
"Kiara, Kiara!"
Kiara mendengar suara sayup-sayup memanggil namanya dan menuntunnya membuka mata.
Ia mengerjap-ngerjapkan mata berkali-kali. "Tuan Hansa!" Kiara mendapati Hansa yang duduk di tepi ranjangnya. "Aku ... "
"Kamu sudah bangun? tenang saja, kamu hanya pingsan selama sekitar dua jam. Aku membawamu kembali ke sini." Hansa memberitahu.
"Kita berhasil keluar?" Kiara tak menyangka. "Kan saya sudah bilang kalau saya akan membawamu keluar apa pun yang terjadi." Ucap Hansa lembut.
Kiara menunduk menyembunyikan pipinya yang panas mendengar ucapan lembut dari Hansa yang belum pernah didengarnya.
"Tapi ... apa yang terjadi dengan Perpustakaan itu? dan ... bagaimana cara kamu membawaku keluar dari api yang besar itu?" Kiara memberikan pertanyaan beruntun.
"Saya ketemu sebuah bilik yang tersembunyi di balik rak paling ujung. Beruntungnya di dalam bilik itu ada jendela. Saya memanfaatkan jendela itu untuk menerobos keluar." Tutur Hansa menjawab rasa penasaran Kiara.
Kiara menatapnya lekat. "Aku ingat semuanya sekarang." Ujarnya tiba-tiba. Ia memutar memorinya kembali pada kejadian kebakaran tersebut.
"Tapi ada yang paling ku ingat." Ia tiba-tiba mendekatkan wajahnya di depan Hansa. Hansa terkejut dan otomatis menjauhkan wajahnya dari gadis itu.
"Aku ingat, bahwa kamu menyebut dirimu 'aku'. Kenapa sekarang jadi 'saya' lagi?" godanya. Hansa membuang muka ke samping. Sekarang, malah pipinya yang terasa panas.
Kiara menarik kembali wajahhya. Puas telah berhasil menggoda pria itu. "Kamu benar-benar, ya. Lagi sakit pun masih cerewet aja!" Hansa mendorong dahi Kiara akrab, dan langsung bergegas keluar dari kamar gadis itu. "Kamu istirahat dulu saja. Nggak usah mikirin tentang misi dulu. Dan ... jangan lupa minum air."
Pintanya sebelum bergegas keluar.
Kiara menyentuh dan mengusap-usap dahinya lembut. "Ini pertama kalinya dia menyentuhku dengan sengaja?" bibirnya tersenyum mengingat sentuhan Hansa tadi.
"Ya ampun, kakak ke-empat! tolong. Apa ini yang kamu maksud dengan 'hati yang telah kacau'?" ia berbaring menyelimuti tubuh hingga wajahnya saking senangnya.
Ia meneguk air di sebelahnya hingga tandas. Setelah itu, kepalanya menghantam bantal karena kantuk yang tiba-tiba menyerangnya.
__ADS_1
Setelah beberapa jam tertidur, Kiara membuka mata kaget. Ia langsung terduduk di ranjang. "Ya ampun, aku tidur lama banget ... ." Ia menekan kepalanya yang terasa berdenyut.
Tak ingin membuang waktu, Kiara memakai pakaian luarnya dan bergegas keluar dari kamarnya berniat mencari keberadaan Hansa.
"Tuan Hansa!" Kiara mengetuk pintu kamar pria itu yang berada di seberang kamarnya. "Tuan Hansa!" Ia mengayunkan kenop pintu kamar yang menyebabkan kamar itu terbuka.
"Nggak dikunci?" Kiara yang memiliki firasat buruk segera menggeledah seisi kamar. Tapi nihil. Ia sama sekali tak menemukan keberadaan Hansa.
"Nggak bisa dibiarkan. Kalau pun dia pergi, dia pasti nggak akan membiarkan pintu kamarnya dalam keadaan tidak terkunci. Nggak salah lagi. Dia pasti ditangkap oleh seseorang." Kiara berlari keluar kamar hendak kembali mencari keberadaan Hansa.
Namun, sebuah tangan malah membekap mulutnya dan memaksanya untuk mengikutinya.
Kiara memberontak dan mencoba melawan.
Namun, tangan kasar seseorang yang membekap mulutnya itu memukul lehernya hingga membuatnya jatuh tak sadarkan diri.
Malam yang gelap, perlahan berubah jadi malam yang tak berwarna bersamaan dengan tubuhnya yang tumbang ke tanah.
Kiara membuka mata kala seseorang memanggil namanya. "Kiara, Kiara!" seru seseorang memaksa dirinya bangun. Ia membuka mata dan mendapati Hansa yang terlihat panik.
Kiara terkesiap. Ia menoleh ke kanan dan kiri terkejut saat mendapati dirinya dan Hansa yang berada di ruangan yang kotor dan kumuh dengan kondisi tangan mereka diikat oleh tali yang kuat.
"Kenapa kau membawanya ke sini?" tanya Hansa marah pada pria berjubah hitam dan bertopeng. Pria itu merentangkan tangan dan mengangkat bahu. "Aku khawatir kau akan menyerangku. Jadi, ku bawa saja gadis ini untuk mengancammu. Jangan macam-macam, aku bisa membunuhnya dengan satu gerakan." Ancam si jubah hitam mencekik leher Kiara pelan. Sengaja mengancam Hansa.
Hansa melihat Kiara yang hanya memejamkan mata tak berdaya. Gadis itu kelihatannya masih sangat lemah.
Hansa menatap si jubah hitam dengan mata penuh kilatan marah. "Jangan berani-berani kau menyentuhnya!" sentaknya.
"Hahaha. Itu tergantung padamu." Ledek si jubah hitam. "Gadis cantik, maukah kau menyerahkan nyawamu di tanganku malam ini?" ia beralih meledek Kiara.
"Jangan menyentuhnya!" hardik Hansa. Pria itu menatap wajah Kiara yang semakin lemah. Seketika, rasa bersalah menyelimuti dirinya. Ia marah pada dirinya sendiri karena telah menyeret gadis itu ke dalam bahaya.
__ADS_1
"Lepaskan dia, ku mohon! apa yang kamu takuti? aku bahkan diikat. Mana bisa aku menyerangmu." Ujar Hansa lemah.
"Aku tidak mudah dibodohi. Tali itu sebenarnya sangat bisa kamu lepas. Bodoh. Sebelum aku menangkap gadis ini juga, harusnya kamu memilih menyerangku. Tapi, kamu malah mementingkan misimu itu." Ujar si jubah hitam yang tahu niat Hansa. Ia tahu bahwa sebenarnya, Hansa hanya berpura-pura tidak bisa melawannya saat dirinya diculik.
Hansa tak bisa menyangkal. Si jubah hitam memang musuh yang berbahaya. Tebakannya sama sekali tak ada yang meleset. Ia menghela napas sejenak. "Asal kamu melepaskannya dan membiarkan dia pergi, aku janji akan mengikuti apa pun kemauanmu." Tawarnya.
"Kenapa aku harus mempercayaimu?" si jubah hitam masih ragu. "Untuk apa aku membohongimu?" kesal Hansa tak sabar.
"Aku perlu tau apa alasan aku harus mempercayaimu." Si jubah hitam bersikap acuh.
Hansa melirik Kiara dan menghela napas. "Gadis itu masih ada di tanganmu. Kamu bisa apa-apain dia kalau aku berani macam-macam." Sahutnya akhirnya.
Si jubah hitam melipat kedua tangan di dada. "Aku tidak pernah melihat Pendekar sepertimu memohon hanya untuk seorang gadis. Tapi ... baiklah. Aku setuju untuk melepaskannya hanya jika kamu mau menuruti keinginanku." Si jubah hitam setuju.
"Dari mana dia tau identitasku?" Hansa bertanya-tanya dalam hati.
Setelah melepas tali yang mengikat tubuh Kiara, si jubah hitam menatap Hansa tajam. "Ingat, kamu tidak bisa macam-macam. Bagaimana pun, gadis ini masih berada di tanganku." Ia memperingati.
Pedangnya segera ia tebaskan pada tali yang melilit tubuh Hansa dan membuat tali itu putus.
Hansa meregangkan otot-ototnya sejenak. "Baiklah. Katakan apa yang kamu inginkan?" tanyanya.
Si jubah hitam mengarahkan pedangnya pada leher Kiara berniat mengancam pria itu agar tak bertindak macam-macam. Namun, Hansa langsung menarik pedang itu menjauh dari Kiara. Ia bertarung dengan si jubah hitam itu.
Meski sedikit kesulitan, terlebih dirinya tak membawa senjata, namun akhirnya ia berhasil menumbangkan pria berjubah hitam itu.
Hansa tak menyia-nyiakan kesempatan itu. Ia mengangkat tubuh Kiara dan membawa gadis itu keluar dari tempat tersebut. Meskpun penasaran akan wajah si jubah hitam yang tertutup dengan topeng, tapi ia memilih tak menggubris masalah itu sekarang. Menurutnya, menyelamatkan Kiara lebih penting.
Di jalan, Kiara kembali membuka matanya. Matanya bertemu dengan mata Hansa yang berjarak sangat dekat dengannya.
Meski dalam keadaan genting pun, Kiara bisa merasakan jantungnya yang sempat-sempatnya berdegup kencang.
__ADS_1
Hansa ikut tercengang. Tatapannya seakan-akan tenggelam dalam mata gadis tersebut. Semur-umur, jantungnya tidak pernah berdetak sekencang itu.