gide yang paham akan arah pertanyaan sang dokter pun kemudian menceritakan kisah pernikahan mereka sejak awal. Bagaimana mereka terpaksa menikah karena jebakan nyasar, bagaimana Rachel sempat depresi karena kehamilan diluar nikah pada usia yang masih sangat muda karena kelakuan saudar-saudaranya. Kemudian ia juga menceritakan fase dimana Rachel mulai menerima pernikahan ini dan akhirnya sangat menyayangi anaknya hingga rela melepaskan impiannya menjadi dancer demi menjadi ibu dan istri yang baik, serta tragedi pemaksaan Jonathan yang akhirnya membuat mereka kehilangan anak.
"Baiklah saya sudah mulai memiliki sedikit gambaran tentang kondisi nyonya saat ini. Mungkin akan butuh beberapa waktu lagi sampai saya bisa menyimpulkan hasilnya. Yang jelas saat ini nyonya memang sangat membutuhkan dukungan dari keluarga. Mohon terus dampingi nyonya dan berusahalah membuat suasana hatinya semakin baik. Mungkin bisa diajak ngobrol tentang sesuatu yang membuatnya bahagia atau makan makanan yang ia sukai" sang dokter memberi saran.
"Baik dokter" Gide mengangguk.
"Nanti jika nyonya sudah bangun, mohon panggil saya tuan, saya akan melakukan sesi obrolan ringan dengan nyonya untuk membantunya agar segera pulih" sang psikiater memberi arahan.
"Terima kasih dokter" Gide bisa sedikit tersenyum lega.
"Kalau begitu saya permisi dulu tuan" pamitnya.
__ADS_1
"Baik" Gide menjabat tangannya sebelum mereka berpisah dan kembali ke ruangan masing-masing.