Cinta Pendekar

Cinta Pendekar
Kejelasan


__ADS_3

Kiara membayangkan kembali awal mula pertemuannya dengan Menteri Waze. Pada saat itu, ia belum tahu bahwa pria ini jugalah yang membunuh mendiang Gurunya. Tapi saat ini Kiara tidak bisa memikirkan kesalahan Menteri Waze. Ia harus memikirkan rencana matang-matang.


Kiara beralih pada Julian Rama. Ia teringat sesuatu. "Aku mau tanya lagi, Guru. Pertama kali aku bertemu dengan Julian, dia mencuri kantong uangku. Kenapa Guru menyuruh dia melakukan itu?" tanyanya mengingat bagaimana pertemuan pertamanya dengan si jubah hitam.


Menteri Waze mengerutkan kening. Ia menoleh pada Julian. "Aku tidak menyuruhnya mencuri kantong uangmu."


"Apa kamu kekurangan uang sampai mencuri kantong uang Kiara?" Menteri Waze memastikan pada Julian.


Julian menggeleng cepat. "Saya tidak pernah mengambil kantong uang milik Nona Kiara. Saya tidak akan melakukan hal yang tidak sesuai perintah Anda." Jawabnya.


Kiara mengerutkan kening. Ia menatap Julian dengan teliti. Memastikan pria itu berbohong atau tidak. Namun ia melihat wajah Menteri Waze dan Julian yang sama-sama bingung. Tidak ada tanda kebohongan sama sekali di wajah mereka.


Kiara memutar balik ingatannya saat pertama kali bertemu dengan si jubah hitam.



"*Apa hubunganmu dengan lima bersaudara Fayes?" tanya si jubah hitam tiba-tiba, dengan suara yang amat dalam*.



"*Hah, suaranya ..." Kiara menatap wajah si jubah hitam yang tertutup kain lama*.


*Ia kemudian mengesampingkan pikirannya*.



"*Bukan urusanmu. Balikin kantong uangku!" pinta Kiara ingin cepat pergi dari sana*.


*Si jubah hitam mengeluarkan kantong uang milik Kiara dan melempar kantong itu ke arahnya*.


"*Sampai ketemu lagi." Si jubah hitam berlari memasuki hutan dengan cepat*.



"Kalau diingat-ingat, suara si jubah hitam yang mengambil kantong uangku itu beda dengan suara Julian. Apa jangan-jangan si jubah hitam yang aku ketemu pertama kali itu bukan Julian, tapi beda orang."


Kiara membulatkan mata bingung dengan identitas si jubah hitam yang sebenarnya. Ia kembali menatap Menteri Waze dan Julian. Tak ingin membuat mereka curiga.


"Tidak apa-apa. Orang yang mencuri kantong uangku kebetulan memakai jubah hitam juga. di sini jarang yang memakai jubah hitam. Jadi ku pikir orang itu Julian." Ia tersenyum tak ingin membahas itu lagi.


"Oh iya. Aku pamit sekarang, Guru. Sebenarnya Master Nick mengurungku di Kantor Pengadilan. Tapi aku terpaksa kabur untuk bertemu dan berbicara denganmu." Kiara membungkuk pamit.

__ADS_1


Segera setelah ia sampai di luar kediaman, ia mempercepat langkah dengan pikiran yang masih teringat tentang si jubah hitam.


"Jangan-jangan jubah hitam yang pertama kali ku temui, adalah orang yang berada di pihakku dan Kantor Pengadilan." Duganya.


"Kalau benar begitu, kenapa dia mencuri kantong uangku?" ia mengusap dagunya bingung dengan kasus yang entah melibatkan satu atau dua orang.


"Tapi dia juga bilang sampai ketemu lagi. Apa dia mengenalku?" Kiara menggeleng kuat. Pusing memikirkan hal itu.


"Siapa yang mencuri kantong uangmu?" Kiara berbalik terkejut mendengar suara seseorang dari belakangnya.


"Kamu ... " ia tak bisa berkata-kata melihat Hansa yang kini berdiri di sampingnya dalam keadaan sehat walafiat.


Hansa menatapnya penuh tanya. "Saya kenapa?" ia menaikkan satu alis.


"Kenapa kamu ... " Kiara yakin ia telah memasukkan obat tidur di dalam teh yang ia berikan pada Hansa. Lantas mengapa pria itu bisa mengikutinya sampai di sini.


Hansa yang terus menatapnya tersenyum simpul. "Tidak ada gunanya kamu menaruh obat tidur di dalam teh itu. Kamu pikir saya tidak tau?" sahutnya.


Kiara menatapnya kesal. "Bagaimana kamu bisa di sini?" tanyanya geram. Hansa mengedikkan bahu.


"Sebagai Tim Penyelidik, apa lagi Ketua Tim Penyelidik, saya tau banyak yang akan mencelakai saya. Makanya saya selalu membawa obat penawar ke mana-mana." Jelasnya santai.


Hansa menyipitkan mata. "Sebenarnya ngapain kamu ke sini?" tanyanya menatap Kiara lekat.


Kiara menghela napas sejenak. "Sudah tau kan? aku sepenuhnya ada di pihak Menteri Waze. Aku tidak akan berpihak pada Kantor Pengadilan lagi." Tegasnya.


"Kalau mau melaporkan aku pada Master Nick, silakan. Aku tidak melarangmu." Ketusnya sebelum melanjutkan langkahnya. Ia tidak peduli jika Hansa benar-benar melaporkannya pada Master Nick. Atau jika Master Nick memberinya hukuman mati. Ia tidak akan takut karena ia yakin Menteri Waze akan membelanya.


Kiara menghapus wajah Hansa di pikirannya. Ia kembali berfokus pada asumsinya yang sempat tertunda karena Hansa yang mengejutkannya.


Kiara menghentikan langkah tiba-tiba. "Tunggu! nama Julian Rama terdengar tidak asing."



Master Nick sedang berdiskusi bersama Kaisar. Mereka tampak memusingkan masalah pencurian kalung kristal itu.



Rupanya Master Nick di sini. Pantas tidak memerhatikan Kiara yang kabur dari kurungannya.


__ADS_1


"Bagaimana pun caranya, aku harus mendapatkan kembali kalung kristal itu. Kalau tidak, Tuan Putri akan sangat sedih." Tekadnya.



"Sabar, Yang Mulia Kaisar. Saya yakin pencuri itu akan mengembalikan kalung kristal milik Tuan Putri. Kalau pencuri itu tidak mengembalikannya, dia pasti takut akan ketahuan cepat atau lambat." Master Nick menenangkan Kaisar dengan dugaan yang masuk akal. Kaisar menghela napas berusaha tenang dan berpikiran jernih.



"Izinkan saya bertanya, Yang Mulia Kaisar." Izin Master Nick. "Kenapa Yang Mulia Kaisar berani mempertaruhkan kalung kristal milik Tuan Putri sebagai jaminan?" ia menyuarakan kebingungannya.



"Awalnya aku sengaja membiarkan kalung kristal Tuan Putri dicuri. Karena aku ingin pelaku kejahatan berpikir telah berhasil mengalihkan perhatianku dari kasus pencurian kotak supaya aku bisa mengetahui isi kotak itu." Ia menghela napas sejenak.



"Makanya aku memerintahkanmu membawa kotak itu untuk dibuka oleh Liam. Tapi ternyata, dia tetap berhasil mengalihkan perhatianku dan kotak itu terbakar." Lanjutnya.



"Kalau untuk kalung kristal, aku berani mempertaruhkannya karena aku berharap ada orang yang gila harta yang menemukan kalung kristal itu di Perpustakaan Menteri Waze." Jelasnya yang sudah tahu dalang di balik semua kejahatan adalah Menteri Waze.



Master Nick mengerutkan kening. "Kenapa Yang Mulia Kaisar berharap orang yang menemukannya adalah orang yang gila harta?" kalau yang menemukan kalung kristal itu adalah orang yang gila harta, maka orang yang menemukan itu pasti akan terhipnotis dengan keindahannya dan mencurinya dari Perpustakaan Menteri Waze."



Kaisar menggelengkan kepala. "Justru kalau orang yang gila harta, akan mengembalikan kalung itu padaku supaya aku memberikan hadiah berlipat ganda untuknya karena telah berhasil menemukan kalung itu." Koreksinya.



Master Nick mengangguk mengerti.



Kiara memasuki Perpustakaan yang ada di dekat penginapan yang ia tinggali. Setiap kediaman atau pun pusat Kerajaan masing-masing memang memiliki Perpustakaan. Ada juga yang membangun Perpustakaan pribadi di luar kediaman seperti Menteri Waze misalnya. Sebenarnya Kantor Pengadilan juga terdapat Perpustakaan. Tapi Kantor Pengadilan masih belum selesai dibangun.


Sudah sekitar satu jam dia menghabiskan waktu membolak-balik buku-buku yang ada di sana. Sampai akhirnya ia menemukan buku yang dicarinya.


Setelah membolak-balik bukunya, Kiara berhenti pada satu halaman. Bola matanya membulat. Beberapa saat kemudian, bibirnya menyungging membentuk sebuah senyuman.

__ADS_1


__ADS_2