
"Kasus ini harus segera ditangani dalam waktu tiga hari. Kalau tidak, Yang Mulia Kaisar akan marah." Tegas seorang pria berusia kira-kira empat puluh tahun.
"Saya akan melaksanakan tugas saya secepat dan seteliti mungkin." Patuh pemuda tampan yang merupakan anak asuh dari Master Nick, yang juga merupakan Ketua Penyelidik.
"Kamu yakin bisa? tiga hari adalah waktu yang singkat." Master Nick memberi peringatan. Meski ia sama sekali tidak ragu dengan kemampuan anak asuhnya itu. Tapi tetap saja ia tidak bisa tenang karena waktu yang ditetapkan memang terbilang cukup singkat.
"Yang Mulia Kaisar kali ini terburu-buru. Sepertinya ingin kasus ini cepat selesai, dan beliau ingin tau siapa pelaku dari kasus pencurian ini." Master Nick memainkan jenggotnya. Guratan kekhawatiran masih terlihat jelas di wajahnya.
"Hansa yakin bisa menyelesaikan kasus ini tepat waktu." Pemuda yang menyebut dirinya Hansa itu kembali meyakinkan Tuannya.
"Mm ... kamu harus yakin untuk tidak melanggar ucapanmu." Master menepuk pundak Hansa dan menyuruhnya segera pergi.
"Kalau begitu, Hansa undur diri dulu." Pamitnya membungkukkan badan dan bergegas keluar dari Aula Pengadilan.
...----------------...
"Waa, siapa lelaki tampan tadi?" Kiara langsung menggelengkan kepala tersadar. "Tujuan aku ke sini bukan untuk itu."
Kiara, gadis nakal itu keluar dari balik tembok persembunyiannya. Ia berdiri di depan jendela. Tangannya tergerak merobek kain putih yang menutupi jendela itu.
"Waa, benar-benar sesuai dugaanku. Dalamnya bagus banget." Matanya berbinar menyapu seluruh ruang Aula Pengadilan.
"Andai aku bisa masuk ke sini." Gumamnya. "Eh bentar, kalau aku mau masuk ke sini, berarti aku harus buat kesalahan dulu. Terus habis itu dihukum. Duh, nggak ah. Aku nggak mau dipenggal." Ia masih bergumam sambil terus megintip dari celah jendela.
'Puk'
Kiara merasa ada yang menepuk pundaknya. Ia berbalik waspada.
"Siapa kamu? orang tak berkepentingan nggak boleh masuk ke wilayah ini." Sambar seorang pemuda garang.
"Waa, kayaknya pria di Kantor Pengadilan emang tampan semua." Batin Kiara.
"Oh, aku tau. Kamu pasti orang yang menyamar jadi pengemis supaya bisa mencuri barang berharga di sini, kan?" Tuduh pemuda itu sembarangan.
"Ku beritahu gadis muda, di Kantor Pengadilan ini nggak ada yang menarik. Satu-satunya yang menarik adalah meja Master Nick. Kamu mau dihukum oleh beliau?" Pemuda itu menyarankan Kiara untuk pulang. Namun, Kiara tetap kekeh.
Ia jauh-jauh keluar dari tempat persembunyiannya untuk bisa masuk ke sini. Bukan untuk diusir.
"Master Nick? aku mau ketemu dia." Pemuda yang baru saja ingin melangkahkan kaki dari sana langsung berbalik dan menatapnya remeh.
"Master Nick nggak akan mau ketemu orang nggak berkepentingan kayak kamu. Ku peringatkan sekali lagi ya Nona, lebih baik cepat pulang. Atau saya laporkan ke Ketua Penyelidik." Ancam pemuda tersebut.
"Ketua Penyelidik? Hansa?" Kiara baru ingat gurunya pernah menyebut tentang pemuda berbakat, Hansa.
"Heh, nggak sopan kamu! panggil dia Tuan Hansa. Kamu pernah dididik nggak, sih?" Pemuda tersebut sedikit marah yang membuat Kiara terkejut.
"Apa, sih? mana Ketua Penyelidik kalian? panggil sini! suruh dia adu kecerdasan sama aku kalau berani." Tantang Kiara tanpa takut.
Pemuda itu terlihat mengusap wajah menghadapi sifat kekeh gadis di hadapannya. "Benar-benar minta dipancung." Ia mengeluarkan tali dari sakunya dan memutari tubuh Kiara.
"Heh, kok aku diikat? lepasin!" pinta Kiara yang tubuhnya telah terikat kuat oleh tali. Pemuda itu menepuk tangan puas. "Ikut aku!" ia menarik paksa tubuh Kiara.
Kiara memberontak kala ditarik paksa.
"Eh bentar, bukannya bagus kalau dia bawa aku? siapa tau karena ini aku bisa lebih gampang masuk ke Pengadilan." Batinnya.
Mereka berdua sampai di depan pintu sebuah ruangan.
__ADS_1
Tok tok tok ...
Pemuda tersebut mengetuk pintu beberapa kali.
"Masuk!"
Sahut suara dari dalam. Pemuda itu masuk dengan masih menarik paksa Kiara.
"Siapa?" tanya suara dingin pemuda tampan yang sedang duduk membaca sebuah buku dengan wajah yang amat serius. "Saya Wakil Penyelidikan, Bari, menghadap Tuan Hansa!" lapor Bari, Wakil Penyelidikan. Ia mendorong Kiara hingga jatuh berlutut.
Kiara mengangkat kepala.
"Oh, dia pria yang tadi? ternyata si tampan ini Tuan Hansa? nggak disangka, Tuan Hansa ternyata masih tampan dan gagah. Kukira, yang namanya Tuan Hansa sudah tua."
"Ada masalah apa?" tanya Hansa masih dengan suara dinginnya.
"Nona ini terciduk sedang mengintip Aula Pengadilan. Ini orangnya ku bawa ke sini." Lapor Bari.
"Masukkan ke penjara saja." Pinta Hansa dengan entengnya tanpa menoleh. Kiara terkejut dan segera berdiri. Namun, ia kembali terduduk karena tali yang masih mengikat tubuhnya.
"Heh, kamu mau apa? coba ulangi! ku laporkan kau ke Menteri Waze." Teriak Kiara yang sontak membuat Hansa menoleh.
"Hey, berani-beraninya kamu teriak di depan Tuan Hansa. Kamu pikir kamu siapa?" tegur Bari.
"Kalau aku berani kenapa?" Tantang Kiara yang langsung dihadiahi tatapan tajam oleh Bari. Ia tak mau kalah dan membalas Bari dengan tatapan tak kalah tajam.
"Kau keluar saja! gadis ini biar aku yang urus." Pinta Hansa akhirnya, kala melihat Asistennya yang bersitatap dengan gadis sombong di depannya. Bari undur diri. Ia membalikkan tubuh dan sempat menatap sinis Kiara yang hanya membalasnya dengan cibiran.
Setelah pintu ruangan tertutup, Kiara sedikit gugup ditinggalkan hanya berdua dengan pria tampan. Tapi, ia memberanikan diri mengangkat wajahnya.
"Saya akan buka talinya kalau Nona jawab pertanyaan saya. Ada urusan apa Nona ke sini?" Hansa langsung menginterogasi.
Kiara membuang muka tak mau menjawab. "Oke kalau Nona nggak mau jawab. Saya akan laporkan Nona ke Master Nick. Biar beliau yang urus." Hansa akan segera menarik tangan Kiara untuk membawanya ke ruang Master Nick.
"Eh bentar. Oke aku jawab, aku jawab." Hansa menunggu penjelasan Kiara dengan wajah tegasnya.
"Tapi sebelum aku jawab sebaiknya kamu buka tali ini dulu." Kiara memberi syarat. "Aku janji nggak akan kabur, Tuan Hansa." Ucapnya mencoba berbicara formal.
"Kamu bisa buka sendiri. Saya tau kamu nggak selemah itu." Sahut Hansa dingin. Kiara pasrah. "Oke, talinya juga nggak begitu kuat." Ia meregangkan otot tangan dan tali yang mengikat tubuhnya seketika putus dan jatuh menabrak lantai.
Ia menatap Hansa sejenak. Menunggu reaksi dan pujian pria tersebut yang justru tetap menatapnya dengan tatapan datar. Tak ada keterkejutan sama sekali di wajahnya. Padahal, ia berharap pemuda itu akan menunjukkan ekspresi terpukau kala melihat aksinya.
Kiara memutar tubuh dan menendang wajah Hansa yang dengan sigap menangkis serangan Kiara. Kiara kembali melayangkan serangan demi serangan yang ditangkis oleh Hansa dengan santai.
"Kamu benar-benar Pendekar seperti yang aku baca di buku Tujuh Pendekar." Puji Kiara.
Hansa berdeham sejenak. "Untuk gadis berpenampilan biasa, beladirimu nggak buruk."
"Oh, aku anggap itu pujian." Balas Kiara percaya diri. Ia melipat kedua tangan ke belakang dan berjalan mengelilingi ruangan.
"Sebenarnya kedatangan aku ke sini untuk daftar menjadi tim penyelidik." Papar Kiara.
"Nggak ada yang mendaftar jadi tim penyelidik. Itu berdasarkan kualifikasi. Lagipula, anggota tim penyelidik kami udah cukup." Jelas Hansa.
"Huh? Menteri Waze bilang bisa saja asal kemampuanku baik." Ujar Kiara. Hansa mengerutkan kening. "Dari tadi kamu menyebut nama Menteri Waze terus. Kamu kenal beliau?"
"Ehem. Kenalin aku Kiara Fayes. Bungsu dari ke-lima bersaudra Fayes. Guruku mendiang Haw Fayes." Kiara mempernalkan diri.
__ADS_1
"Fayes? lima bersaudara? kamu bercanda!" sambar Hansa membalikkan tubuh. Ia menuangkan air ke dalam cangkirnya dan meneguknya sejenak.
"Saya tau. Kakak-beradik Fayes adalah legenda. Kakak pertama mereka termasuk dalam Tujuh Pendekar.
"Benar. Rubby Fayes namanya. Dia adalah kakak pertamaku." Ujar Kiara bangga. Hansa menahan tawanya.
"Kenapa? kamu remehin aku?" Kiara tidak terima. Hansa membalikkan tubuh menghadap Kiara. "Meski saya bilang bela dirimu tidak buruk, tapi kamu masih nggak pantas untuk berpura-pura memperkenalkan diri sebagai adik seperguruan mereka." Ledeknya.
"Lagi pula setauku, yang termasuk dalam legenda cuman empat bersaudara. Nggak ada yang ke-lima." Ujar Hansa lagi. Kiara geram sendiri. "Iyalah. Aku sudah berpisah sama mereka selama delapan tahun." Ia masih mencoba meyakinkan Hansa.
"Oke. Saya nggak peduli soal itu. Sekarang saya tanya, kenapa kamu ke sini? seingatku, hari ini Master Nick nggak ada janji sama orang." Hansa mengganti topik.
Kiara menghela napas sejenak. Memberanikan diri. "Aku mau ketemu Master Nick."
"Nggak bisa. Master Nick nggak akan ketemu orang kalau nggak ada janji. Sebaiknya sekarang Nona pulang. Besok saya sampaikan kedatangan Nona ke Master Nick." Tolak Hansa.
"Kamu ngusir aku?" Kiara tidak terima. Ia memasang tatapan menantang. "Iya, saya ngusir kamu. Nona silahkan pulang." Hansa mendesak.
"Oke, langsung aku kasih tau aja. Aku ke sini mau mendiskusikan sesuatu sama Master Nick." Ujar Kiara.
"Kalau ada diskusi penting, Master Nick pasti kasih tau saya. Nona, berhenti buang-buang waktu saya. Saya masih ada kerjaan yang harus segera diselesaikan." Desak Hansa.
"Tentu. Pasti tentang kasus pencurian kotak, kan?" tebak Kiara melipat kedua tangan di dada. "Bukan urusanmu." Sinis Hansa.
"Sebenarnya, aku ke sini mau mendiskusikan kasus yang terjadi lima tahun yang lalu." Kiara menyampaikan maksud kedatangannya ke tempat itu.
"Kasus apa? cepat kasih tau. Setelah itu, Nona bisa langsung pergi." Hansa tak sabar lantaran Kiara yang membuang waktu kerjanya itu.
Kiara memeriksa sekitar, memastikan tidak ada yang mendengar percakapan mereka. "Tenang aja. Ruanganku sangat tertutup dan nggak mungkin ada yang bisa menguping pembicaraan kita." Sahut Hansa.
Kiara kembali beralih pada Hansa. "Ini tentang kasus kakak ke-tigaku. Kak Tama." Jelas Kiara.
Hansa terdiam sejenak. "Kasus itu sudah lama ditutup. Siapapun dilarang membahas tentang kasus itu."
"Kalau melanggar, ada konsekuensinya. Kamu ku maafkan karena bukan berasal dari kota ini. Jadi wajar kalau nggak tau." Jelas Hansa menghindari membahas tentang itu.
Kiara menyipitkan mata. "Nggak apa-apa kalau kamu nggak mau jawab. Aku sendiri yang akan pergi temui Master Nick." Kiara membalikkan tubuh hendak membuka pintu.
Hansa melempar kuas yang ia pakai untuk menulis hingga ujung kuasnya tertancap di pintu. Kiara terlonjak. Ia kembali berbalik menghadap Hansa.
"Master sedang istirahat. Nggak boleh diganggu." Ujarnya menatap buku yang dipegangnya tanpa menoleh.
Kiara melipat tangan di dada. "Kalau aku bersikeras?" Tantangnya.
'
Buk'
Hansa meletakkan buku di meja dan berjalan mendekati Kiara. "Kamu berani?" Balasnya dingin.
Kiara berangsur mundur karena Hansa terus mendekat ke arahnya. Ia terhimpit ke dinding. Sekarang wajah mereka hanya berjarak beberapa senti.
"Ku peringatkan sekali lagi untuk segera pergi." Pintanya semakin dingin. "Kenapa aku harus meruti kamu?" balas Kiara sok berani. Nyatanya, nyalinya sudah menciut karena tatapan dingin Hansa.
"Kalau nggak mau ..." Hansa mencabut kuas yang masih tertancap di pintu dan menancapkannya dengan kasar di dinding di samping Kiara berdiri. Kiara menelan ludah.
"I ... iya aku pergi." Ia mendorong dada Hansa pelan dan segera berlari keluar ruangan.
__ADS_1