Cinta Pendekar

Cinta Pendekar
Buta


__ADS_3

"Aku curiga kalau si jubah hitam ada hubungannya dengan kebakaran ini." Sahut Kiara. Sima dan Hansa sama-sama terdiam.


"Saudara Sima, sebaiknya kau bawa Weni ke penginapan di sekitar sini sementara Kantor Pengadilan mau dibangun ulang." Saran Hansa.


"Benar, kak. Periksa keadaannya dulu dan biarkan dia beristirahat." Kiara setuju. Sima mengangguk dan membawa Weni ke kamarnya.


"Kiara, apa kamu yakin semua ini ulah si jubah hitam?" Hansa memastikan. Kiara mengangguk singkat.


"Tapi siapa dia sebenarnya? apa yang dia mau dari kita? kenapa berkali-kali mencelakai kita? saya akan cari tau siapa dia sebenarnya." Hansa bertekad kesal karena selalu diincar oleh si jubah hitam.


"Kamu bilang kamu seperti mengenal dia, kan?" Kiara ingat Hansa pernah mengatakan itu padanya.


"Aku tidak yakin. Kalau dilihat dari cara bicaranya dan cara dia menyapaku memang tidak terdengar asing." Ujar Hansa.


"Sudahlah. Untuk saat ini, jangan bicarakan masalah ini dulu." Hansa menatap Kiara penuh arti. "Bagaimana dengan lukamu? ku pikir itu perlu diobati juga." Ucapnya khawatir.


Kiara melirik lukanya. Benar juga. Sedari tadi ia bahkan lupa mengetahui kalau tangannya terluka parah. Namun setelah dilihat lagi lukanya membuat rasanya semakin perih.


Kiara menggeleng. Ia rasa ia telah memberikan kesempatan untuk pria itu merasa dekat dengannya.


"Kamu yakin?" Hansa masih terlihat khawatir.


"Bukan urusanmu." Kiara melangkah menjauhi Hansa. Mencoba menahan rasa perih yang semakin menjalari tangannya.


Hansa menghela napas kecewa. Ia pikir gadis itu telah memaafkannya. Tapi bukan itu yang membuatnya tak tenang. Ia merasa sangat khawatir dengan kondisi tangan Kiara.


"Gadis itu benar-benar keras kepala."




Sima menggenggam tangan Weni menunggu gadis itu membuka mata. Ia tersenyum senang melihat mata Weni yang telah terbuka. Gadis itu tampak menyipitkan matanya.



"Kamu tidak apa-apa?" Sima mengelus rambut Weni penuh perhatian.



"Sima, apa kita masih terjebak di dapur? apa kita masih terjebak kebakaran?" tanya Weni beruntun.



Sima mengerutkan kening. "Tentu saja tidak. Kita sudah selamat. Aku membawamu ke suatu kamar untuk memulihkan diri." Ujar Sima lembut.



"Kenapa kamu mematikan lampunya?" tanya Weni lagi.



Sima kembali mengerutkan kening. Ia berpikir mungkin karena Weni baru tersadar dari pingsannya, membuat ia mengucapkan kalimat tidak jelas.



"Sepertinya kamu perlu istirahat." Usul Sima. Ia hendak membiarkan Weni beristirahat untuk memulihkan kesadaran sepenuhnya. Namun Weni kembali menarik tangannya.



"Jangan pergi. Jangan tinggalkan aku. Aku takut gelap." Weni memohon.

__ADS_1



"Kamu kenapa, Weni?" Sima kembali duduk di tepi ranjang Weni dan mengelus kepala gadis itu untuk menenangkannya.



"Sima, kenapa di sini gelap sekali?"



...----------------...



"Hai, kak. Kamu kelihatan sedih. Apa Weni belum juga sadar?" tanya Kiara melihat raut wajah kakak ke-empatnya yang murung.



"Dia sudah sadar." Jawab Sima singkat. Kiara mengerutkan kening. "Terus kenapa kakak ke-empat masih murung? apa ada sesuatu yang terjadi?" Kiara khawatir ada sesuatu yang terjadi dengan temannya itu.



Sima menunduk dan mengangguk pelan. Anggukannya terlihat sangat pasrah.



"Apa yang terjadi, kak? apa dia terluka parah?" tanya Kiara lagi.



"Bukan hanya terluka. Dia ... " Sima tak melanjutkan kalimatnya. Ia tak yakin sanggup melanjutkannya.




"Dia ... tidak bisa melihat. Dia buta." Sahut Sima pelan. Kiara terdiam tak mengerti. "Maksud kakak ke-empat, Weni ... " Kiara tak melanjutkan kalimatnya.



"Tapi kenapa? kenapa dia bisa buta?" suara Kiara menjadi sangat pelan berusaha menahan kesedihannya.



Sima mengedikkan bahu. "Aku pikir, ia mengalami benturan yang sangat keras saat terjatuh yang menyebabkan kerusakan di matanya." Jelas Sima sedih.



Kiara tak bisa lagi berkata-kata. "Apa yang sedang dia lakukan sekarang?" tanyanya dengan suara yang bahkan hampir tak terdengar.



"Aku membiusnya agar bisa tertidur lelap. Dia ... dia menangis saat tau kalau matanya tidak bisa melihat." Jawab Sima merasa sesak mengingat betapa sedihnya Weni saat tahu keadaan matanya tadi.



...----------------...



Sore harinya, Kiara menjenguk Weni untuk menanyakan kondisinya. Kiara duduk di tepi ranjang dan menatap gadis itu khawatir. Weni membuka mata tepat saat Kiara menduduki ranjangnya. Ya, meskipun sama saja jika ia membuka mata ataupun menutupnya. Matanya sekarang kan tidak bisa dipakai untuk melihat.

__ADS_1



"Sima, itu kamu?" tanya Weni penuh harap dengan senyum sama seperti biasanya saat ia belum mengalami kondisi seperti sekarang.



Kiara menggenggam tangan Weni hangat. "Ini aku. Kiara. Kenapa? kamu berharap yang datang kakak ke-empatku, ya?" canda Kiara.



"Mm ... tidak juga. Aku juga ingin mengobrol denganmu." Gengsi Weni. Kiara terkekeh pelan. Setelahnya, ia langsung merubah wajahnya menjadi sangat serius.



"Dengar, Weni. Aku nggak berharap ini terjadi padamu. Aku sedih melihatmu seperti ini." Kiara menjeda kalimatnya sejenak. "Tapi ... "



"Kiara!" Kiara tak melanjutkan ucapannya saat Weni terlihat ingin mengatakan sesuatu mungkin penting.



"Ku rasa aku tau pelakunya." Sahut Weni. Kiara tersenyum senang. Dengan begitu, ia mungkin bisa memberikan si pelaku itu pelajaran akibat telah mencelakai Weni. "Siapa?" tanyanya tak sabar.



"Aku tidak sempat melihat wajahnya. Tapi seingatku kalau tidak salah dia mengenakan jubah hitam." Tutur Weni memelankan suara trauma dengan si jubah hitam yang menyebabkan matanya tak lagi dapat melihat.


Ia takut kalau-kalau si jubah hitam itu masih ada di sekitar sini.



"Jubah hitam? sudah ku duga." Kiara memejamkan mata mencoba menahan emosi yang sudah tak dapat dibendungnya bila mengingat orang yang disebutkan oleh Weni adalah orang yang selalu mencoba mencelakai dan menggagalkan misi mereka.



Ia sendiri tidak tahu apa masalah orang itu? terlebih lagi ia tidak tahu siapa Tuan dari si jubah hitam atau untuk siapa orang itu bekerja? ia pasti merupakan bawahan dari musuh besar Kantor Pengadilan.



Kalau memang begitu, seharusnya tidak sulit menemukan siapa dalang di balik semua ini. Lagi pula, Kiara sudah tahu siapa Tuan atau atasan dari si jubah hitam. Hanya waktunya belum tepat untuk memberitahu siapa pun. Karena ia belum yakin siapa yang harus dipercayanya. Para penghuni Kantor Pengadilan atau pelaku utama kebakaran ini yang juga merupakan atasan dari si jubah hitam? entahlah. Keduanya sama-sama merupakan teman sekaligus musuh baginya.



Kiara tersadar dari lamunannya dan kembali memusatkan perhatiannya pada Weni yang hanya diam dengan wajah sendu.



"Tadi kamu bilang pelaku kebakaran itu si jubah hitam, ya? kamu benaran tidak salah lihat, kan?" Kiara memastikan sekali lagi.



Weni mengangguk yakin. "Aku yakin tidak salah lihat." Ia berhenti sejenak. "Kalau kebakaran itu aku tidak tau apa dia juga yang menyebabkannya atau bukan." Lanjutnya.



Kiara mengerutkan kening. "Lalu tadi kamu bilang dia adalah pelakunya? pelaku apa?" tanya Kiara belum mengerti. Ia kira Weni memberitahu bahwa si jubah hitam adalah pelaku dari peristiwa kebakaran tadi.



Weni menghela napas sejenak. "Dia adalah penyebab mataku tak bisa melihat."

__ADS_1


__ADS_2