
Weni sedikit terkejut saat merasa sebuah tangan yang menyambut tangannya dan menuntunnya berjalan. Ia mendongak waspada. Namun dari feelingnya, ia segera tahu siapa orang itu.
"Sima." Sahutnya lembut. Ia tersenyum pada pria itu. Sima menggandeng tangannya dan menuntunnya untuk duduk di depan kamarnya.
"Kenapa berjalan sendirian? kenapa tidak memanggilku?" tanya Sima khawatir. Weni hanya tersenyum singkat.
"Sima, ada yang mau aku katakan." Weni membuka percakapan. "Kamu mau ngomong apa?" Sima bersedia menjadi pendengar yang baik untuk kekasihnya jika gadis itu ingin curhat dan menyampaikan keluh kesah padanya. Ia duduk dan mendengarkan dengan serius.
"Sebelumnya aku minta maaf." Weni memulai pembicaraan dengan nada sedih. Sima mengerutkan kening. Ia merasa tahu ke mana arah pembicaraan ini.
"Aku minta maaf nggak bisa jadi kekasih idamanmu." Weni menundukkan kepala.
"Jangan bilang begitu. Aku mencintaimu apa adanya, apa pun kondisimu." Bantah Sima cepat. Tak mau gadis itu larut dalam kesedihan.
"Kamu memang kekasih idamanku. Tapi ... " Weni menghentikan ucapannya dan kembali menundukkan kepala. "Tapi sekarang keadaanku begini, dan aku nggak mau membebanimu. Jadi ku rasa ... " ia mempersiapkan diri untuk mengucapkan kalimat selanjutnya.
"Ku rasa kita nggak bisa lanjut. Jadi sebaiknya kita cukup sampai di sini saja." Tegasnya. Hati Sima terasa seperti ledakan yang berasal dari petasan kala itu. Ia memang sudah menebak apa yang akan gadis itu ungkapkan. Tapi tetap saja ia merasa hatinya hancur ketika mendengarnya langsung.
"Weni, kenapa kamu mengatakan itu? aku sama sekali nggak menganggapmu beban. Dan aku sama sekali nggak merasa direpotkan." Sima berusaha mencegah keputusan Weni yang jelas tak diinginkannya.
"Kamu merasa nggak direpotkan, tapi aku merasa merepotkanmu, Sima. Aku ini gadis yang buta. Aku tidak ada gunanya untukmu. Aku malah hanya akan membebanimu." Bantah Weni. Ia segera berdiri dari duduknya dan berjalan dengan hati-hati menuju kamarnya. Dengan cepat, ia menutup pintu kamarnya agar Sima tak bisa mencegahnya.
Sima hanya bisa terdiam mematung. Ia bahkan tl bisa mencegah langkah Weni saking syoknya.
Sima berusaha berdiri menghadap pintu kamar Weni. "Tapi aku bisa menyembuhkanmu, Weni." Seru Sima dari luar. "Aku bisa menyembuhkanmu dengan mudah. Percayalah padaku!" teriaknya.
"Aku adalah si daging empuk. Aku pasti bisa menyembuhkan matamu, Weni. Ku mohon percayalah!" bujuknya terus berteriak dari luar kamar.
Weni menutup mulutnya, menahan suaranya yang sudah terisak. Kakinya merosot di lantai dan ia terduduk meratapi nasibnya.
Ia tidak menyalahkan takdir. Malahan ia merasa mungkin ini menjadi pelajaran atau ujian untuk hubungannya bersama Sima. Dan ia merasa, memutuskan Sima adalah keputusan yang tepat. Ia sama sekali tidak menyesalinya meski hatinya merasakan luka yang amat pedih.
Weni membuka pintu dan memberikan sedikit celah udara yang masuk. Ia tidak lagi mendengar dan merasakan tanda-tanda kehadiran Sima. Pasti pria itu sudah pergi.
...----------------...
Kiara berjalan dengan pandangan kosong seperti berjalan tak tentu arah. Ia bahkan tak menyadari Bari yang lewat di sampingnya.
"Hey!" Bari terpaksa membuyarkan lamunan Kiara.
__ADS_1
Kiara mengerutkan kening dan melihat pelaku yang membuatnya terkejut. Ia langsung menatap orang itu dengan kesal ketika mengetahui pelakunya.
"Aku memanggilmu dari tadi. Kamu nggak sadar aku lewat di sampingmu dan memanggilmu?" protes Bari.
Kiara menggeleng tak mau berdebat dengan pria itu. "Kamu sudah menjenguk Weni?" tanya Kiara memasang wajah serius.
"Ya, aku sempat bertemu sebentar dan mengobrol dengannya tadi. Kenapa?" Bari balik bertanya melihat wajah serius Kiara.
"Apa dia memberi tahu sesuatu padamu?" tanya Kiara memastikan apakah Weni memberitahu hal yang sama yang gadis itu beri tahukan padanya. Bari menggeleng sebagai jawaban.
"Memang dia memberi tahu sesuatu padamu?" Bari membalikkan pertanyaan yang langsung diangguki oleh Kiara.
"Dia memberi tahu apa?" Bari tampak penasaran.
"Dia memberi tahuku tentang pelaku yang menyebabkan matanya tidak bisa melihat." Kiara memulai ceritanya.
"Loh, bukannya Sima memberi tahuku kalau mata Weni buta akibat benturan yang keras di kepalanya, ya?" Bari ingat Sima pernah memberi tahukan hal itu padanya.
"Iya. Weni memang sempat terjatuh dan terbentur sangat keras. Tapi bukan itu yang menyebabkan matanya buta." Jelas Kiara.
"Dia bilang saat kebakaran terjadi, ada pria berjubah hitam menyemprotkan sebuah cairan ke matanya sebelum dia pingsan." Tuturnya.
Kiara mengangguk membenarkan. Bari terdiam tampak sedang memikirkan sesuatu. "Tunggu, pria berjubah hitam?" ulangnya. "Bukannya si jubah hitam itu juga ada hubungannya dengan misi pencurian kotak itu?" ingatnya.
"Itu makanya. Aku pikir, dia hanya akan menyerangku dan Tuan Hansa karena kami yang menyelidiki misi itu beberapa waktu lalu. Ternyata, dia mengincar semua orang yang berhubungan dengan Kantor Pengadilan." Ujar Kiara.
"Eh, jangan biarkan kakak ke-empat tau soal ini. Weni adalah pacarnya. Dia pasti akan mengamuk hebat kalau tau pelakunya." Pintanya pada Bari.
Bari mengangguk singkat meski telinganya hanya menangkap 'Weni adalah pacar Sima' dari mulut Kiara.
Sima berjalan tak tentu arah. Ia tahu ke mana ia harus menuju. Ia kenal betul pria berjubah hitam itu. Karena beberapa waktu lalu ia sempat bertarung singkat dengan si jubah hitam ketika ia sedang mencari obat untuk Kiara yang terkena racun saat itu, sehingga menyebabkannya tahu bahwa si jubah hitam juga merupakan pelaku yang meracuni Kiara. Itulah alasan ia bertarung dengan si jubah hitam.
Pada saat itu, ia bahkan berhasil membuka masker penyamar penjahat itu dan melihat dengan jelas wajah si jubah hitam.
__ADS_1
Sima mendatangi hutan lumut. Ia tahu tempat itu menjadi markas persembunyian si jubah hitam karena dirinya bertarung di tempat itu kala itu.
"Keluar kau! aku menantangmu berduel denganku." Seru Sima sekencang-kencangnya.
Beberapa detik setelah itu, angin berhembus kencang dan melesat ke arahnya. Sima menangkis serangan tiba-tiba itu.
"Saudara ke-empat Fayes, Sima Fayes. Masih berani juga kau datang ke sini." Sapa si jubah hitam dengan gaya sok elegan.
"Pendekar ke-lima, Julian Rama. Oh, atau haruskah ku panggil kau sesuai julukanmu sekarang, si jubah hitam?" balas Sima tak mau kalah.
"Harusnya waktu itu aku membunuhmu dan tidak membiarkanmu lepas." Lanjutnya seakan belum puas. Ia membuka jurusnya untuk menyerang si jubah hitam.
Pertarungan sengit terjadi. "Untuk ukuran Pendekar, kamu terlalu lemah." Ledek Sima sambil menangkis serangan demi serangan yang dilayangkan oleh si jubah hitam.
"Hanya begini kemampuanmu. Dasar lemah." Si jubah hitam balas meledek Sima.
Sima melayangkan serangan bertubi-tubi hingga berhasil menumbangkan si jubah hitam. Dengan gerakan cepat, ia menggeledah jubah hitam yang digunakan penjahat itu dan menemukan benda yang dicarinya.
"Kamu bukan lagi seorang Pendekar." Ia menyemprotkan cairan di botol kecil pada kedua mata si jubah hitam hingga membuat penjahat itu mengerang kesakitan. Ia dapat memastikan bahwa cairan itu juga yang digunakan oleh si jubah hitam untuk melukai mata Weni.
__ADS_1