
Rubby berhenti di tengah perjalanannya saat mendengar sesuatu terjatuh di tanah menghadang kereta kudanya. Ia tahu benda yang menghadangnya pasti sengaja dijatuhkan oleh si pengendara kereta kuda yang sedang dikejarnya.
Ia dengan cepat turun dan memeriksanya dengan hati-hati. "Kiara?" tangannya menyentuh pakaian yang dikenakan oleh Kiara, dan hidungnya mencium aroma khas tubuh Kiara yang bercampur bau aneh.
Ia memeriksa keadaan Kiara yang ternyata tidak sadarkan diri. Rubby mengangkat tubuh adik ke-limanya itu dan membawanya masuk ke kereta kuda miliknya.
Sera menyibak kain yang menutupi bagian depannya. "Tuan Rubby, apa yang terjadi?" tanyanya cemas.
Rubby buru-buru meletakkan tubuh Kiara di samping Sera. "Kita harus buru-buru." Ia membalikkan tubuh dan memutar baik arah kereta kudanya menuju Kantor Pengadilan.
Sera merangkul tubuh Kiara dengan cemas dan tanpa bertanya. Meskipun ia sendiri merasa bingung dan penasaran dengan apa yang sebenarnya sedang terjadi.
Sesampainya di Kantor Pengadilan, Rubby dengan cepat turun dari kudanya. "Saudara Rubby, apa kau melihat Nona Kiara? kami semua mencarinya sedari tadi." Hansa berdiri di depan Rubby dan beberapa Pengawal lainnya. "Apa kau sudah mengantar Nona Sera pulang?" lanjut Hansa.
Rubby memasang wajah penuh penekanan. "Kenapa kalian membiarkan adik ke-limaku keluar dari sini? aku kan sudah berpesan untuk menjaganya. Kenapa kalian biarin dia keluar dan terluka?" wajar saja ia kesal.
Hansa mengerutkan kening. Ia melihat Sera yang keluar dari kereta kuda dengan memapah Kiara yang terlihat tak sadarkan diri. "Kiara? ada apa dengannya?" ia menghampiri Kiara dan memeriksa keadaan gadis itu. Hansa menyentuh darah dari dada Kiara yang terluka. "Kayaknya ... dia tertusuk pedang kalau dilihat dari lukanya."
Hansa berbalik menatap Rubby. "Saya rasa ... dia terluka parah. Kita harus memanggil Tabib." Pintanya tergesa-gesa.
Kini, Hansa, Rubby, Bari, Weni, dan Sera berdiri memerhatikan Kiara yang terbaring di ranjang dengan Tabib yang memeriksa di sampingnya. Tabib berbalik dan menggeleng-gelengkan kepala.
"Kenapa? apa yang terjadi?" tanya Hansa tak sabar. Tabib kebingungan bagaimana cara menjelaskannya. "Dilihat dari lukanya ... Nona ini memang tertusuk pedang. Untungnya pedang itu tidak sampai menembus dadanya." Tabib menjeda ucapannya dan terlihat menghela napas sejenak.
"Tapi meskipun begitu, Nona ini sedang dalam kondisi yang sangat kritis. Karena ia terkena racun yang sangat langka." Jelas Tabib.
"Maksud Anda?" sentak Hansa. "Sepertinya ... pedang yang menusuk dadanya sudah dioleskan dengan racun." Duga Tabib.
Rubby terlihat mengusap wajahnya frustasi. "Apa ... apa racun ini dapat membahayakan nyawanya?" tanyanya putus asa.
Tabib lagi-lagi menghela napas sebelum lanjut menjelaskan. "Saya kurang mengerti sebenarnya. Selama saya jadi Tabib, saya belum pernah sekali pun menemukan pasien yang terkena racun ini. Dan saya tidak tau nama racun itu." Papar Tabib.
Rubby memejamkan mata dan mengeraskan rahang mencoba menahan emosinya.
"Tapi, saya berhasil tau kalau Nona ini nggak akan bisa bertahan dalam tiga hari kalau penawar racunnya belum ditemukan." Lanjut si Tabib lagi.
__ADS_1
"Apa hanya tiga hari?" tanya Hansa dengan nada putus asa.
Tabib menghela napas dan menatap Kiara sejenak. "Itu tergantung padanya. Kalau tubuhnya kuat, dia bisa bertahan setidaknya maksimal satu minggu." Ucapnya pelan. Ia membungkuk pamit dan undur diri.
Hansa mencegah Tabib itu. "Apa Anda bisa menolong dia? saya nggak percaya kalau nggak ada solusi lain. Anda adalah Tabib paling berpengalaman setau saya. Masa nggak ada solusi apa pun untuk menyembuhkan dia?" bisik Hansa mendesak.
Tabib menundukkan kepala. "Kalau saya punya cara, saya pasti akan menolongnya semampu saya." Balasnya sopan.
Ia kemudian terlihat menautkan alisnya seperti teringat sesuatu. "Tapi kalau nggak salah, saya pernah mendengar tentang seseorang yang ahli racun. Semua racun dan penawar jenis apa pun beliau tau." Sahutnya.
"Siapa?" desak Hansa. Si Tabib yang sudah lanjut usia mencoba mengingat-ingat nama orang itu.
"Saya lupa. Maaf, saya benar-benar lupa. Tapi seingat saya, beliau adalah anggota kakak-beradik Fayes." Ucapnya menggunakan memorinya seadanya.
Hansa tampak berpikir sejenak. "Oh iya. Dia adalah saudara ke-empat dari kakak-beradik Fayes. Sima Fayes, kan?" tebaknya.
Si Tabib langsung mengangguk membenarkan. "Kalau begitu, saya pamit. Kalau saya berhasil menemukan solusi lainnya, saya akan datang lagi." Si Tabib undur diri.
Hansa bisa merasakan sedikit kelegaan di hatinya.
Keadaan menjadi hening sejenak. Semua orang fokus menatap Kiara yang masih terbaring dan berdoa yang terbaik untuk gadis itu.
Mata Weni bahkan sudah sembap. Ia sebagai teman dekatnya Kiara juga takut gadis itu akan meninggalkannnya.
Sera menatap Rubby yang hanya diam dengan wajah datar.
Rubby membalikkan tubuh hendak melangkah keluar dari kamar itu. "Jika sesuatu terjadi pada adikku, aku nggak akan memaafkan kalian semua." Ancamnya tertuju pada Hansa para penghuni Kantor Pengadilan.
Ia melangkah keluar dari kamar Kiara dengan perasaan campur aduk.
Hansa mengehela napas dan beralih menatap Kiara dengan wajah sedih.
"*Eh, itu bintangnya bagus banget ... lihat, tuh!" Kiara mengarahkan telunjuknya ke arah depan. Mencoba mengalihkan kegugupan dan kecanggungannya*.
__ADS_1
*Kiara mengikuti arah telunjuk Hansa. "Kamu nunjuk apa?" tanyanya mengerutkan kening. "Sekarang kan masih siang. Mana ada bintang." Kiara menyadarkan Hansa yang mulai ngaco*.
"*Oh iya." Hansa menggaruk tengkuknya salah tingkah. "Udahlah. Mending kita duduk dulu. Capek habis jalan-jalan." Kiara yang risih dengan situasi canggung itu memutuskan duduk melihat pemadangan jalanan di bawah*.
"*Kamu ngapain masih berdiri?" Kiara menarik tangan Hansa untuk mengajak pria itu duduk di sampingnya*.
*Hansa menuruti gadis itu dan mendudukkan diri di sampingnya*.
Pikiran Hansa melayang pada saat-saat ia menghabiskan waktu bersama Kiara.
Tubuhnya mematung dan matanya terpaku menatap gadis yang terbaring lemah di ranjang itu.
Bari mengguncang lengan Weni pelan. Mengajak gadis yang sudah mulai sesenggukan itu keluar. Weni masih enggan meninggalkan kamar itu. Ia ingin tinggal di situ dan menunggu temannya itu sadarkan diri.
Namun, ia terpaksa mengikuti Bari dan yang lainnya keluar dari kamar tersebut karena tak ingin mengganggu Kiara dan semakin memperburuk suasana.
Bari merangkul pundak Weni dan menuntun gadis itu keluar disusul Sera.
Semua telah meninggalkan kamar tersebut. Hanya Hansa yang masih mematung tak berniat bergeser dari tempatnya berdiri.
"Gadis bodoh, Cepat sadar! kamu pasti kuat." Ucapnya dalam hati.
Ia tersenyum tipis. Entah senyuman manis atau senyuman pahit yang diukirnya. Ia pun tak tahu.
Sera melihat sekelilingnya. Sedari tadi, ia kesulitan mencari keberadaan Rubby. Sera sangat ingin menenagkan hati pria yang pastinya sedang bersedih itu.
Ia sangat ingin mendinginkan pria yang hatinya sedang panas itu.
__ADS_1