Cinta Pendekar

Cinta Pendekar
Hari murung sedunia


__ADS_3

Kiara memasuki kamarnya dengan perasaan jengkel. "Apa-apaan, sih? berlagak tampan. Dia pikir dia tampan?" gerutunya.


"Sok ngatur lagi." Kiara meneguk secangkir air putih dengan cepat. Ia meletakkan cangkir itu di meja dengan kasar.


"Nona Kiara, kamu kenapa? kelihatannya lagi kesal banget, ya?" Weni duduk memangku tangan. Penasaran ada apa gerangan dengan gadis yang terlihat banyak kerutan di wajahnya itu.


"Panggil aku Kiara saja. Nggak usah terlalu formal." Pinta Kiara. Ia kembali meneguk air putih untuk meredakan emosinya.


"Oke, Kiara. Tapi pertama-tama, ceritakan dulu padaku apa yang terjadi denganmu?" Weni tampak penasaran sekaligus ingin menghibur.


"Nggak apa-apa. Malas juga kalau dibahas." Kiara menolak membahas pemuda laknat yang sudah membuat dirinya naik darah itu.


'Tok tok tok'


Kiara dan Weni melihat ke arah pintu kamar. "Siapa?" Kiara mengerutkan kening melihat seorang Pengawal berdiri di ambang pintu.


"It ... itu ... . Nona Weni, ada yang mencarimu. Dia bilang, temui dia di taman." Pengawal itu langsung pergi begitu saja setelah menyampaikan pesan dari seseorang untuk Weni.


Weni menatap Kiara bingung. Kiara menghela napas sejenak. "Kamu mau aku temani?" tawar Kiara. Weni menggigit bibir bawah ragu. "Boleh, sih. Tapi ... aku takut ini hal yang penting. Kalau yang ngajak ketemu itu tau aku bawa seorang teman, dia pasti akan berpikir kalau aku tidak mempercayainya." Weni memilih berpikir positif.


"Weni, apa kamu punya keluarga?" tanya Kiara. Weni menggeleng. "Dulu kecil aku dijual oleh pamanku sendiri. Orang tuaku telah wafat pada saat itu. Master Nick yang membeliku dan membawaku masuk ke sini. Seluruh anggota Kantor Pengadilan sudah ku anggap sebagai keluargaku." Curhat Weni.


Kiara cukup prihatin. "Itu masalahnya. Kalau orang yang mau ketemu kamu ini orang dari luar yang punya niat jahat, gimana?" duganya.


Weni tersenyum simpul. "Nggak mungkin orang luar tau namaku. Sejak masuk ke sini aku nggak pernah keluar dari sini."


Kiara berpikir sejenak. "Gimana kalau itu orang suruhan pamanmu?" sambarnya. Weni menggeleng. "Nggak mungkin. Pamanku sudah lama tidak bertemu denganku. Dia juga nggak akan repot-repot mencariku lagi. Aku kan udah sudah berhasil dia jual." Weni membantah pikiran negatif nan konyol Kiara.


"Iya, aku juga tau. Cuman ... aku cuman penasaran sih, sebenarnya." Kiara cengengesan. Weni menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah gadis itu.

__ADS_1


"Mm ... ya udah, deh. Kamu boleh ikut. Tapi, kamu harus sembunyi, ya. Jangan sampai dilihat sama orang yang ngajak aku ketemuan ini. Nggak enak kalau sampai dia tau aku bawa seorang teman." Putus Weni.


"Siap, bos!" Kiara tersenyum senang. Sepertinya ia tahu siapa yang akan mengajak Weni bertemu.


...----------------...


Weni berjalan di seantaro taman. Kiara sudah menemukan tempat persembunyiannya. Ia memperhatikan Weni dengan teliti.


"Mana tuh cowok? oh, ternyata cuman berani ngomong, ya? pas didatangi malah nggak berani muncul." Gerutu Kiara yang mengawasi Weni dari balik pohon.


Weni tampak duduk di kursi taman sembari menunggu orang yang mengajaknya bertemu.


Sementara, seorang pria berdiri tak jauh darinya. Tengah mengatur napas dan menstabilkan jantung. "Duh, ke sana nggak, ya?" setelah beberapa menit berdebat dengan pikirannya, pria itu memutuskan untuk memunculkan diri.


"Mm ... Nona Weni."


Weni menoleh kala mendengar namanya dipanggil.


"Kalau Weni boleh tau, ada apa Tuan mencariku?" tanya Weni. Bari menghela napas panjang untuk menutupi kegugupannya.


"Saya ... " ucapnya tertahan. Ia berdeham sejenak. "S ... saya cuman mau bilang kalau Nona ... " Bari semakin gugup. Ia memberanikan diri memegang kedua pundak Weni dan menatap bola mata gadis itu dalam.


"Aku ... menyukaimu. Aku menyukaimu sudah sangat lama." Ungkap Bari akhirnya. Weni terkejut saat Bari mengucapkan kalimat itu. "Apa kamu mau ... "


Weni menjauhkan pundaknya dari tangan Bari. "Tuan Bari, maaf. Tapi ... Weni belum siap." Sahut Weni pelan. "Weni benar-benar minta maaf. Weni pamit dulu." Ia membungkuk dan bergegas meninggalkan Bari dengan berlari kecil.


Kiara dapat melihat raut wajah Bari yang berubah masam. Sepertinya pemuda itu kecewa lantaran perasaan yang sudah sejak lama ia tabung, malah ditolak ketika ia mengungkapkannya.


Kiara menghampiri Bari dan menepuk pundaknya. "Sabar. Mungkin dia emang belum siap. Pantau aja. Nanti juga lama-lama akan luluh hatinya." Hibur Kiara.

__ADS_1


"Sejak kapan kamu di sini, hah? kamu ... nggak menguping pembicaraan kami, kan?" semprot Bari.


"Kamu ngajak ketemuan di tempat yang terbuka. Harusnya di sebuah ruangan atau di tempat yang tertutup. Jadi, jangan salahin aku. Aku punya mata dan punya telinga." Kiara bergegas pergi berniat menyusul Weni sebelum Bari meneriakinya.


Ia memasuki kamar dan melihat Weni yang sedang duduk dengan wajah murung. "Kamu kenapa? tadi aku yang murung sekarang malah kamu." Kiara menuangkan secangkir air untuk Weni yang langsung meneguknya.


"Aku nggak murung. Cuman kaget aja." Bantah Weni. Kiara menghela napas sebelum angkat bicara. "Bari itu pria yang baik. Kenapa kamu nggak suka?"


"Bukan nggak suka. Tapi menurutku, ini terlalu dini." Weni mencari alasan. "Dini? dini apanya? Bari menyukaimu sejak pertama kali kamu masuk ke sini. Itu udah lama banget." Bantah Kiara.


"Baiklah. Dengar! aku memang mengagumi Tuan Bari. Tapi, rasa itu nggak pernah ada. Aku hanya sekedar mengaguminya." Tutur Weni mengeluarkan isi hatinya.


Kiara menatap mata Weni untuk membaca kalimat apa yang tersirat di dalamnya.


"Dia nggak berbohong." Batinnya.


"Tapi ... apa kamu nggak mau kasih dia kesempatan?" Kiara terus mendorong. Weni terdiam lama.


"Udahlah. Biarkan waktu berlalu, dan tunggu saja apa dia memang ditetapkan untuk menjadi takdirku." Weni pasrah. Ia tak menyukai Bari. Namun juga tak ingin menyakiti perasaannya. Lebih tepatnya, ia tak pernah ingin menyakiti perasaan siapapun.


...----------------...


Bari berjalan mondar-mandir di depan ruangan Hansa. Ia memukul kepalanya berkali-kali. "Aduh, gimana, nih? pasti nanti kalau ketemu jadi canggung." Keluh Bari. "Lagi pula kenapa aku sebodoh ini malah langsung mengungkapkannya sekarang?" ia terus menyalahkan kebodohannya sejak tadi.


Pintu ruangan Hansa terbuka. Bari terkejut.


Hansa menatapnya dengan melipat kedua tangan di dada. "Dari wajahmu, kamu kelihatan sedang murung. Kenapa?" tanya Hansa prihatin.


Bari menggeleng. Hansa menahan tawa. "Apa dia menolakmu?" tanyanya tiba-tiba yang mengejutkan Bari. "Kenapa ... Tuan Hansa bisa tau?" kaget Bari.

__ADS_1


Hansa tersenyum miring. "Ekspresimu itu kentara sekali, bukan?" ledeknya. Ia menepuk pundak Bari untuk menenangkannya. "Mungkin kamu terlalu mengejutkannya. Lama-lama juga luluh pasti." Sahut Hansa dan langsung melesat meninggalkan Bari yang kebingungan menatapnya.


"Perasaan kalau aku lihat-lihat ... ucapan dan tingkah lakunya mirip dengan gadis centil yang suka sok tau itu?" batin Bari menyamakan Hansa dan Kiara.


__ADS_2