
"Kalian ngomongin apa?" Kiara terlihat penasaran. Hansa hanya membalas dengan gelengan. Ia berjalan mendekat ke ranjang Kiara.
"Weni, kamu bisa keluar dulu!" pinta Hansa. "Baik, Tuan Hansa." Weni membungkuk sebelum bergegas pergi.
Hansa menatap Kiara serius. "Kenapa?" tanya Kiara bingung melihat raut wajah Hansa yang berubah serius. Ya, meskipun dia memang selalu berwajah serius.
"Nona Kiara, saya mau tanya sesuatu." Izin Hansa. Kiara mengangguk mempersilahkan.
"Apa Nona punya penyakit lama? seperti ... penyakit yang langka mungkin?" tanya Hansa terkait denyut nadi Kiara yang menurut tabib tadi berbeda dari orang lain.
Kiara berpikir sejenak. "Nggak. Aku sehat-sehat aja kok. Nggak pernah punya riwayat penyakit." Jawabnya. "Kenapa kamu tiba-tiba nanya begitu?" Kiara balik bertanya.
Hansa terdiam memikirkan alasan, dan apakah ia harus memberitahu Kiara atau tidak. "Nggak. Nggak apa-apa. Kalau begitu, Nona istirahatlah. Saya nggak akan mengganggu lagi." Pamitnya. Ia berdiri dan bergegas keluar dari kamar yang Kiara tempati.
Kiara menurut. Ia langsung menjatuhkan kepala di bantal empuk dan menyelimuti tubuhnya.
Hansa yang telah menutup pintu kamar Kiara, kembali membukanya. Ia mengeluarkan benda mungil dari kantong uangnya. "Apa aku balikin sekarang aja, ya?" ia masuk ke kamar Kiara dan mendekati ranjang gadis yang terlihat sudah tenggelam dalam mimpinya itu.
Hansa meletakkan tusuk rambut milik Kiara yang tempo hari ia temukan di ruangannya. Ia memang sudah menduga bahwa tusuk rambut itu milik Kiara. Dan ia juga sudah menyuruh Bari memperbaiki tusuk rambut Kiara yang patah akibat pijakannya.
Flashback on:
Hansa yang sedang bertugas di sekitaran pasar melihat toko penjual penghias rambut. Ia melihat-lihat tusuk rambut yang dijual di toko itu.
"Pak, ada tusuk rambut yang modelnya begini, nggak?" Hansa mengeluarkan tusus rambut milik Kiara yang selalu ia bawa di kantong uangnya seharian ini.
Bapak penjual meneliti tusuk rambut berbahan unik yang telah patah itu. "Waa sayangnya, kami nggak menjual tusuk rambut yang modelnya langka begini, Tuan. Tusuk rambut ini juga sepertinya hanya ada beberapa saja di dunia ini. Mungkin tusuk rambut ini diukir seseorang untuk tanda kekeluargaan. Makanya model ini termasuk langka." Jelas bapak penjual panjang lebar.
Hansa mengangguk-angguk. "Begini saja. Toko saya kebetulan bukan cuma menjual perhiasan rambut. Tapi saya juga bisa memperbaiki perhiasan yang rusak."
Bapak menjual menawar untuk memperbaiki tusuk rambut Kiara.
"Mm ... nanti saja, pak. Makasih banyak ya." Hansa merasa tak bisa mempercayakan tusuk rambut itu ke sembarang orang. Karena tusuk rambut itu bukan miliknya. Terlebih, benda itu adalah tusuk rambut yang langka dan tak mudah dicari di mana pun jika hilang.
Setelah tugasnya selesai, ia memutuskan langsung kembali ke Kantor Pengadilan.
__ADS_1
Sesampainya di Kantor Pengadilan,
Hansa berpapasan dengan Bari. "Bari, bisa minta tolong?" tanyanya.
"Iya, Tuan Hansa. Apa yang bisa saya bantu?" Bari bersukarela. Hansa mengeluarkan tusuk rambut milik Kiara dan memberikannya pada Bari.
"Ku dengar, pamanmu bisa memperbaiki perhiasan selangka apa pun. Apa saya bisa minta tolong kamu kasih ini ke pamanmu untuk diperbaiki?" Hansa meminta tolong.
"Baik, Tuan Hansa. Tuan Hansa nggak usah khawatir. Pamanku adalah pengukir perhiasan paling terkenal. Beliau juga yang mengukir giok berharga milik Tuan Putri." Tutur Bari.
"Tapi saya penasaran. Ini tusuk rambut siapa? kok kayaknya saya pernah lihat, ya?" Bari tampak penasaran.
"Jangan-jangan ini punya gadis yang spesial di hati ... " Bari tak melanjutkan ucapannya lantaran mendapatkan tatapan sinis dari Hansa.
"Kalau gitu saya pergi sekarang, Tuan Hansa." Ia memilih segera pergi untuk menghindari tatapan sinis Hansa.
Flashback off:
Hansa melirik Kiara yang telah tertidur pulas sebelum membalikkan tubuhnya untuk keluar. '
Bruk'
Ia terkejut mendapatkan Kiara yang telah terbaring di lantai masih dengan mata tertutup.
Ia mengangkat tubuh Kiara dan memindahkannya kembali ke ranjang dengan sedikit gugup. Pasalnya, ia tak pernah berani sedekat ini dengan gadis mana pun selain Kiara.
"Bisa-bisanya jatuh dari tempat tidur pun dia masih tetap tidur nyenyak." Herannya.
Ia menyelimuti tubuh Kiara dengan cepat, dan hendak bergegas karena tak ingin berlama-lama di kamar seorang gadis muda.
Namun, tubuhnya tertahan karena Kiara yang tiba-tiba menggenggam tangannya dengan amat kencang.
Hansa mencoba menjauhkan tangannya dari Kiara yang justru semakin mengeratkan genggaman tangannya. Hansa jatuh terduduk di tepi ranjang.
"Jangan ... jangan pergi!" pinta Kiara yang sepertinya sedang mengigau. Hansa menarik paksa tangannya dari Kiara. Namun, Kiara justru menjadikan tangan Hansa sebagai bantal.
__ADS_1
Hansa tak menyerah. Ia kembali mencoba menjauhkan tangannya dari Kiara perlahan. Namun, Kiara malah kembali menarik tangannya yang membuat tubuhnya jadi tak seimbang, dan mengakibatkan wajah mereka kini berjarak sangat dekat.
Baru kali ini jantungnya berdegup sekencang ini. Bahkan ia yang tak jarang dihadapkan dalam situasi bahaya pun tidak pernah se berdebar ini.
Hansa bergerak kembali ke posisi duduk dengan perlahan. Takut pergerakannya bisa membangunkan Kiara yang masih tertidur pulas.
Hansa yang bingung dengan situasi yang ia hadapi kini hanya bisa pasrah. Ia mencoba bertahan dengan situasi ini. Kantuk pun tak berani ia ladeni. Ia bertahan di posisi itu sampai pagi tiba.
Kiara membuka mata perlahan dari tidur pulasnya. Ia menguap sejenak. Matanya membulat mendapatkan seorang pria yang duduk di tepi ranjangnya.
"Hansa! ngapain kamu di sini?" Hansa langsung membuka mata dari kantuknya kala mendengar suara Kiara yang bertanya padanya.
Ia langsung melihat ke arah tangannya dengan wajah datar. Kiara yang baru sadar bahwa dirinya tengah menggenggam tangan pemuda itu seketika bangkit dan mendudukkan diri di ranjang.
Hansa masih melihat ke arah tangannya sendiri dengan wajah yang tak Kiara mengerti.
Kiara ikut melihat tangan Hansa. Memeriksa hal aneh apa yang ada di tangan pemuda itu hingga membuatnya terus menatapnya tanpa berkedip.
"Hah!" Kiara terkejut melihat tangan Hansa yang sudah basah terkena air liurnya. "It ... itu air liurku?" tanya Kiara memastikan. Meski ia sudah tau jawabannya.
"Apa aku menggenggam tanganmu semalaman?" tanyanya lagi yang hanya dibalas dengan tatapan datar oleh Hansa.
"Maaf. Sini aku bersihin!" ia menghapus air liurnya di tangan Hansa menggunakan tangannya sendiri.
"Ehem. Lihat tanganmu!" pinta Hansa. Kiara melihat tangannya sendiri.
Ia kembali terkejut melihat tangannya yang juga basah oleh air liurnya.
"Tanganku bukannya bersih kamu lap, malah semakin basah karena air liur di tanganmu." Omel Hansa.
"Cuci muka sana! bersihin juga air liur di pipimu. Kamar kecil ada di depan kamar ini." Pinta Hansa. Kiara meraba pipinya yang juga basah oleh air liurnya sendiri. Ia menatap Hansa dengan perasaan malu dan langsung berlari keluar.
Ia menutup pintu dengan kencang. "Aduh, aku harus ke kamar kecil. Aku harus bersihin wajahku. Ya Tuhan, malu-maluin banget, sih." Gerutunya berjalan dengan cepat menuju kamar kecil.
Hansa bergegas keluar dari kamar itu. Ia terkejut mendapatkan Bari dan Weni yang berdiri di depan pintu kamar.
__ADS_1
"Tuan Hansa, mana Nona Kiara? ini saya antarkan makanan untuknya." Tanya Weni sembari membawa kotak berisi makanan di tangannya.
"Tuan Hansa ngapain di kamar Nona Kiara? itu tanganmu ... kenapa basah?" tanya Bari yang tak direspon oleh Hansa.