Cinta Karena Jebakan

Cinta Karena Jebakan
Asalkan Kau Mau Mencoba


__ADS_3

Sepanjang hari Gide terus saja mengajak Rachel bergelut di atas tempat tidur. Ia tidak membiarkan sang istri menjauh darinya barang sedetik pun. Meskipun belum ada cinta di hati Rachel, namun dengan perlakuan Gide yang begitu lembut dan romantis, hati Rachel pun menjadi berbunga-bunga dan tidak bisa menolak semua yang dilakukan Gide terhadap dirinya.


"Rach kau mau kan memberi satu kesempatan untuk hubungan kita?" Gide meraih dagu Rachel agar tatapan mereka saling beradu.


"Entahlah, aku tidak tau kak" Rachel menghela nafas dengan berat. Meskipun hati kecilnya tidak menginginkan adanya perceraian diantara mereka, namun jika mengingat kembali kedekatan antara sang suami dengan sekertarisnya, membuat hati Rachel merasa ragu dengan hubungan mereka kedepannya nanti.


"Kenapa?" Gide yang melihat keraguan di mata Rachel menatapnya dengan tajam.


"Apa kakak serius ingin hidup denganku selamanya?" Rachel menjawab pertanyaan sang suami dengan bertanya balik.


"Apa semua yang aku lakukan selama ini belum cukup membuktikan keseriusanku kepadamu?" Gide meraih pinggang istrinya dengan posesif.


"Tapi bagaimana dengan sekertaris kakak?" Rachel bertanya to the point.


"Apa kau masih cemburu padanya? sudah berapa kali aku katakan padamu, kalau aku dan dia hanya dekat sebatas hubungan kerja saja, tidak lebih!" Gide mengecup bibir Rachel dengan gemas.


"Aku tidak cemburu, aku hanya khawatir saja, kakak tau kan saat ini aku sedang belajar menerima situasi pernikahan kita yang sangat mendadak ini? aku takut kalau nantinya aku sudah belajar membuka hati dan benar-benar jatuh cinta sama kakak, tapi malah kakak yang nantinya meninggalkan aku merana sendirian!" Rachel menjelaskan dengan ekspresi polosnya.

__ADS_1


"Hahahahah, kau ini benar-benar bikin gemas ya!" Gide tergelak mendengar pernyataan sang istri yang sangat lugu tentang cinta.


"Kenapa kakak malah tertawa?" Rachel menatap suaminya dengan wajah yang sangat tidak berdosa.


"Karena kau membuatku semakin jatuh cinta, bagiku saat ini yang terpenting didalam hidup ini adalah kalian" dengan lembut Gide mengelus perut sang istri yang masih rata.


"Apa kau tau, kalau sekarang aku sangat bersyukur dengan kecelakaan yang terjadi pada kita beberapa waktu lalu!" Gide mengelus pipi mulus Rachel dengan penuh cinta.


"Maksudnya?" Rachel masih bingung.


"Apa itu artinya kakak sudah benar-benar jatuh cinta padaku?" Rachel masih ingin memastikan lagi.


"Peganglah, rasakanlah setiap detak jantungku, disini hanya ada namamu Rach!" ia meraih tangan sang istri dan meletakkannya di dadanya yang bidang.


"Kakkkkk" Rachel menatap suaminya dengan tatapan yang sulit diartikan.


"Hemmmm?" Gide membalas tatapan itu dengan penuh cinta.

__ADS_1


"Apa kakak akan bersabar menunggu cintaku?" ia sangat penasaran dengan isi hati suaminya.


"Tentu saja!" jawab Gide dengan sangat yakin.


"Tapi sampai kapan?" Rachel takut jika pada akhirnya cinta Gide akan berpaling.


"Selamanya, aku akan menunggumu selamanya sayang! asalkan kau mau mencoba membuka hatimu untukku, maka selama itu pula aku akan bertahan disisimu! kau maukan?" harap pria itu yang dijawab dengan anggukan oleh sang istri.


"Terima kasih sayang" Gide mencium bibir Rachel kembali, namun kali ini disertai dengan tuntutan yang lebih dari sekedar mengecup saja.


"Kakkkk ahhhhhh" Rachel kembali bergelinjang saat Gide mulai melakukan pertempurannya lagi yang entah sudah keberapa kalinya.


Lenguhan demi lenguhan saling bersahut-sahutan memenuhi kamar mereka. Irama kulit yang saling beradu pun membuat suasana semakin panas membara.


"Sayangggg ahhhhhh, aku ahhhhhh" Gide bergetar hebat saat puncak cintanya melambung hingga angkasa.


Hari ini adalah menjadi permulaan bagi kisah cinta mereka. Meskipun Rachel masih belum yakin seratus persen mencintai Gide, namun sikap romantis sang suami sudah mampu membuat hatinya menjadi luluh lantak. Bahkan kini Rachel sudah mulai memasuki fase merasa takut akan kehilangan Gide.

__ADS_1


__ADS_2