Cinta Pendekar

Cinta Pendekar
"Sebenarnya aku mencintaimu"


__ADS_3

Sera tampak memikirkan sesuatu di kepalanya dari kemarin. Ia mendekati Rubby dan duduk di sampingnya. "Aku terus-terusan berpikir kalau aku akan mati. Bagaimana cara kamu menyelamatkanku?" ia melontarkan pertanyaannya.


"Aku nggak bisa menyembuhkan orang sebaik adik ke-empat. Tapi aku menggunakan tenaga terdalamku." Jelas Rubby.


"Tenaga terdalam? apa itu memberikan efek buruk untukmu?" tanya Sera takut Rubby kenapa-napa karena menyelamatkannya.


Rubby menggeleng cepat. "Nggak ada yang perlu dikhawatirkan. Kalau kamu sudah sembuh sepenuhnya, kita akan berangkat ke kota A." Ia mengalihkan topik.


Sera tersenyum lebar. "Guru mengajakku?"


"Kamu mau tinggal di sini sendiri?" sahut Rubby yang langsung mendapat gelengan dari Sera.




Kantor Pengadilan telah selesai dibangun kembali. Kiara dan Hansa dipanggil untuk berdiskusi dengan Master Nick.



"Yang Mulia Kaisar dan Menteri Waze akan pergi ke kota D, kampung halaman Menteri Waze untuk mengurus rencana pernikahan Tuan Putri Hyra dan keponakan Menteri Waze, Tuan Fian." Master Nick menyampaikan berita langsung dari Kaisar. "Kita tau Yang Mulia Kaisar telah berhasil dijebak oleh Menteri Waze. Kali ini, mungkin Yang Mulia Kaisar punya rencana untuk membongkar kejahatannya." Tutur Master Nick.



"Untuk masalah itu, aku udah pernah memperingatkan kalian agar jangan sampai lengah, karena musuh akan memanfaatkan itu." Sambung Kiara tersenyum cerah.



Hansa mengerutkan kening. "*Ada apa dengan gadis itu? dia kelihatan tidak lagi mendukung Menteri Waze*?"



"Baiklah. Aku hanya menyampaikan ini kepada kalian. Kalian boleh pergi." Ia menutup diskusi itu.



Kiara membungkuk dan bergegas lebih dulu dari ruangan itu. Hansa masih menunggu berbicara dengan Master Nick. Ada hal yang ingin ia tanyakan dengan guru asuhnya itu. "Kenapa Tuan mengundang Kiara berdiskusi? dia kan bukan berada di pihak kita." ia mengerutkan kening bingung.



Master Nick tersenyum simpul. "Siapa bilang dia nggak berada di pihak kita? dia selalu berada di pihak kita selama ini." Ia terkekeh sejenak dan berlalu keluar dari ruangan itu. Meninggalkan Hansa dengan kebingungannya.



Hansa memutuskan menyusul Kiara untuk meminta penjelasan. "Saya nggak mengerti. Kenapa kamu hari ini berubah?" tanyanya mensejajarkan langkah dengan Kiara.



Kiara terkekeh. "Aku nggak berubah kok. Hanya saja aku tau kalau kalian bukan musuh. Dan Menteri Waze adalah musuh sebenarnya." Jelas Kiara.


__ADS_1


"Jadi dari awal kamu nggak pernah marah sama kami?" Hansa menanyakan tentang rencana Kiara dari awal.



"Saat pertama tau kalau kalian menyembunyikan kebenaran tentang kasus kakak ke-tiga, aku emang marah banget. Tapi setelah dipikir-pikir, itu memang cara Yang Mulia Kaisar untuk mengecoh Menteri Waze, kan? lagi pula, kakak ke-tiga sendiri yang mengusulkan untuk mengorbankan dirinya." Jawab Kiara.



Hansa mengangguk dan tersenyum. Ia senang karena Kiara berada di pihak mereka. "Jadi kamu berpura-pura memusuhi kami supaya Menteri Waze berpikir kamu berpihak padanya?" tebaknya.



Kiara mengangguk mantap. "Tapi karena sekarang Menteri Waze sedang pergi ke pernikahan keponakannya, jadi aku nggak perlu pura-pura lagi. Karena dia nggak punya waktu untuk mengawasiku sementara ini." Ia lega karena tidak perlu membelot dari Kantor Pengadilan lagi.



"Baguslah kalau begitu." Hansa tersenyum senang. "Jadi sekarang kita bisa berdamai?" Hansa mengingat bagaimana Kiara mengabaikannya selama beberapa waktu ini. Ternyata itu bagian dari rencananya. Ia bahkan tak menyadari rencana cerdas gadis itu.



Hansa terkekeh lembut. "Lucu sekali. Aku adalah satu-satunya orang yang nggak tau tentang rencanamu. Sedangkan Tuan Nick aja tau." sindirnya.



"Oh iya, kamu kenapa waktu itu nggak mendukung Yang Mulia Kaisar untuk menjebak Menteri Waze saat Tuan Putri memakai kalung kristal palsu?" Hansa teringat kejadian itu.



"Untuk masalah itu, aku udah menjelaskan pada Tuan Nick. Aku tau Menteri Waze adalah orang yang cerdas dan licik. Dia nggak mudah jatuh pada perangkap. Jangan sampai dia membalikkan tuduhan pada Yang Mulia Kaisar." Kiara menjeda penjelasannya sejenak.




"Aku duluan, ya." Ia melanjutkan langkahnya yang sempat tertunda.



"Tunggu! aku mau mengatakan sesuatu." Hansa melangkah dan berdiri di hadapan Kiara. "Kiara, aku mencintaimu." Ungkapnya tiba-tiba. Kiara membulatkan mata terkejut. Memang ini yang ia tunggu-tunggu dan harapkan sejak lama.



"Udah lama aku mau mengungkapkannya. Tapi, aku belum siap waktu itu. Aku takut membahayakanmu. Dulu aku nggak mau kamu terlibat terlalu dalam dengan Kantor Pengadilan karena nggak mau kamu berada dalam bahaya." Jelasnya.



Kiara tersenyum simpul. "Aku tau. Aku tau kamu melakukannya demi aku. Dan aku juga udah curiga tentang perasaanmu untukku." Balasnya.



Hansa melangkah maju perlahan. Dengan gerakan pasti, ia mengecup kening Kiara lembut.

__ADS_1



"Aduh, manisnya pasangan baru." Sindir Sima yang entah muncul dari mana. Kiara dan Hansa terkejut dan sontak menoleh. Terlihat Sima dan Weni berdiri saling merangkul mesra. Kedua pasangan itu kompak meledek mereka.



"Kakak ke-empat, ngapain kamu di sini?" sewot Kiara malu. Ia melirik Hansa yang juga tidak bisa menyembunyikan rasa malunya.



"Hansa, ayo pergi! nggak usah ngobrol di sini." Kiara menggandeng tangan Hansa dan mengajaknya berlalu dari sana untuk menghindar dari mata-mata nakal seperti kakaknya.



"Silakan lanjutkan kemesraan kalian." Ledek Sima tertawa bersama Weni. Puas mengganggu Kiara dan Hansa.



...----------------...



Esoknya, Kiara mengetuk pintu ruangan Hansa. Ia masuk setelah mendengar sahutan dari dalam yang menyuruhnya masuk.



"Aku kira Bari yang datang. Ternyata kamu." Hansa pura-pura tak mengharapkan kedatangan Kiara.



Kiara tak menggubrisnya. Ia duduk mengangkat sebelah kaki di hadapan Hansa. Matanya teralihkan ke beberapa camilan di meja yang ada di sudut ruangan.



Ia mengusap perutnya dan beralih pada Hansa. "Aku tiba-tiba lapar. Aku mau makan paha ayam." Keluhnya.



"Tunggu di sini. Aku akan menyuruh Weni memasak ayam untukmu." Pinta Hansa. Ia keluar dari ruangannya hanya untuk memenuhi pesanan Kiara.



Kiara tersenyum senang mendapat perhatian dari Hansa. Selang beberapa lama, Hansa kembali dengan membawa sepiring dada ayam. Kiara langsung cemberut dengan bibir dimajukan. "Kenapa dada ayam? aku kan mintanya paha ayam." Protesnya.



"Jangan terlalu makan paha ayam. Makanlah dada ayam ini." Hansa membelai rambut Kiara lalu menyodorkan piring itu ke hadapan Kiara.



Kiara yang tadinya cemberut kembali luluh dengan perhatian yang diberikan Hansa. Ia akhirnya menurut dan melahap dada ayam itu. Sebenarnya ia memang paling suka ayam. Tapi ia paling suka bagian pahanya.

__ADS_1



"Kamu nggak makan?" tawarnya. Hansa menggeleng. Ia lebih senang memperhatikan Kiara makan dengan lahap.


__ADS_2