Cinta Pendekar

Cinta Pendekar
Mencoba jujur


__ADS_3

Kiara menatap kedua insan di hadapannya dengan kening dikerutkan. Pasalnya Hansa dan Dewi ke-enam terlihat nyaman berdiri dengan sangat berdekatan.


"Kalau kalian mau melepas kangen, lanjutkan aja! aku nggak akan mengganggu." Pamitnya melangkah meninggalkan Hansa yang memanggilnya. Takut gadis itu salah paham. Ia akhirnya memutuskan mengejar Kiara dan memberikan penjelasan agar gadis itu tidak salah paham mengenai hubungannya dan Dewi ke-enam.


Sedangkan Kiara terus berjalan sembari mengutuk Hansa di dalam hatinya. Apa-apaan? pria itu jelas terlihat ingin melepas rindu pada Dewi ke-enam. Hanya saja pria itu terlihat terganggu karena keberadaan dirinya. Dan itu membuat Kiara sangat kesal.


"Kiara!" Hansa berhasil meraih lengan Kiara yang masih tak mau menatapnya. "Kamu kenapa, sih?" tanyanya lembut karena tak mau membuat kekasihnya itu semakin marah.


Kiara melepas genggaman tangan Habsa dan melipat kedua tangan di dada sembari terus menatap objek lain.


Hansa menghela napas sejenak sebelum memutuskan menjelaskan pada gadis itu. "Aku sama Dewi ke-enam hanya teman lama. Ku akui dulu kami sangat dekat. Makanya kami nggak canggung sama sekali saat bertemu tadi." Jelasnya tak mau Kiara terus salah paham.


Kiara akhirnya menatapnya dengan alis terangkat sebelah. "Aku pikir kamu manusia kayu yang nggak bisa dekat dengan gadis mana pun. Ternyata dulu kamu punya hubungan khusus dengan gadis lain sebelum aku? pantas kamu susah membuka hatimu untukku." Sindirnya menahan tangis.


Hansa mengerutkan kening tak mengerti dengan sindiran Kiara. Ya, meski ucapan gadis itu tidak sepenuhnya salah. Tapi aku bersumpah tidak memiliki hubungan yang sespesial itu dengan Dewi ke-enam dibandingkan hubungannya dengan Kiara.


"Kamu ngomong apa, sih? Dewi ke-enam adalah tamu di sini. Bagaimana pun kamu nggak boleh membuatnya tersinggung." Nasihat Hansa mencoba tetap lembut dan sabar dalam menghadapi sikap Kiara.


Kiara menatap Hansa dengan ujung mata. Sebelum akhirnya ia memutuskan untuk berjalan pergi meninggalkan pria itu seorang diri.


"Kiara!" seru Hansa hendak mengejar gadus itu lagi. Namun langkahnya terhenti saat melihat Dewi ke-enam yang datang menghampirinya.


Dewi ke-enam muncul dengan senyum lebar seperti biasanya. Harus Hansa akui pesona senyum gadis itu tidak pernah berubah sedari dulu.


"Kenapa kamu nggak mengatakan yang sejujurnya?" tanya Dewi ke-enam dengan suara lembut khasnya.


Hansa menatapnya sejenak. "Aku udah mengatakan yang sejujurnya." Balasnya mengalihkan tatapan.


Dewi ke-enam tersenyum penuh arti. "Kamu belum mengatakan yang sejujurnya, Hansa." Ucapnya pelan namun terdengar bagai tusukan terdalam di dada Hansa.

__ADS_1


"Mengatakan apa?" tanyanya mengerutkan kening. Entah sungguhan tidak mengerti atau hanya pura-pura tidak mengerti.


"Tentang kedekatan kita di masa lalu. Kita berdua sama-sama tau kalau kita dulu bukan hanya teman biasa. Aku yakin kamu nggak lupa akan hal itu." Dewi ke-enam mengingatkan masa lalu keduanya.


"Sebaiknya kamu jujur aja dia. Daripada kalian makin berantem nanti kalau dia tau yang sebenarnya." Sarannya meletakkan tangannya di pundak Hansa untuk memberikan pria itu saran. Setelah itu ia melanjutkan langkah dan meninggalkan Hansa yang masih memikirkan sarannya barusan.


"Aku nggak yakin bisa jujur sama Kiara. Aku takut dia nggak akan percaya dan malah semakin marah sama aku."


Batinnya membayangkan ekspresi Kiara jika ia memberitahu tentang kedekatannya dengan Dewi ke-enam sewaktu mereka kecil.


Siang ini mereka duduk dan makan bersama di satu meja. Kiara dan Hansa masih saling lirik-lirikan. Sedangkan Dewi ke-enam dan yang lainnya hanya mencuri pandang dengan senyum dikulum melihat sikap pasangan itu.


"Aku udah kenyang. Aku duluan, ya." Kiara beranjak dari tempat duduknya dan pergi dari area tempat makan yang terbuka.


"Kalian lagi ada masalah, ya?" tanya Sima sembari menyendokkan nasi ke dalam mulutnya. Jujur ia sudah tidak bisa lagi menahan rasa penasarannya lantaran melihat sikap pasangan itu yang terlihat saling acuh tak acuh.


Dewi ke-enam menaruh sendok di piringnya dan beralih pada Hansa yang duduk di sebelahnya. "Kamu belum kasih tau dia?" tanyanya pelan takut ada yang mendengar percakapan mereka.


Hansa menggeleng dengan wajah sendu. Dewi ke-enam menghela napas dalam dan kembali menatap pria di sampingnya itu.


"Kenapa kamu nggak kasih tau? bukannya nggak ada masalah ya kalau kamu kasih tau. Maksudnya nggak ada yang perlu kamu takutkan karena aku yakin Kiara akan segera mengerti." Dewi ke-enam kembali memberikan sarannya.


"Aku nggak yakin berani memberitahunya." Aku Hansa akhirnya. Dewi ke-enam mengerutkan kening.


"Emang kenapa? kan di antara kita juga nggak ada apa-apa." Sahut Dewi ke-enam gemas sendiri karena ketidakberanian Hansa.


Sima masih memperhatikan raut wajah Hansa yang terlihat cemas. Bagaimana pun ia tentu merasa aneh melihat sikap Kiara yang main pergi begitu saja. Ditambah dengan sikap Hansa yang terlihat tidak tenang seolah merasa bersalah.


"Aku akan mengejarnya." Hansa bangkit daru duduknya membuat semua yang sedang menikmati makan siangnya mengarahkan tatapan ke arahnya. Tapi pria itu hanya bersikap acuh. Tujuannya saat ini adalah mengejar Kiara dan menjelaskan yang sebenarnya pada kekasihnya itu.

__ADS_1


"Semoga aja mereka nggak ada masalah. Karena kalau sampai begitu, aku akan menghajar si Hansa itu karena udah membuatku marah." Ucapnya dengan wajah serius serta sorot mata tajam. Membuat semua orang yang awalnya memperhatikan Hansa kini beralih menatapnya.


"Tuan Rubby dan Nona Sera di mana? mereka nggak ikut makan bersama?" Weni mengalihkan topik untuk meredakan kecurigaan sang kekasih yang mengamuk.


Sima menggeleng. "Nona Sera sedang mengandung. Dia harus banyak istirahat." Jelasnya singkat.


Dalam langkahnya, Hansa akhirnya berhasil menemukan Kiara. Gadis itu terlihat membawa sebuah kotak makanan di tangannya.


"Ngapain ke sini?" tanyanya ketus dan dengan cepat menyembunyikan kotak makanan itu di balik tubuhnya. Tadinya ia memang ingin mengantar makanan itu untuk Hansa tepat sebelum kedatangan Dewi ke-enam. Tapi ia rasa pria itu tidak membutuhkannya lagi.


"Kamu bawa kotak makanan untuk siapa?" tanya Hansa basa-basi sembari melirik kotak makanan itu.


"Bukan buat siapa-siapa." Jawab Kiara cepat. Hansa lantas mengerutkan kening. "Terus makanannya buat siapa? masa mau dibuang?" ujarnya mencoba bercanda.


Kiara memutar bola mata jengah. Masih tak ingin menatap pria di hadapannya yang telah membuatnya kesal. "Emang mau aku buang." Jawabnya asal.


"Jangan. Makanan nggak boleh dibuang. Lebih baik untuk aku aja." Bujuknya. Kiara akhirnya mengalihkan tatapan pada Hansa. Tangannya menyodorkan kotak makanan itu di depan Hansa.


Hansa masih berdiri dengan ekspresi bingung. "Nggak mau? ya udah aku benaran buang aja." Kiara hendak berbalik melaksanakan niat awalnya. Yaitu membuang makanan tersebut.


Hansa segera mencegahnya dan dengan cepat merebut kotak makanan itu dari tangan Kiara. Senyum manis terbit di wajahnya. "Terima kasih." Ucapnya penuh kelembutan.


Kiara tak lagi bisa marah. Ia tak mampu mengulum senyumnya. "Makanan itu memang aku buat khusus untuk kamu. Tapi kamu malah nggak menghargainya." Paparnya dengan ekspresi kecewa yang dibuat-buat.


Hansa terkekeh dan mencubit pipi gadis itu gemas. Tapi kemudian raut wajahnya berubah mengingat tujuannya untuk menceritakan kedekatannya dan Dewi ke-enam dulu.


"Kiara, aku mau mengatakan sesuatu." Ia memberanikan diri untuk jujur sebelum menghela napas panjang.


"Aku dan Dewi ke-enam ... "

__ADS_1


__ADS_2