Cinta Pendekar

Cinta Pendekar
Ditolak lagi?


__ADS_3

Kiara tak bisa menjawab apa-apa. Kerongkongannya terasa tercekat karena terisak.


"Kiara, aku ini kakakmu. Aku tau apa saja yang bisa membuatmu menangis." Omel Sima dengan suara tinggi. Weni sampai mengusap-usap bahu pria itu untuk meredakan emosinya.


"Aduh gimana, nih? ini mulut juga kenapa nggak bisa ngomong, sih? apa aku pura-pura pingsan aja supaya kakak ke-empat tidak mengamuk pada Hansa."


"Ah, nggak nggak. Nanti malah tambah parah kakak ke-empat mengamuknya."


Kiara malah sibuk berdebat dengan pikirannya sendiri.


"Ternyata benar karena dia. Karena kamu nggak jawab, aku anggap kalau dugaanku benar. Aku harus mencari pria itu." Sima beranjak dari dapur dan sibuk teriak-teriak sendiri.


"Mana Hansa?" omelnya dengan kepala celingak-celinguk mencari Hansa. "Berani-beraninya dia membuatmu menangis. Kakak-kakakmu saja tidak pernah membuatmu sedih."


Kebetulan, Hansa muncul dengan berjalan ke arah mereka. "Apa kau mencariku?" tanya Hansa karena mendengar teriakan Sima.


Sima yang kesal langsung mencengkram kerah baju Hansa. "Heh, jangan macam-macam kamu, ya. Lawan aku kalau berani. Jangan hanya berani menindas adikku." Ancamnya.


"Kakak ke-empat, sudahlah!" Kiara akhirnya bisa kembali bersuara setelah menarik napas berkali-kali untuk meredakan kesedihannya.


"Weni, bawa Kiara ke pergi! aku tidak mau dia ikut campur." Pinta Sima dengan mata masih menatap Hansa tajam.


"Tapi, Sima ... " Weni hendak membantah. "Weni, menurutlah!" pinta Sima penuh penekanan namun berusaha tetap lembut.


"Ayo, Kiara!" Weni akhirnya menurut dan membawa Kiara pergi dari sana meski ia khawatir dan penasaran apa yang akan terjadi di antara kedua pria itu.




Hansa menahan tangan Sima yang mencengkram kerah bajunya. "Saya menghormati kamu karena kamu adalah kakak Kiara. Tapi ingat di mana kamu sedang berpijak sekarang." Hansa memperingatkan dengan suara dingin.



Sima tersenyum meremehkan. "Hanya karena aku menetap di sini bukan berarti kau bisa menindas Kiara sesukanya." Balasnya tak kalah dingin.



Hansa mendorong tubuh Sima kasar dan merapikan kerah bajunya yang tadi dicengkram oleh Sima. "Saya peringatkan sekali lagi. Menyingkir dari hadapanku dan jangan mencari masalah." Emosinya jadi mudah terpancing. Mungkin ini ada hubungannya dengan perdebatan ia dan Kiara tadi.



"Bagus kalau kamu emosi. Aku memang ingin mengajakmu bertarung." Sima berkacak pinggang dengan gaya menantang. Kedua tangan mereka masing-masing mengepal, sudah siap berduel.



Tidak butuh berapa detik, tangan mereka sudah saling beradu lincah. Keduanya sama-sama tidak ada yang mau mengalah.



Hingga duel berakhir seri ketika Hansa menendang perut Sima dan langsung dibalas dengan pukulan keras di dada Hansa.



Mereka sama-sama terbatuk. "Jangan mentang-mentang kamu seorang Pendekar, kamu pikir aku tidak bisa mengalahkanmu." Sima menunjuk wajah Hansa.

__ADS_1


"Aku adalah Sima Fayes. Kakak-beradik Fayes tidak mungkin kalah sekuat apapun lawannya.



"Saudara Sima, cukup! kau lupa sedang berada di mana kau sekarang?" amarah Hansa. Sima tersenyum miring. "Tentu saja aku tidak lupa. Tapi hanya karena aku menetap di sini, bukan berarti kau bisa membuat Kiara menangis."



Hansa mematung. "Ki ... Kiara menangis?" sahutnya dengan suara memelan. Sima tersenyum miring. "Pura-pura nggak tau lagi."



"Kiara menangis karenaku? tapi ... kenapa?" Sima yang muak kembali mencengkram kerah baju Hansa.



"Aku tidak tau apa niatmu terhadap adikku. Ku peringatkan kau untuk menjauhinya!" Sima memberi peringatan keras dan berlalu meninggalkan Hansa dengan keheningannya.



Hansa berbalik ketika merasa ada yang menepuk pundaknya. Matanya kembali menatap sinis pada orang yang sama yang selalu muncul dan menguping pembicaraannya.



"S ... saya ... saya tidak bermaksud menguping. Saya hanya tidak sengaja lewat dan mendengar sedikit pertengkaran kalian." Ia tersenyum menyebalkan. "Sangat sedikit ... " ia mengatupkan ibu jari dan telunjuk di depan wajahnya.



"Saya tau masalah kalian. Dan saya pikir, ini adalah masalah yang berat." Bari memasang wajah serius yang malah membuat Hansa semakin merasa jengkel.




"Nona Kiara adalah gadis yang manis dan lucu. Ya ... Meskipun sifatnya sangat menyebalkan. Tapi, aku penasaran. Apa Tuan Hansa tidak terpesona dengan wajahnya yang imut itu?" Bari membuat Hansa diam dengan pandangan menunduk ke tanah.



"Apa Tuan nggak ada sedikit pun perasaan untuknya?" tanya Bari penasaran.



Hansa terdiam selama beberapa detik. Ia menghembuskan napas sebelum menjawab, "Usiaku dua puluh lima tahu. Sedangkan Kiara masih sembilan belas tahun. Dia masih muda dan saya sudah semakin berumur."



"Kalau soal perasaan, saya nggak yakin. Lagi pula, saya nggak pernah punya niat untuk memiliki pasangan. Tapi saya mengaku memang selalu merasa nyaman setiap berada di dekatnya." Jelas Hansa sangat menyentuh namun membuat Bari memutar bola mata.



"Apanya yang nyaman? aku malah malas meladeni gadis menyebalkan sepertinya." Gumamnya yang langsung dipelototi Hansa.



"Hehehe, kalau begitu, saya duluan." Ia berjalan cepat menghindari tatapan tajam Hansa. Hansa kembali berdiri sendiri. Merenungi kalimat nasihat dan peringatan yang barusan disampaikan oleh dua pria padanya.

__ADS_1



Mungkin ia memang harus menjauhi Kiara. Tapi, bagaimana jika ia tak bisa?



...----------------...



Kiara memutuskan mengunjungi Menteri Waze di kediamannya. Ia memberi salam dan membungkuk menyapa pria dengan wajah tegas itu.



"Aku rasa ada yang berbeda dari tatapanmu." Sahut Menteri Waze lagi-lagi penuh misteri. Kiara berusaha menghilangkan tatapan tajamnya.



Menteri Waze tersenyum samar. "Kamu adalah murid dan bawahan kepercayaan saya sekaligus murid yang saya latih untuk menjadi mata-mata." Tangannya mengambil gembor, penyiram tanaman dan menyiram tanaman hias kecil yang ia letakkan dengan cantik di meja di ruangannya.



Pria itu memang suka berperilaku seperti orang bodoh. Padahal kenyataannya ia sama sekali tidak bodoh.



Seperti sekarang. Ia menyirami tanaman yang hanya merupakan hiasan yang tentu tidak membutuhkan siraman. Benar-benar melakukan hal yang tidak berguna. Namun Kiara tidak kaget lagi. Ia sudah terbiasa melihat perlakuan aneh gurunya.



Menteri Waze sudah selesai menyiram tanaman hias kesayangannya dan meletakkan gembor di meja. Sekarang, ia kembali beralih pada Kiara.



"Sampai mana tadi?" tanyanya terlihat seperti benar-benar kebingungan. Benar-benar bodoh. Kiara memutar bola mata kesal.



"*Ayolah, kau tidak setua itu untuk menjadi pikun*."


Kesalnya dalam hati.



Menteri Waze mengetuk-ngetuk jemari di dahinya, mencoba mengingat sampai mana percakapan mereka tadi. Walaupun ia tidak lupa sama sekali. Lebih tepatnya, ia hanya berpura-pura lupa. Pria tua itu memang suka sekali mengulur waktu.



"Oh iya, aku ingat." Serunya kemudian yang tidak mendapatkan reaksi apapun dari Kiara. Menteri Waze menunjuk wajah Kiara. "Aku menyuruhmu menjadi bawahan rahasiaku dan jangan pernah keluar dari sini. Tapi kau malah keluar untuk mencari tahu tentang kematian kakak bodohmu itu." Ia tertawa sok renyah. Sungguh sangat menghina Kiara yang telah mengepalkan tangannya kuat-kuat.



"Kamu ... " Menteri Waze kembali tertawa sebentar. "Kamu ... kamu adalah ... " ucapnya lambat-lambat. Kiara berusaha sabar untuk mendengar apa yang akan diucapkan pria itu padanya.


__ADS_1


"Kamu ... kamu adalah pengkhianat, Kiara!"


__ADS_2