Cinta Pendekar

Cinta Pendekar
Menikah?


__ADS_3

Hyra kembali mengunjungi Kaisar. Sebelum dikirim ke pernikahan, ia berencana untuk lebih sering mengunjungi Kaisar. Karena setelah menikah, akan sulit untuk sekedar betemu dengan keluarganya.


Setelah lama mengobrol, ia bergegas keluar. Ia celingak-celinguk seperti mencari seseorang. Karena tak kunjung melihat orang yang dicarinya, ia melanjutkan langkahnya menjauh dari sana.


Seseorang muncul dari balik pepohonan di sekitar sana. "Tuan Putri, maafkan aku." Batin Liam yang menyamarkan namanya jadi Deon.




"Ini udah hampir setengah tahun. Kok kakak pertama nggak pernah ke sini, ya? bahkan dia nggak mengabari sama sekali." Ujar Kiara murung. "Apa jangan-jangan, terjadi sesuatu dengan kakak pertama!" cemasnya.



Hansa tersenyum tenang. "Nggak usah khawatir. Aku tau kakak pertamamu pasti baik-baik saja. Dia adalah orang yang kuat." Ia mengusap punggung Kiara lembut.



Kiara menyandarkan kepala di bahu Hansa dengan bibir mengerucut. "Tapi ngomong-ngomong, aku curiga dia nggak benaran mengantar Nona Sera pulang." Sahutnya tiba-tiba. Hansa mengerutkan kening bingung. "Maksudmu?"



"Kalau dilihat-lihat, dia dan Nona Sera seperti punya keterikatan kuat dan selalu saling membutuhkan." Jelasnya dengan mata berbinar.



"Jadi kamu curiga mereka mungkin menjalin hubungan asmara di sana?" tebak Hansa yang langsung disambut dengan anggukan oleh Kiara. Kiara memutar bola mata jengah. "Apa kamu nggak bisa lihat tanda-tanda dua makhluk yang sedang jatuh cinta?" omelnya. Hansa hanya menggeleng polos.



Setelah berpikir sejenak, Kiara menggelengkan kepala kuat-kuat. "Tapi nggak mungkin, sih. Aku merasa agak aneh membayangkan seandainya kakak pertama benar-benar menjalin hubungan asmara." Ia tertawa geli sendiri membayangkannya.



Hansa ikut terkekeh. "Bisa aja tau. Aku juga dulu begitu. Jangankan orang lain, aku sendiri aja nggak pernah membayangkan kalau seandainya aku menjalin hubungan asmara. Sampai aku bertemu denganmu, baru aku percaya apa itu cinta." Akunya. Kiara tak lagi mengeluarkan sepatah kata. Hatinya hanya dipenuhi dengan rasa haru mendengar pernyataan Hansa yang tertuju untuknya. Hansa tersenyum senang melihat pipi Kiara yang memerah karena ucapannya. Ingin sekali rasanya ia mencubit pipi itu.



"Kiara, ayo ikut aku!" Sima muncul tiba-tiba dan menarik tangan Kiara untuk mengikutinya. "Kenapa?" Kiara hendak memprotes. "Kakak pertama sudah datang." Sima menyampaikan kabar itu dengan napas memburu saking bahagianya.



Kiara tersenyum lebar. Ia sontak berlari kencang menuju halaman Kantor Pengadilan untuk menyambut kakak pertamanya.

__ADS_1



"Kakak pertama!" Kiara melompat kegirangan ketika melihat Rubby turun dari sebuah kereta kuda. Ia mengerutkan kening ketika mengetahui kakak pertamanya itu tidak datang seorang diri. Pria itu menyibakkan tirai dan membantu seorang gadis turun dari kereta itu.



Rubby mengulurkan tangan untuk digapai oleh Sera yang hendak turun dari kereta kuda. "Terima kasih." Ucap Sera tersenyum manis. Keduanya berdiri menghadap beberapa orang yang menyambut kedatangan mereka. Seperti Kiara, Hansa, Bari, Sima, dan Weni yang memberikan senyuman hangat ketika mereka turun dari kereta kuda sekaligus menatap keduanya aneh.



"Nona Sera, ku pikir Tuan Rubby sudah mengantarmu pulang. Ada apa? apa ada sesuatu yang terjadi di perjalanan?" Weni mengangkat suara bertanya dengan penasaran.



Sera menggeleng dengan senyum lembut khasnya. "Sera dan Rubby memang berencana pulang ke sini dari beberapa bulan yang lalu. Tapi ada beberapa masalah dan kesibukan yang menyebabkan kami baru bisa datang sekarang." Jelasnya.



"Ooh." Semua menganggukkan kepala mengerti. "Kakak pertama, aku merindukanmu." Kiara berhambur ke pelukan Rubby. Ia bergelayut manja dalam pelukan pria itu.



"Kalau begitu, aku duluan, ya." Sera diantar ke kamar untuk tempat istirahatnya oleh Weni.


"Mari aku antarkan kakak pertama ke kamar." Ajak Kiara menggandeng tangan Rubby riang.




Kiara terkekeh. "Aku nggak terlalu nakal kok. Kalau nggak percaya, kakak pertama bisa bertanya pada Hansa. Dia yang selalu mengawasiku setiap hari." Jaminnya.



"Lalu, apa adik ke-empat tidak mengawasimu?" tanya Rubby meski tahu jawabannya. Kiara menggeleng.



"Kakak ke-empat sibuk bermesraan dengan kekasihnya." Adu Kiara. Sebenarnya Rubby hanya ingin mengetes apa adik ke-empatnya itu sudah benar-benar dewasa. Ternyata dugaannya tentang Sima benar. "Bocah itu. Aku akan memarahinya nanti." Gumam Rubby.



Kiara mengerutkan kening gusar. "Jangan, dong. Kasihan kakak ke-empat. Lagi pula, aku kan udah dewasa. Udah bisa menjaga diri sendiri tanpa perlu diawasi lagi." Yakinnya.

__ADS_1



"Udah dewasa tapi masih berbuat nakal. Apa itu pantas disebut dewasa?" bantah Rubby. Kiara hendak memprotes. Tapi ia tahu yang dikatakan kakaknya itu memang benar. Ia memang masih sering berbuat nakal dan semaunya.



"Kamu dan Sera memiliki sifat yang benar-bebar mirip." Sahut Rubby tiba-tiba. Nada suaranya jadi sangat rendah begitu menyebut nama Sera.



Kiara mengerutkan kening. Ia tertawa terbahak-bahak. "Kakak pertama nggak usah bercanda. Mana mungkin aku bisa disamakan dengan gadis yang lembut dan anggun seperti Nona Sera."



Kiara berhenti tertawa karena ekspresi Rubby yang biasa saja. Sama sekali tak merespon tawanya. "Aku akui sifat luar kalian emang beda jauh. Dia lembut dan pendiam, sedangkan kamu gadis yang cerewat dan nggak bisa diam." Jelasnya dengan nada serius. "Tapi sifat dalam kalian sama. Nekat, penuh tekad, dan keras kepala. Itu juga merupakan sifat yang sama dengan Sera." Simpulnya.



Kiara mengangguk paham. Ia tahu karakter luar dan dalam seseorang kadang berbeda. Dan terkadang karakter atau sifat asli seseorang tak seperti yang dilihat dari luarnya.



"Kakak pertama istirahat dulu. Nanti aku minta Weni memasak makanan untukmu." Kiara mendorong Rubby masuk ke kamarnya.



"Apa yang kalian bicarakan? kenapa nggak mengajakku? asyik banget kelihatannya." Sima muncul tiba-tiba entah dari mana.



Kiara bersedekap dada. "Ngapain aku kasih tau. Kakak ke-empat dengar sendiri kan apa yang kami bicarakan tadi?" ia menolak memberitahu.



"Benar juga, sih." Sahut Sima keceplosan. Ia terpancing ucapan Kiara. "Jadi kakak ke-empat menguping? dasar tukang menguping!" Kiara menjewer telinga Sima geram sampai pria itu meringis kesakitan. "Iya iya, maaf. Udah lepasin! nggak lucu kan kalau Weni melihat telingaku jadi merah?" ia mengaduh minta ampun.



Sima mengusap-usap setelah telinganya dibebaskan oleh Kiara. "Eh, tapi ngomong-ngomong, benar juga apa yang kakak pertama bilang soal Nona Sera." Sahutnya tiba-tiba. "Soalnya yang aku lihat, di dunia ini gadis yang bisa membuat kakak pertama pusing hanya kamu dan Nona Sera." Ujarnya yang disetujui oleh Kiara.



Sima menghela napas dalam. "Benar-benar pasangan yang serasi. Untungnya mereka udah menikah. Jadi kakak pertama nggak perlu gengsi lagi pada Nona Sera." Gumamnya.

__ADS_1



Kiara terlonjak. "Mereka ... menikah?"


__ADS_2