Cinta Pendekar

Cinta Pendekar
Sima Fayes+Visual karakter


__ADS_3

Sera berhasil menemukan Rubby Fayes yang tampak berdiri seorang diri di taman belakang dengan wajah datar.


Ia melihat Rubby menggerakkan kepalanya seperti sedikit menoleh. "Apa ada masalah, Nona Sera?" tanyanya dapat mengetahui bahwa yang datang adalah Sera.


Sera sedikit terkejut. Ia melangkah pelan menghampiri Rubby. "Tuan Rubby ... kenapa bisa tau kalau Sera yang datang?" tanya Sera.


Rubby kembali mengarahkan kepalanya lurus ke depan. "Jika hati tak kacau, maka bisa menilai segala sesuatu." Sahut Rubby yang tak dapat dimengerti oleh Sera.


"Tu ... Tuan, apa Sera boleh tanya sesuatu?" sahut Sera menatap Rubby di sampingnya yang tak bergeming sama sekali.


Ia menghela napas sejenak. "Bagaimana Tuan bisa tau kalau di kereta kuda yang kita kejar tadi ada Nona Kiara?" tanyanya penasaran.


"Aku mendengar sebuah kereta kuda yang berlawanan arah lewat di samping kereta kuda kita. Tapi, aku dapat mencium wewangian yang selalu dipakai oleh Kiara. Wewangian itu diberikan oleh mendiang Guru kami. Dan wewangian itu juga diracik sendiri oleh beliau. Jadi, aroma wewangian itu hanya ada di tubuh Kiara." Jelas Rubby panjang.


Sera mengangguk paham. "Tuan ... " ucapnya terpotong. Lebih tepatnya, dipotong oleh Rubby. "Kalau tidak ada urusan lagi, Nona Sera bisa kembali." Pinta Rubby.


Sera mengangguk patuh. Ia berbalik hendak kembali. "Nona sudah baikan?" tanya Rubby membuat Sera menghentikan langkahnya.


Sera memutar kepalanya kembali menatap Rubby. "Sera ... Sudah sangat baikan." Jawabnya.


"Istirahatlah. Kapan-kapan baru ku antar kamu pulang." Pinta Rubby lagi. "Tapi ... apa Tuan tidak apa-apa sendiri?" tanya Sera perhatian. Ia tahu bahwa Rubby tengah bersedih dan khawatir akan adiknya yang terbaring lemah di ranjang.


"Aku sudah terbiasa sendiri." Sahut Rubby pelan namun menusuk. Sera membungkukkan tubuh dan undur diri dari sana. Tak ingin mengganggu pria yang sedang merenung itu.


Namun, setelah lama merenung, Rubby Fayes melangkah hendak menuju kamar Kiara. Ia berpapasan dengan Bari yang berjalan berlawanan arah dengannya.


"Apa kau melihat saudara Hansa? aku perlu berbicara dengannya." Tanyanya. Bari terdiam sejenak.


"Tuan Hansa baru saja pergi." Jawabnya. Rubby mengerutkan kening. Pasalnya, ia sama sekali tidak tahu tentang perginya pria itu.


"Pergi? ke mana dia pergi?" tanya Rubby lagi. "Aku nggak tau. Dia hanya bilang kalau dia pergi mencari Sima Fayes." Jelas Bari.


"Aku nggak yakin dia bisa menemukan adik ke-empatku. Dia orang yang liar dan lincah. Sifatnya sedikit mirip dengan adik ke-lima." Rubby tak yakin.


"Tapi aku pikir Tuan Sima berada di dekat sini. Dia pasti tau kalau Kantor Pengadilan berada di kota A." Sangkal Bari.


"Ku harap begitu. Aku duluan." Rubby menyelasaikan perbincangan antara dirinya dan Bari.


...----------------...


Sima yang haus mampir di sebuah warung makan yang cukup memanjakan. Tentu saja ia hanya ingin bersenang-senang. Ia ingin memuaskan lidah dan perutnya dengan meminum berbotol-botol tuak, seperti yang biasa dilakukannya.


Lihatlah. Tingkahnya tidak jauh berbeda dari yang telah diberitahukan oleh Rubby. Ia benar-benar nakal dan liar.


Memasuki usianya yang ke dua puluh tahun bukan membuatnya semakin sadar akan usia, namun justru tingkah nakalnya semakin menjadi.


Usianya hanya terpaut satu tahun dari Kiara.


Sima duduk di kursi paling pojok di dekat jendela. Ia harap, pakaian yang dikenakannya membuatnya tak dapat dikenali orang lain.


Pelayan datang menanyakan pesanannya. "Lima botol arak." Pesannya enteng dan tanpa ragu. "Hanya arak?" si pelayan hendak menawarkan menu restorannya. "Ya, hanya arak." Jawab Sima.


Sambil menunggu pesanannya, ia memangku tangan di dagu. Telinganya dengan jelas mendengar gosip yang menjadi bahan perbincangan sekumpulan pria yang duduk di meja di depannya.


"Aku dengar, kakak-beradik Fayes semakin terpisah hidupnya."


"Benarkah? apa Haw Fayes tidak baik dalam mendidik mereka?"


"Aku tidak tau. Pendekar sakti itu memang sudah sangat tua. Mungkin ia hanya sibuk mengurusi dirinya sendiri. Jelas dia tak peduli tentang nasib murid-muridnya."


"Atau jangan-jangan ... dia sudah ... mati?"


"Masuk akal. Tapi, dia adalah seorang legenda. Mana mungkin kematiannya tak diketahui oleh masyarakat?"


"Coba kau pikir baik-baik. Dia adalah Pendekar nomor satu. Otomatis ia memiliki banyak musuh. Siapa tau kakak-beradik Fayes sengaja merahasiakan tentang kematiannya."

__ADS_1


"Bisa jadi."


"Bisa jadi."


"Bisa jadi."


"Kalau begitu, kita harus menyebarkan teori ini. Masyarakat pasti akan sangat heboh. Dan kita akan mendapatkan banyak pujian dari masyarakat."


"Boleh."


"Boleh."


"Setuju."


Sima yang sedari tadi menyimak kini menatap mereka dengan serius. Ketika dilihatnya sekumpulan pria itu bangkit dari meja mereka dan hendak melakukan niat mereka, ia bangkit dari kursi dan bergerak cepat ke arah mereka.


"Mau ke mana kalian?" ia mencegah sekumpulan pria itu. Tentu saja ia tak akan membiarkan sekumpulan pria bermulut ember itu untuk menyebarkan desas-desus tentang mendiang Gurunya. Karena itu adalah rahasia yang hanya diketahui oleh kakak-beradik Fayes.


"Kalian adalah sekelompok orang sok pintar. Tidak tau apa-apa, tapi sok berbicara." Sinisnya. "Biar ku beri tau, aku adalah kerabat dari Pendekar Haw Fayes, dan beliau masih hidup dan sehat. Mengenai murid-muridnya yang terpencar, itu sesuai dugaan kalian. Bahwa Haw Fayes tak ingin repot lagi mengurusi mereka. Beliau hanya fokus mengurus kesehatannya." Terangnya berbohong.


Salah satu dari pria itu menatapnya sinis. "Cih, siapa kamu? sok mengaku kerabat dari Pendekar Haw Fayes? Setauku, Pendekar Haw Fayes tak memiliki kerabat selain murid-muridnya sendiri. Kau pikir kami akan percaya dengan omongan bohongmu itu?"


"Minggir! kami mau lewat. Jangan halangi kami." Ia sengaja membenturkan pundaknya pada pundak Sima yang tak bergeming dari tempatnya.


Ia menatap tajam Sima. "Ku bilang minggir!" amuknya.


Sima tersenyum miring. "Sepertinya kau pintar sekali, ya." Ia menatap mata pria itu tak kalah tajam.


"Kau benar. Guru memang tak memiliki kerabat selain murid-muridnya sendiri." Ia menyibak sedikit maskernya untuk memperlihatkan wajahnya.


Pria itu mengamatinya sejenak. Kemudian, kedua bola mata itu seketika memelotot. "Si ... Sima Fayes? anda ... " ucapnya tertahan saking gemetarnya.


"Pergi dan jangan berani menyebarkan berita bohong tentang kematian Guruku, atau aku bersumpah akan mencarimu ke mana pun dan membelah tubuhmu menjadi dua bagian." Ancamnya penuh penekanan dengan tangan yang mencengkram kerah baju pria itu.


Sima kembali menutup wajahnya dengan masker yang dikenakannya. Ia tersenyum puas.


"Sekali-kali aku mengungkapkan identitasku juga tidak apa-apa, kan?"


Ia bergegas dari tempat itu sebelum ada orang-orang yang mengenalinya.


Di meja tak jauh dari situ, seorang pria membuka tudungnya dan tersenyum puas mendengar percakapan menarik tadi.


...----------------...



Kiara Fayes






Hansa Thones





__ADS_1


Bari Qudya





Rubby Fayes






Sera






Hyra Shyna






Weni






Master Nick






Menteri Waze




__ADS_1


__ADS_2