
"Katakan! apa nama tanamannya?" Bari ikut bersuara. Sima mendongak. "Lupakan. Lagi pula, tanaman itu sangat langka." Lesunya.
"Tanaman apa memangnya?" Tanya Weni penasaran. "Namanya tanaman pegagan. Tanaman itu tidak ada di sini." Sima memperjelas alasan mengapa wajahnya masih murung.
Sera yang hanya selalu diam dan menyimak merasa bahwa nama itu tidak asing di telinganya. "Tanaman pegagan?" ulangnya membuat semua mata tertuju padanya.
"Iya. Apa kamu pernah dengar atau melihatnya?" tanya Sima memastikan. Sera mengangguk cepat.
"Dulu, Sera pernah punya tetangga yang tinggal bersebelahan dengan Sera. Tapi, beliau sudah tiada. Mengingat hubungan kami yang sudah seperti seorang ayah dan putrinya, dia pernah memberi Sera tanaman pegagan yang selalu Sera rawat dan sayangi." Tutur Sera.
"Lalu, di mana tanaman itu?" Sima dan yang lainnya seperti mendapatkan petunjuk. Mereka menunggu Sera angkat bicara lagi.
Sera menundukkan kepala. "Maaf. Waktu itu, warung sekaligus tempat tinggal Sera diacak-acak oleh bandit. Dan saat itu, Sera ke sini dalam keadaan terluka. Jadi, Sera tidak punya waktu untuk membawa tanaman itu." Jelasnya sesekali melirik Rubby yang berdiri di sampingnya.
Sima kembali menghembuskan napas kecewa. "Lupakan. Lagi pula, kalau pun tanaman itu masih ada di sana, kita tidak mungkin ke kota B untuk mengambilnya. Waktunya nggak akan sempat untuk Kiara."
Lagi dan lagi, mereka harus kembali dibuat tertunduk. Kali ini, mungkin akal mereka sudah habis dan tak ada lagi yang menyuarakan pengetahuannya.
Namun, setelah beberapa saat, Sera mendongak dengan wajah sumringah. Ia teringat akan sesuatu. Sesuatu yang selalu dibawanya ke mana-mana. Seperti sesuatu yang selalu menempel dengan tubuhnya. Bahkan jiwanya.
"Sera punya satu tanaman yang mungkin akan berguna untuk Nona Kiara." Cetusnya seperti akan muncul ide baru di kepalanya.
"Apa?" Sima kembali mencoba mendengar Sera. Sekali pun ia kurang yakin. Memang, ada lagi tanaman yang berguna untuk Kiara selain tanaman pegagan?
Semua mata kembali tertuju pada Sera. Ya, kecuali Rubby. Dia kan tidak bisa melihat.
Ups, canda Rubby.
__ADS_1
Ketahuan nggak ya?
"Sera lupa apa namanya." Ia merogoh sakunya dan mengeluarkan sebuah tanaman yang langsung membuat Sima berbinar.
"I ... Ini ginseng." Ia meraih ginseng itu dan tersenyum senang. "Dari mana kamu dapat ini? aku jelas nggak akan menyebut tanaman ini, karena ginseng ini tidak ada di negara kita." Jelas Sima.
"Tanaman ini bahkan lebih kaya manfaat dibanding tanaman pegagan." Lanjutnya penuh semangat. Senyumnya tak lupa diiringi oleh yang lainnya.
Setelah beberapa saat melakukan proses penyembuhan, Sima menyelimuti tubuh Kiara dengan selimut dan membiarkan malam menemani gadis itu hingga tersadar.
Sima duduk di depan kamar Kiara. Ia mendudukkan diri di samping Weni yang tengah melamun sambil menopang dagu.
"Apa yang kamu lihat?" tanyanya mengikuti arah tatapan Weni. Matanya juga ikut menatap dua insan yang terlihat sedang memperbincangkan sesuatu.
Bibirnya tersenyum penuh arti melihat kakak pertamanya yang kaku itu kini tengah berbincang mengenai masalah yang kelihatannya serius dengan seorang gadis selain Kiara.
"Siapa gadis cantik itu?" tanyanya pada Weni yang sedari tadi hanya melamun. "Dia telah membantu kita dengan tanaman ginseng itu." Gumamnya yang masih bisa didengar jelas oleh Weni.
"Namanya Sera. Dia memang gadis yang cantik dan lembut. Tidak sepertiku." Sima menoleh mendengar sahutan gadis itu yang entah kenapa terdengar seperti ada nada yang ketus pada ucapannya.
"Kamu kalem kok. Dan sedikit ... imut." Ucap Sima pelan. Weni menoleh. "Sedikit?" ulangnya. Sima menghindari tatapan Weni yang seperti menuntut penjelasan dari kalimatnya barusan. Atau lebih tepatnya, pujian yang ia berikan pada gadis itu.
"Berarti aku tak secantik dia menurutmu?" Weni masih menuntut. Entah kenapa, ia merasa meski ia baru berjumpa dan mengenal Sima, ia merasa berbeda jika berhadapan dengan pria itu. Ia merasa tak gugup seperti perilakunya pada pria lain. Lebih tepatnya, level gugupnya berbeda jika berhadapan dengan pria yang satu ini.
"Mm, kira-kira mereka lagi ngomong apa, ya?" Sima menunjuk pada Rubby dan Sera yang tampak masih mengobrol serius. Ia sengaja mengalihkan topik agar tidak memancing perdebatan antara dirinya dan gadis yang baru dikenalnya ini. Sekaligus ia juga penasaran sih dengan apa yang sedang dibicarakan oleh kakak pertamanya dan gadis cantik yang memberikan ginseng tadi siang.
Weni kini memusatkan perhatian pada arah yang ditunjuk oleh Sima. Ia mengedikkan bahu. "Nggak tau. Aku tidak memperhatikan dari tadi." Sahutnya dengan nada malas. "Sudah, ya. Aku ke kamar duluan." Pamitnya berdiri dari tempat duduknya dan langsung melesat pergi. Membiarkan Sima duduk di bawah sinar bulan seorang diri.
__ADS_1
"Secepat itu dia mengantuk. Yang lain saja belum tidur."
Ia memperhatikan punggung Weni yang berjalan cepat sampai gadis itu menghilang masuk ke lorong menuju kamar.
Merasa tak ada gunanya lagi berada di situ dan tak ada teman yang menemani malamnya, ia pun bangkit dan menuju kamar tamu yang telah ditentukan untuknya.
~
"Aku berjanji akan mengantarmu pulang saat Kiara sudah benar-benar sembuh. Karena Kiara juga akan mengikutiku pulang." Ujar Rubby pada Sera yang menghampirinya.
Sera tak menyahut. Ia hanya menunduk ingin sekali mengatakan bahwa bukan itu yang ingin ia sampaikan.
"Tuan ... benar-benar ingin mengantar Sera pulang?" tanya Sera memastikan. Rubby mengangguk singkat.
Sera memainkan jari-jemarinya masih dengan kepala menunduk. "Sebenarnya ... Tuan tidak perlu mengantar Sera. Sera bisa pulang sendiri kok." Sahutnya pelan.
"Aku harus tetap mengantarmu. Bagaimana pun kamu adalah seorang gadis. Apa lagi, kamu juga telah membantu menyelamatkan Kiara. Jadi, anggap saja itu sebagai balasanku." Kekeh Rubby.
Sera mendongak. "Tuan tidak perlu membalas budi. Harusnya Sera yang membalas budi padamu. Tuan telah menolong Sera berkali-kali." Balasnya.
"Tidak perlu." Rubby memutar tubunya menghadap samping. "Ini sudah larut. Istirahatlah." Pintanya mengakhiri perbincangan.
Sera mengangguk dan kembali ke kamarnya. Ia sempat memutar kepalanya untuk melihat Rubby yang masih berdiri seorang diri tanpa bergeming dari tempatnya.
Sejujurnya, gadis itu penasaran. Apa pria itu tak istirahat di kamarnya. Jam segini biasanya semua orang telah terbungkus selimut. Tapi, Hampir setiap malamnya Sera perhatikan, pria itu selalu terjaga.
...----------------...
__ADS_1
Sima duduk menenami Kiara di sampingnya. Ia berharap adiknya itu segera tersadar dari komanya. Karena ia benar-benar rindu dengan adik yang paling ia sayangi itu. Ia rindu dengan kerewelan gadis itu yang ia yakin masih seperti dulu walau pun gadis itu telah dewasa. Bagaimana tidak? ini kali pertama ia melihat Kiara setelah delapan tahun berpisah dengannya.
Benar-benar hari yang berat ia lalui selama delapan tahun ini.