
Kiara reflek membalikkan tubuh. "Kok kamu tanya aku? harusnya aku yang tanya, ada apa denganmu? kita cuma bertemu dengan Julian Rama. Kenapa sampai membatalkan kencan kita? apa Julian sangat berpengaruh sampai kamu merasa terganggu dengan kencan kita?" ia meledak sendiri jadinya.
"Aku nggak kenapa-napa, Kiara. Aku minta maaf kalau membuatmu marah." Ucap Hansa lembut. Kiara sadar kalau ia telah meninggikan suaranya pada Hansa.
"Aku ... nggak bermaksud marah. Hanya saja ... malam ini kita nggak bisa keluar. Aku ada urusan soalnya." Ucapnya menundukkan kepala.
Hansa tersenyum samar. "Nggak apa-apa." Ia membelai rambut Kiara sejenak sebelum melanjutkan langkahnya berlalu dari sana.
Kiara berbalik dan menatap punggung pria itu. Ia memicingkan mata merasa ada yang berbeda dari auranya. Entahlah. Mungkin hanya perasaannya saja.
...----------------...
Malam harinya, Kiara yang masih terjaga melihat seorang pria yang tampak tidak asing berjalan keluar dari Kantor Pengadilan dengan langkah tergesa-gesa.
"Itu Hansa? ngapain dia keluar larut malam begini?"
Kiara tak yakin bahwa yang dilihatnya betulan Hansa, karena minimnya cahaya di suasana malam yang gelap itu.
Untuk memastikan penglihatannya, ia mengikuti pria itu diam-diam. Bisa saja itu adalah penyusup yang masuk ke Kantor Pengadilan untuk mengambil suatu barang. Atau mungkin itu adalah mata-mata yang mengamati Kantor Pengadilan.
Kiara memanfaatkan kegelapan malam untuk mengikuti pria itu dari belakang. Sekali-kali ia bersembunyi di balik objek yang dapat menutupinya dari pengawasan pria itu.
"Itu benaran Hansa. Sebenarnya dia ngapain, sih? benar kan, ada sesuatu yang disembunyikan."
Kiara memicingkan mata dan segera bersembunyi. Tingkat kewaspadaannya semakin bertambah saat tahu ada yang datang. Ia mengintip sedikit untuk melihat siapa orang yang menghampiri Hansa.
__ADS_1
"Julian Rama?"
Kiara dapat memastikan bahwa yang muncul di hadapan Hansa benar memakai jubah hitam.
"Ada hubungan apa Hansa dengan Julian?"
Julian menodongkan pedang pada Hansa. Hansa tersenyum miring. "Jadi ini benar kamu?" Julian tersenyum meremehkan. "Lama tidak bertemu, teman lama."
Hansa dengan santai mendorong pedang lancip milik Julian dari lehernya dengan hanya menggunakan dua jari. "Jadi kamu sekarang udah nggak berpihak pada kami, melainkan berpihak pada musuh?" sahutnya menangkup kedua tangan di belakang.
Julian tertawa meledek. "Buat apa aku harus jadi murid si tua Nick itu. Dulu antara kamu dan aku, dia paling menyayangi dan paling memperhatikanmu dibanding aku." Ia tersenyum pahit. "Sekarang kalau aku begini, apa pedulimu?" ketusnya.
"Dulu kita berteman baik layaknya saudara. Tapi kamu berubah cuma karena iri?" sindir Hansa.
Julian lagi-lagi tersenyum miring. Matanya menangkap seseorang di belakang Hansa yang bersembunyi di balik dinding. "Sangat tidak jantan kalau bertarung dengan membawa seorang gadis." Sahutnya. Dengan gerakan cepat, ia menggapai lengan Kiara dan memaksa gadis itu keluar dari persembunyiaannya.
Julian melirik Hansa. Ia beralih menatap Kiara. "Jadi kamu udah berkhianat dengan Tuan Waze? kalau begitu, mari kita selesaikan ini." Tangannya mencengkram leher Kiara kuat dengan tatapan bengisnya.
"Julian!" Hansa berseru dengan suara menggelegar. Matanya membulat dan tubuhnya gemetar hebat melihat gadis yang dicintainya diperlakukan seperti itu oleh orang yang sedang mencoba melakukan aksi pembunuhan. Terlebih yang melakukannya adalah teman baiknya dulu.
"Le ... le-paskan aku ... " Kiara berusah payah mengeluarkan suara dengan napasnya yang tertahan. Ia mencengkram kuat lengan Julian sampai kuku-kukunya menancap di kulit pria itu yang menyebabkan lengan pria itu berdarah karena tancapan kuku-kukunya. Namun Julian tetap tersenyum santai pada Hansa dengan senyuman bengisnya. Pria itu memang sungguh keji. Lengannya terluka hingga berdarah pun ia tak merasakannya.
"Lepaskan dia, Julian!" pinta Hansa dengan mata memerah. Ia tidak terima gadisnya diperlakukan dengan kejam.
"Ju ... Julian! ak-u ng-ggak mungkin mengkh-ianati Guru Waze." Kiara berusaha berkompromi dengan Julian agar pria itu mau melepasnya.
__ADS_1
"Kamu bilang apa?" Julian tidak mencerna dengan jelas. "Le-lepasin dulu!" pinta Kiara. Beruntungnya, Julian bersedia menurunkan tangannya dari leher Kiara sehingga gadis itu dapat kembali menarik napasnya dengan lega.
Napas Kiara memburu. Ia menyentuh lehernya yang nyaris patah. Ia bahkan nyaris kehabisan napas jika saja Julian tidak melepaskannya. Ia menatap Julian serius. "Aku hanya mengikuti Hansa dari belakang. Karena aku curiga kenapa dia keluar malam-malam begini. Aku nggak tau kalau ternyata dia mau bertemu denganmu." Ia berbohong agar posisinya dan Hansa tidak berbahaya.
Hansa memilih tak menyerang Julian. Karena itu akan membahayakan posisi Kiara Menteri Waze pasti akan menduga bahwa Kiara mengkhianatinya. Dan itu juga akan membahayakan posisi Kantor Pengadilan.
Julian menatap curiga Kiara dan Hansa bergantian. "Kalau begitu, kenapa Hansa bisa tau identitasku? Pasti kamu yang memberitahunya." Ia menodongkan pedang pada Kiara yang berusaha tetap tenang.
Kiara menjauhkan pedang Julian perlahan. Ia mendekat dan berbisik di telinga pria itu. "Aku punya caraku sendiri. Kamu tenang aja. Sedikit lagi, aku pasti akan menghancurkan Kantor Pengadilan." Ia mengangguk meyakinkan Julian.
Meski masih belum percaya sepenuhnya, pria itu akhirnya memilih pergi karena malam semakin larut.
Seperginya Julian, Hansa menatap Kiara khawatir. Ia menghampiri gadis itu dan menggenggam tangannya erat.
Kiara menepis tangan Hansa kasar. "Jadi benar kan, ada yang kamu sembunyikan dariku?" ia tersenyum kecewa. Ia pikir, sepasang kekasih akan selalu terbuka dan tidak ada yang harus dirahasiakan.
"Aku minta maaf. Aku nggak mau kamu ikut campur. Tapi ... kenapa kamu ada di sini? kamu mengikutiku?" tanya Hansa.
"Aku curiga kamu menyembunyikan sesuatu yang berhubungan dengan Julian dariku. Jadi aku mengikutimu." Jawab Kiara sejujurnya.
"Kamu tau ini bahaya untukmu. Makanya aku nggak mau kamu tau. Aku nggak mau kamu ikut campur dengan sesuatu yang dapat membahayakanmu." Jelas Hansa. Kiara menolak mendengarkan penjelasannya. Ia hendak berlalu dari sana. Tapi langkahnya terhenti. Ia merasa matanya berkunang-kunang dan pandangannya terputar. Perlahan, penglihatannya memudar bersamaan dengan tubuhnya yang ambruk dan jatuh ke pelukan Hansa.
"Kiara, kamu kenapa?" Hansa mengangkat tubuh Kiara dan membawa gadis itu kembali dengan panik.
Hansa membaringkan tubuh Kiara di ranjang sesampainya di kamar gadis itu. Tangannya membelai lembut rambut Kiara. Ia tak henti-hentinya mengecup tangan gadis itu sembari menunggunya sadar.
__ADS_1
"Aku minta maaf. Aku yang salah. Aku janji nggak akan menyembunyikan apa pun darimu lagi." Ucapnya sembari terus menatap Kiara dengan matanya yang perlahan tertutup dan tertidur di tangan gadis itu.